Pangan Alternatif, Warga Lamsel Kembangkan Pohon Sukun

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penanaman pohon sebagai salah satu pendukung konservasi di Lampung Selatan (Lamsel) terus dikembangkan. Sejumlah pohon yang ditanam merupakan jenis pohon untuk kebutuhan pangan.

Waljinah, salah satu warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lamsel menyebut, pohon penghasil bahan makanan kerap menjadi pilihan untuk ditanam. Warga seperti dirinya menanam pohon nangka, keluwih, jengkol, petai, durian, pisang serta berbagai jenis tanaman lain termasuk sukun.

Tanaman sukun yang dikenal dengan nama ilmiah Artocarpus altilis menurut Waljinah kerap ditanam di pekarangan rumah. Selain di pekarangan rumah di sejumlah kebun tanaman tersebut dikembangkan warga sebagai cadangan bahan makanan dan investasi.

Sejumlah warga yang kreatif bahkan menjadikan sukun sebagai bahan makanan dengan digoreng, dibuat menjadi keripik, bolu atau sekadar direbus dan dimakan bersama parutan kelapa. Manfaat pohon sukun disebutnya sekaligus sebagai pohon peneduh.

Proses perbanyakan tanaman sukun disebut Waljinah cukup mudah dengan mencari anakan yang keluar dari perakaran yang sengaja dilukai untuk merangsang tunas. Bibit alami yang dipencarkan membuat tanaman sukun banyak ditanam oleh warga. Sekaligus sebagai pengganti nasi saat kesulitan bahan makanan.

Saat musim kemarau melanda ditambah serangan hama penyakit pada padi, pasokan beras minim dan harga mahal, sukun ikut membantunya menghemat ekonomi keluarga.

“Buah sukun kerap diolah menjadi bahan makanan dan manfaatnya sangat terasa sekali. Ketika kami pernah mengalami kesulitan bahan makanan, beruntung suami membawa bibit dari Pulau Jawa dan dikembangkan di Sumatera. Warga banyak meminta bibit untuk diperbanyak,” terang Waljinah, salah satu warga penanam pohon sukun saat ditemui Cendana News, Sabtu (17/11/2018).

Awalnya, warga mengira tanaman sukun merupakan keluwih, namun setelah ia mengolah dengan cara menggoreng, warga lain bisa mengetahui perbedaan keluwih dan sukun. Saat awal ditanam, sukun jenis hibrida tersebut memiliki ketinggian empat meter dan sudah berbuah.

Kini setelah usia hampir sepuluh tahun sejumlah pohon sukun bahkan mencapai ketinggian hingga belasan meter. Berbuah sepanjang tahun membuat buah sukun bisa dipetik untuk memenuhi pasokan pedagang kuliner.

Permintaan cukup tinggi akan sukun disebut Waljinah berasal dari pengepul komoditas pertanian. Pengepul komoditas pertanian untuk dikirim ke Banten dan Jakarta, kerap memasok sukun untuk pembuatan keripik dan pedagang gorengan.

Kebutuhan akan Sukun disebut Waljinah menyesuaikan dengan buah yang sudah cukup tua ditandai dengan kulit yang sudah berwarna hijau tua. Pengepul kerap memilih buah sukun yang tua untuk dibeli dengan harga Rp2.000 per butir di tingkat petani.

Menghasilkan buah saat panen berjumlah 50 per batang dan bisa menghasilkan 100 buah untuk lima batang, Waljinah mengaku, bisa mendapatkan Rp200 ribu per bulan. Buah yang masih muda akan ditinggalkan dan bisa dipanen pada bulan berikutnya secara berkelanjutan.

Meski kerap dijual, sebagai bahan makanan tradisional saat ada acara keluarga, ia kerap mengolah sukun dengan cara direbus atau digoreng. Tambahan bumbu penyedap rasa membuat sukun memiliki rasa renyah saat digoreng sebagai kuliner tradisional khas pedesaan.

“Sejumlah perajin keripik sukun juga kerap datang dan membeli sukun tua untuk dijadikan keripik,” beber Waljinah.

Marsinah, salah satu warga Bakauheni mengolah sukun dengan cara dikukus – Foto Henk Widi

Warga di Bakauheni bernama Marsinah, memanfaatkan sukun yang dibelinya dari pasar tradisional.

Ia menyebut, sukun yang memiliki rasa seperti roti atau dikenal dengan buah roti dibeli seharga Rp4.000 per butir.

Ia kerap mengolah sukun dengan cara dikukus setelah terlebih dahulu dikupas bagian kulit yang bergetah. Proses pengukusan dalam waktu singkat membuat sukun matang dan bisa dimanfaatkan sebagai camilan dengan dicocol menggunakan gula merah, bahkan sambal sesuai selera.

“Sukun sengaja saya beli untuk dijual bersama dengan gorengan lain berupa ubi jalar, pisang, tempe dan bakwan,” beber Marsinah.

Ia menyebut, sukun menjadi salah satu alternatif bahan pangan bagi yang kreatif mengolahnya. Beberapa warga yang kreatif disebutnya bahkan menjadikan sukun sebagai bahan baku campuran untuk membuat bolu kukus.

Bahan makanan tersebut menurut Marsinah juga terbilang murah dan mudah diperoleh karena sudah banyak warga yang menanamnya.

Pemanfaatan pohon sukun sebagai tanaman pangan juga didukung oleh pemerhati lingkungan sekaligus pemilik usaha persemaian bibit, Komarudin. Warga Desa Rawi Kecamatan Penengahan tersebut mengaku, penanaman sukun memiliki fungsi ganda sebagai tanaman pangan, tanaman konservasi sekaligus investasi.

Ia bahkan menganjurkan warga yang memiliki lahan kritis untuk bisa ditanami dengan sukun sebagai tanaman penahan longsor.

Manfaat tanaman sukun diakuinya sama dengan tanaman penyedia bahan pangan lain di wilayah Lamsel. Ditanam dengan sistem multy purpose tree system (MPTS) tanaman sukun tidak membutuhkan perawatan khusus.

Ditanam bersama tanaman jenis lain di antaranya jengkol, petai, pisang, matoa, mendorong warga memiliki penghasilan saat pohon berbuah.

Lihat juga...