Titiek Soeharto Beri Semangat Korban Bencana di Petobo

Editor: Koko Triarko

PALU – Masyarakat di lokasi pengungsian Desa Petobo, Kota Palu, Sulawesi Selatan, menyambut antusias kedatangan rombongan kemanusiaan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) Siti Hartinah Soeharto, Kamis (25/10/2018).
Puluhan anak-anak yang turut serta menyambut rombongan yang dipimpin oleh Siti Hediati Haryadi (Titiek Soeharto) itu, bahkan menyanyikan yel-yel. Titiek Soeharto yang datang ke lokasi, pun langsung memberi semangat kepada anak-anak usia sekolah, agar segera bangkit pascagempa dan tsunami disertai likuifaksi.
Kepada para korban likuifaksi, putri Presiden Soeharto tersebut, mengatakan telah melihat langsung kondisi Kelurahan Petobo yang bergeser dari lokasi semula, akibat fenomena likuifaksi.
“Kehadiran kami melalui Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, sesuai dengan misi yang didirikan oleh Ibu Tien Soeharto, membantu korban bencana alam, termasuk untuk korban bencana alam gempa di Sulawesi Tengah,” terang Titiek Soeharto, saat berbincang dengan pengungsi di Petobo, Kamis (25/10/2018).
Putri Cendana tersebut menjelaskan, bantuan dari YDGRK Siti Hartinah Soeharto diperuntukkan bagi pemulihan kondisi para korban, yang tinggal di tenda pengungsian, yang sangat membutuhkan obat-obatan, perlengkapan bayi dan anak-anak. Kepada para korban bencana, Titiek Soeharto juga memberikan motivasi, agar tidak berlarut dalam kesedihan, dan segera bangkit demi anak-anaknya.
Titiek Soeharto tampak serius mendengar kisah Ibu Hajo (kanan), korban selamat fenomena likuifaksi di Kelurahan Petobo [Foto: Henk Widi]
Bantuan dari YDGRK Siti Hartinah Soeharto, didukung pula oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Berkarya, dan sejumlah yayasan yang didirikan oleh HM Soeharto, di antaranya Damandiri, Dharmais serta DAKAB.
Titiek Soeharto yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya mengatakan, pihaknya akan terus memantau kebutuhan pengungsi melalui relawan, di antaranya Rescue Benteng Berkarya. Sejumlah tenaga medis bahkan dikerahkan ke lokasi pengungsian untuk melakukan pemeriksaan medis warga yang luka-luka.
Selain memberi motivasi, Titiek Soeharto juga memberikan bantuan secara simbolis kepada korban selamat bencana di Desa Petobo, yakni Hajo, yang sudah berusia sekitar 73 tahun dan warga lain yang sudah lanjut usia.
Titiek Soeharto memberi semangat kepada janda yang selamat tersebut, sembari mendengarkan kisah detik-detik Hajo melihat tanah bergerak, termasuk pohon yang terbawa tanah bergerak. “Kisah Ibu Hajo yang selamat akan menjadi sebuah pengalaman, bahkan bisa difilmkan, karena ia rajin berdzikir dan berserah pada Sang Pencipta,” kata Titiek Soeharto.
Putri Cendana ini juga menyebut, saat kejadian gempa disertai likuifaksi, Hajo bahkan dalam kondisi tidak sempurna, namun justru menjadi wanita yang khusuk dalam beribadah. Pengalaman tersebut menginspirasi semua orang, bahwa saat Tuhan belum menghendaki, seseorang dalam kondisi bencana dahsyat bisa selamat.
Sebagaimana pada setiap kunjungan di lain daerah, di sela kegiatan di lokasi pengungsian Desa Petobo, Titiek Soeharto menyempatkan diri melayani warga yang antusias ingin berfoto bersama dengannya.
Warga di pengungsian antusias mengajak Titiek Soeharto berfoto bersama [Foto: Henk Widi]
Abdulah Labase, salah satu guru tata usaha di SMPN 2 Palu, yang mengajak serta siswa untuk bertemu Titiek Soeharto, menyebutkan, dari total sekitar 290 siswa di sekolahnya, empat orang di antaranya meninggal dunia, dan beberapa di antaranya masih belum ditemukan. Sekolah yang ikut rusak membuat siswa baru bisa kembali melakukan aktivitas, meski menggunakan tenda darurat di lapangan.
Abdulah Labase mengaku senang, rombongan Titiek Soeharto memberi motivasi, sekaligus memberi bantuan alat tulis kepada para siswa, yang sebagian telah kehilangan rumah. Juga kehilangan semua peralatan sekolah, dan seragam sekolah, sehingga bantuan sangat diperlukan.
Lihat juga...