Stevia, Tanaman Pemanis Calon Produk Unggulan Agroindustri
Editor: Mahadeva WS
JAKARTA – Jika menyebut gula, biasanya yang terbayang adalah tebu dan aren. Hal ini sangat dimaklumi, mengingat masyarakat memang mengenal kedua tanaman ini sebagai bahan baku pembuatan gula.
Tetapi belakangan ini, muncul lagi sumber penghasil gula, yaitu Stevia, tanaman perdu dari Amerika Selatan. Di Paraguay, suku Indian Guarani, sudah menggunakan stevia sebagai pemanis, sejak ratusan tahun yang lalu. Memiliki varietas hingga 200 jenis, hanya Stevia rebaudiana yang digunakan sebagai pemanis.
Semenjak dibawa oleh Ir. Siti Hutami Endang Adiningsih atau yang biasa dikenal dengan nama Mamiek Soeharto ke Indonesia, Taman Buah Mekarsari mulai membudidayakan tanaman tersebut. “Hingga saat ini, Mekarsari sudah berhasil mengembangbiakan hingga mencapai 100 pot. Memang butuh penyesuaian iklim tapi cukup berhasil untuk dibudidayakan di Mekarsari,” kata Staf Agro Taman Buah Mekarsari, Sodikin, Sabtu (20/10/2018).
Stevia dapat tumbuh baik pada ketinggian 500 hingga 1.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Di dataran rendah, stevia akan cepat berbunga, tetapi akan mudah mati jika terlalu sering dipanen. Jenis daun dari tanaman tersebut, berbentuk ramping memanjang, dengan tangkai kecil.
Daunnya hampir menyerupai daun mint namun cderung tebal. Batangnya kecil ramping dan berbulu. Sementara sistem akarnya ada yang halus dekat dengan permukaan tanah dan perakaran tebal, rapat dan kasar yang tumbuh menembus ke dalam tanah. “Stevia tumbuh seperti semak di habitat aslinya,” tambahnya.
Dari penelitian yang dilakukan, stevia memiliki keunggulan dibandingkan tanaman penghasil gula lainnya. Tingkat kemanisan yang mencapai 200-300 kali kemanisan tebu, namun gula bahan baku stevia, rendah kalori dan bersifat non-karsinogenik. Zat pemanis di dalam stevia yaitu steviosida dan reabudiosida, yang tidak dapat difermentasikan oleh bakteri di dalam mulut menjadi asam, sehingga tidak akan menimbulkan plak gigi.
“Daunnya bisa dimakan langsung dan berasa manis. Inilah yang membuat stevia sekarang menjadi salah satu tanaman yang diolah untuk menjadi pemanis alami. Caranya hanya tinggal dikeringkan, sehingga kandungan gulanya tinggal dan dapat digunakan sebagai pemanis pengganti gula yang biasa. Gampang sekali, jadi bisa dikerjakan mandiri,” tandas Sodikin.
Stevia juga dapat diolah menjadi berbentuk cair, dengan cara merendam daun stevia, dengan komposisi daun dan air 1:4, selama 24 jam. Pengembangbiakan stevia tidak sulit. Hanya tinggal mematahkan salah satu batangnya, dan ditancapkan di tanah, Dia bisa tumbuh sendiri. Ini akan memudahkan masyarakat yang ingin menanam tanaman ini di rumah.
Perkembangannya juga dipengaruhi oleh panjang hari di habitat aslinya. Jika panjang hari mencapai diatas 12 jam, maka tanaman ini akan cepat berbunga dan berbuah. Tapi jika kurang dari itu, baru akan berbunga pada umur 60 hari setelah masa tanam.
Tanaman stevia membutuhkan kelembapan tanah yang tinggi, dan memiliki toleransi yang tinggi pada tanah yang basah. Di daerah tropis, stevia dapat ditanam sepanjang tahun. “Dengan melihat berbagai keunggulannya dan mudahnya tanaman ini berkembangbiak, stevia memiliki potensi untuk menjadi komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri,” tandas Sodikun.