TMII Tercipta Berkat Ide Cemerlang Ibu Tien Soeharto

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Mantan Manager Administrasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yatto HS, mengatakan, pada prinsipnya, segala sesuatu tercipta, pasti lahir dari ide dan gagasan.

Mantan Manager Administrasi TMII, Yatto HS pada talkshow bertajuk “Ibu Tien dan Pemikirannya Tentang Museum di TMII, di Bay Al Qur’an dan Museum Istiqlal TMII, Jakarta, Minggu (28/10/2018). foto : Sri Sugiarti

TMII, juga dibangun dari ide dan gagasan cemerlang Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. “TMII ini, didirikan atas ide dan gagasan cemerlang Ibu Tien, yang jauh berpikir kedepan, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai pelestarian seni budaya daerah,” kata Yatto kepada Cendana News, Senin (29/10/2018).

Ide itu muncul, diilhami dari kegiatan pada saat mendampingi Presiden Soeharto, dalam acara kenegaraan, berkunjung ke negara-negara sahabat. Seperti Amerika Serikat (AS) yang memiliki Disneyland, yaitu taman rekreasi di Anaheim, California. Begitu pula saat berkunjung ke Thailand dan Belanda, dan melihat keindahan wahana pelestarian budaya di negara tersebut. Hal itulah yang mengilhami Ibu Tien untuk mendirikan tempat rekreasi, yang mampu menggambarkan kebesaran dan keindahan Indonesia dalam bentuk miniatur.

Tujuannya, untuk menyediakan wahana bagi masyarakat, agar mengenal dan mencintai tanah air. Setelah mencintai, diharapkan bisa menjaga persatuan dan kesatuan, dengan penampilan keanekaragaman adat istiadat, budaya, kekayaan alam. “Ibu Tien miliki ide cemerlang, sebagai penggagas dan pemrakarsa TMII. Beliau melihat jauh kedepan, akan pentingnya menciptakan miniatur yang bisa memuat kelengkapan Indonesia dengan segala isi kekayaan alam, kebudayaan,” ungkap Yatto.

Ide cemerlang Ibu Tien direstui Pak Harto. Hal itu, juga mendapat dukungan dari pemerintahan daerah, masyarakat luas, pengusaha. Dan yang tak kalah penting, dukungan dari Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin.

Namun demikia, tidak sedikit masyarakat, utamanya mahasiswa, mengkritik ide tersebut. Mereka tidak setuju dengan rencana pembangunan TMII, karena menganggap, situasi saat itu, di era 1970-an, kondisi ekonomi Indonesia sangat susah. Dan TMII, digambarkan membutuhkan biaya yang cukup besar.

Meskipun didemo, semangat Ibu Tien tidak padam dalam upaya melestarikan budaya  bangsa.” Kepada yang mendukung, Ibu Tien mengucapkan terima kasih. Begitu pula kepada yang tak sependapat, Beliau tetap ikhlas dan berterima kasih. Karena dengan demikian, Ibu Tien akan menjalankan proyek pembangunan TMII ini dengan lebih hati-hati,” tandas Yatto.

Jauh sebelum gagasan membangun TMII terlontarkan, Ibu Tien telah mendirikan Yayasan Harapan Kita (YHK) pada 23 Agustus 1968. Yayasan ini adalah wadah pengelolaan TMII. Untuk membangun TMII, YHK membentuk Badan Pelaksana Persiapan Pembangunan Pengusahaaan Proyek (BP5) Miniatur Indonesia Indah.

YHK maupun BP5, menunjuk seorang direktur proyek, Ali Sadikin, untuk mengawasi semua proyek pembangunan yang dilakukam. “Setelah ada BP5, juga sudah disediakan master plan oleh Nusa Konsultan, yang dipimpin Insinyur Arya Sutedja. Ini sudah lengkap,” kata Yatto, yang menjadi saksi hidup pembangunan TMII.

