SIDOSOL, Pendeteksi Limbah Budidaya Ikan Air Tawar
Editor: Satmoko Budi Santoso
MALANG – Kualitas air yang kurang baik dapat menimbulkan penyakit pada ikan sehingga banyak ikan yang tidak layak panen. Hal ini tentunya juga mempengaruhi pasar dan menurunnya harga jual yang berdampak bagi petambak ikan.
Masalah tersebut, coba diatasi tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dengan mengembangkan alat Sistem Deteksi Total Dissolved Solid (SIDOSOL) untuk mendeteksi adanya limbah perairan.
Mereka adalah Bagas Priyo Hadi Wibowo, Royyannuur Kurniawan Endrayanto dan Melynda Dwi Puspita.
Bagas menjelaskan, SIDOSOL merupakan perangkat deteksi limbah perairan terintegrasi Total Dissolved Solid Sensor (TDS sensor) berbasis open source IoT platform, sebagai upaya preventif untuk mencegah kerugian dalam usaha budidaya perikanan.
Menurutnya, ikan air tawar tidak mampu hidup tanpa adanya kondisi lingkungan tertentu, sehingga dibutuhkan parameter-parameter lingkungan khusus agar ikan bisa bertahan hidup.
“Selama ini pada umumnya pembudidaya ikan air tawar hanya melakukan pengamatan berdasarkan kondisi air secara fisik dan pengecekan secara berkala sehingga membuat pemantauan kualitas air menjadi kurang intensif. Padahal kualitas air sewaktu-waktu dapat berubah secara drastis,” jelasnya, Senin (15/10/2018).
Oleh karena itu pada perangkat SIDOSOL digunakan dua paremeter utama, yakni TDS atau sensor utama untuk mengetahui padatan zat terlarut di dalam air dan juga sensor suhu. Dari dua parameter inilah kemudian bisa diketahui kondisi ideal dari kolam ikan tersebut.
Disampaikan Bagas, melalui sistem deteksi TDS dan suhu dapat menekan tingkat risiko kerugian usaha budidaya perikanan. TDS sendiri merupakan salah satu parameter pengukuran terhadap jumlah padatan terlarut yang mempengaruhi ikan untuk hidup.
Indikator suhu dapat menunjukkan tingkat kelulushidupan ikan. Dengan adanya sistem deteksi TDS dan suhu, maka dapat menjadi langkah preventif kerugian bagi pelaku budidaya perikanan.
Lebih lanjut, menurut Bagas, kelebihan dari SIDOSOL yakni bisa mendeteksi atau mengetahui kondisi kolam secara real time sebab sudah terintegrasi dengan internet.
“Untuk penampilan data secara real time, dalam arti setiap detik datanya akan ter-up date terus selama terkoneksi dengan internet. Sedangkan data base yang kita gunakan adalah thinger.io yang merupakan open source platform sehingga bisa bebas digunakan dan mampu menyimpan banyak data,” terangnya.
Jadi melalui SIDOSOL, pembudidaya ikan tidak perlu lagi datang ke kolam. Tapi dia sudah tahu kondisi kolam per detik seperti apa.
Selain itu, SIDOSOL mudah dioperasikan, mudah dipindah serta tidak membutuhkan banyak ruang.
“Jadi alat ini bisa dihidupkan dengan menggunakan power bank, kemudian sensor tinggal dimasukkan ke dalam air kolam,” ungkapnya.
Pengembangan selanjutnya akan ditambahkan panel surya sebagai sumberdaya untuk menghidupkan alat serta penambahan sensor pH dan upgrading sensor.
Berkat inovasi SIDOSOL, tiga mahasiswa UB tersebut berhasil menjadi juara dua lomba inovasi teknologi kota Malang tahun 2018 dalam kategori teknologi informasi dan komunikasi.