Sole Oha, Kesatuan Gerak Tari dan Pantun Etnis Lamaholot
Editor: Mahadeva WS
LARANTUKA – Puluhan perempuan menggunakan kain tenun Kwatek sebatas dada, sementara kaum lelaki menggunakan kain tenun Now’in, saling berpegangan tangan membentuk lingkaran. Mereka menggerakan kaki seirama, maju mundur dan berputar ke kiri dan ke kanan, di tengah tanah lapang Desa Bantala, Kecamatan Lewolema.
Sambil mengenakan Kenobo yaitu sebuah ikat kepala, yang juga semacam mahkota, yang terbuat dari daun lontar dan bulu ayam berwarna putih, para penari terlihat bersemangat menghentakan kaki ke tanah. “Mereka sedang menari Sole Oha, semacam tarian Dolo-Dolo, yang merupakan tari tradisional etnis Lamaholot. Tari ini asalnya dari pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur,” sebut Ape Maran, warga Lewolema, Minggu (21/10/2018).
Di dalam setiap pesta adat dan pentas budaya, tari ini biasa dimainkan sebagai lambang persaudaraan, kebersamaan dan saling menghargai satu sama lain, dalam satu rumpun komunitas adat maupun Lewo atau kampung. “Biasanya dalam pesta adat, tarian ini dilaksanakan dari malam hingga pagi hari, dan lebih banyak ditarikan oleh orang-orang tua, sebab selalu diselingi dengan berbalas pantun,” tambahnya.

Silvester Hurit, seorang seniman dan budayawan muda Lewolema, Kabupaten Flores Timur menyebut, tari Sole Oha merupakan sebuah kesatuan dari gerak, pantun, syair dan nyanyian. “Sole mengacu kepada permainan pantun berbalas-balasan, sementara Oha lebih kepada mengisahkan tentang sebuah peristiwa perjalanan suku, serta sejarah masa lampau yang dibawakan dalam bahasa adat,” ungkapnya.
Oha biasanya dibawakan oleh orang-orang tua, sebab bahasa yang dibawakan dalam melantunkan syair merupakan bahasa-bahasa kiasan yang jarang dimengerti oleh orang muda. Sole sebagai seni pantun, dipelajari dan dimainkan oleh masyarakat umum. Oha, dituturkan oleh orang-orang khusus, yang biasanya sebelum melantunkan syair, harus menjalani sebuah ritual khusus. Sole merupakan kesenian asli Adonara, dan dipakai dalam pergaulan sehari-hari masyarakat.
Sebagai suatu seni bercakap-cakap atau berkomunikasi, Oha berasal dari daerah Ile Ape Lembata, dimana bahasa adat yang dipergunakan sangat sakral. “Kedua jenis kesenian ini sudah menyatu, terserap secara padu sejak jaman nenek moyang dan disebut dengan nama Sole Oha. Kesenian ini pun telah menyebar di semua komunitas dalam etnis Lamaholot,” pungkasnya.