Warga Terdampak Likuefaksi, Gigih Temukan Barang Berharga

Editor: Makmun Hidayat

PALU — Sejumlah warga yang selamat dari fenomena alam likuefaksi di Kelurahan Petobo, Palu Selatan masih bertahan di lokasi pengungsian Kawatuna yang disediakan oleh pemerintah.

Said (40) warga Petobo menyebut dirinya masih berusaha mencari puing-puing rumah yang bisa dipergunakan sebagai hunian sementara (huntara). Meski rumahnya terseret fenomena tanah bergerak, namun ia mengaku semua anggota keluarganya selamat.

Said, salah satu warga Petobo membawa seng atap rumah menggunakan motor untuk digunakan di pengungsian – Foto: Henk Widi

Proses mencari barang-barang milik keluarga disebut Said masih bisa dilakukan oleh warga seperti dirinya yang rumahnya masih bisa ditemukan. Namun sejumlah rumah warga lain di Kelurahan Petobo tidak bisa ditemukan termasuk sejumlah penghuninya hingga kini menjelang berakhirnya masa tanggap darurat bencana gempa hingga tanggal 26 Oktober mendatang. Perumahan yang hancur dan tertimbun lumpur basah empat pekan pascagempa mulai mengering.

“Saya masih berusaha mencari sejumlah barang berharga seperti sertifikat tanah, surat kendaraan yang masih bisa diselamatkan dan peralatan rumah agar bisa digunakan selama di lokasi pengungsian,” terang Said salah satu warga Petobo, Kamis (25/10/2018).

Said menyebut rumah permanen miliknya yang berada di Kelurahan Petobo terseret likuefaksi bersama ratusan rumah milik warga lain sekitar 500 meter dari lokasi awal. Sejumlah barang-barang lain bahkan sudah tidak bisa ditemukan karena tertimbun lumpur.

Said bahkan terpaksa harus melakukan proses menggali pada bagian rumah yang tertimbun lumpur dengan harapan masih bisa menemukan benda-benda berharga yang dimiliki, sementara anggota keluarga mengungsi di Kawatuna.

Salman (42) salah satu warga di luar perumahan Petobo yang selamat mengaku diminta oleh pemilik rumah untuk mencari surat berharga milik salah satu warga. Sejak sepekan terakhir bersama dua anaknya ia masuk ke dalam reruntuhan bangunan milik Teguh Santosa yang merupakan pegawai di Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah. Sejumlah surat berharga diakuinya sudah ditemukan seperti ijazah, sertifikat, uang tunai serta barang berharga lain.

“Pemilik rumah semuanya selamat dan ia meminta saya untuk mencari sejumlah barang penting yang masih bisa diselamatkan,” beber Salman.

Warga mencari surat-surat berharga di reruntuhan rumah yang terdampak likuefaksi di perumahan Petobo – Foto: Henk Widi

Salman mengaku harus berburu dengan waktu sebelum lokasi tersebut tidak boleh dimasuki meski sejumlah korban tertimbun dipastikan masih ada berdasarkan laporan sejumlah keluarga yang tidak menemukan anggota keluarganya.

Selain Salman sejumlah warga yang sebagian ibu rumah tangga yang selamat sengaja mendatangi rumah yang terbawa oleh fenomena likuefaksi untuk mengambil baju yang masih bisa dipakai. Sejumlah warga yang sudah menemukan barang, diselamatkan dan diangkut ke lokasi pengungsian menggunakan kendaraan.

Masa tanggap darurat gempa dan tsunami Palu tahap kedua oleh pemerintah diberlakukan hingga 26 Oktober 2018. Sejumlah pengungsi dari pantauan Cendana News masih menempati sejumlah tenda yang didirikan sementara oleh pemerintah termasuk pelayanan medis, perbaikan infrastruktur serta normalisasi kehidupan masyarakat.

Sejumlah bantuan dari luar negeri diantaranya Amerika Serikat melalui USAID, terlihat saat pembuatan hunian sementara di sekitar Pantai Donggala serta tenda-tenda oleh pemerintah Australia untuk pengungsi di Petobo.

Sesuai data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (20/10/2018) dampak bencana gempa bumi dan tsunami Sulawesi Tengah telah membuat sebanyak 2.113 orang meninggal dunia. Sebanyak 1.309 orang dinyatakan hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia diantaranya di kota Palu sebanyak 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi sebanyak 223 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu sebanyak 1 orang.

Lihat juga...