Tiga bulan sebelum peresmian TMII, Yatto, ikut memantau pembangunan di lapangan. Kala itu, keadaan proyek berantakan, dan rata-rata anjungan dibangun selama tiga tahun. Yang paling berat adalah provinsi Sumatera Utara, karena memerlukan kayu yang langsung didatangkan dari daerahnya.  “Jadi pembangunan anjungan itu rata-rata tiga tahun, ada 26 provinsi yang ditampilkan di TMII. Tapi ada yang paling cepat hanya dibangun selama 40 hari, yaitu Anjungan Jawa Timur,” ujar karyawan senior di TMII tersebut.

Pemerintah Jawa Timur, terlebih dulu mempersiapkan semua komponen berbahan kayu di daerahnya. Kemudian komponen tersebut di bawa dengan  menggunakan 100 truk ke TMII, untuk proses pembangunan anjungan. Namun demikian, yang paling lama pembangunannya adalah Museum Indonesia. Pembangunan dilakukan selamat empat tahun, dari 1976 hingga 1980.

Museum atas gagasan Ibu Tien itu, dituangkan dalam bentuk bangunan bergaya Bali, yang berdiri tiga lantai. Melalui filosofi Tri Hita Kirana, yakni tiga sumber kebahagiaan manusia. Yaitu, hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Adapun arsitekturnya, adalah Ida Bagus Gutur. Dalam perkembangannya, dibangun pula Anjungan Timor-Timur dan tempat ibadah, serta sarana pendukung lainnya. Kini telah hadir 20 museum di TMII, dan satu lagi akan segera diresmikan yaitu Museum Batik Indonesia, yang lokasinya berdampingan dengan Museum Pusaka TMII. “Seperti yang Ibu Tien katakan, TMII ini menjadi proyek tumbuh. Jadi 20 museum atas ide cemerlang Ibu Tien, adalah proyek tumbuh dan berkembangnya TMII dalam pelestarian budaya bangsa,” tandasnya.

Adapun pembelajaran yang perlu dipetik dari Ibu Tien, adalah selalu berhati mulia. Terbukti saat peresmian TMII pada 1975, Beliau selaku Ketua Umum YHK langsung menyerahkan TMII yang memiliki luas 120 hektare, kepada negara. TMII menjadi aset bangsa dan negara Indonesia, karena TMII merupakan proyek tumbuh, yang harus terus dikembangkan. Pemerintah mempercayakan pengelolaan TMII kepada YHK. “Jadi sejak 20 April 1975, TMII sudah milik negara, hanya pengelolaannya yang diberikan kepercayaan pada YHK,” jelas Yatto.

Di Jakarta Pusat ada Monumen Nasional (Monas) dan Taman Ria Senayan, di Jakarta Selatan ada Ragunan, di Jakarta Utara ada Ancol, di Jakarta Barat ada situs sejarah, dan Jakarta Timur belum ada. Menurut rencana, Ali Sadikin ingin membuat taman dan rencana tersebut sudah matang serta disetujui DPRD DKI Jakarta. Dengan menilik tanah seluas 19 hektare di kawasan Cempaka Putih.

Oleh karena itu, begitu Ibu Tien punya gagasan membangun TMII, untuk menggambarkan keindahan Indonesia, Ali Sadikin mendukung penuh ide cemerlang Ibu Tien. Kawasan Cipayung, Jakarta Timur  dipilih untuk pembangunan miniatur Indonesia bernama TMII. Dengan lahan seluas 120 hektare. Kemudian tahun 1987 berkembang pembangunannya menjadi 150 hektare.

TMII merupakan taman rekreasi, yang menampilkan keanekaragaman budaya Indonesia dari Aceh hingga Papua. TMII juga menjadi sarana rekreasi sejarah dan pendidikan, karena terdapat 20 museum. Secara administratif, TMII berada di dalam wilayah tiga kelurahan. Mayoritas kawasan TMII ada di wilayah Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung. Sisi ujung timurnya masuk ke wilayah Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung. Sedangkan di sisi bagian barat laut, masuk ke wilayah Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar. Kesemuanya berada di dalam wilayah Jakarta Timur.

Lihat juga...