Kemarau Panjang, Musim Tanam Padi Berubah, Sulitkan Petani
Editor: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Kemarau panjang yang terjadi pada tahun ini berakibat pada pergeseran musim tanam padi di kalangan petani. Hujan yang biasanya mulai turun pada bulan Agustus-September, hingga akhir bulan Oktober ini diketahui belum juga turun.
Meski musim tanam padi yang biasanya ditandai dengan turunnya hujan belum tiba, namun para petani di kawasan Pandak, Bantul, tetap menanam padi di akhir bulan Oktober ini. Padahal dengan lokasi sawah yang berada jauh dari sumber air irigasi, mereka sangat bergantung pada turunnya hujan.
“Memang sebenarnya belum saatnya musim tanam. Karena kiriman hujan belum ada sama sekali. Tapi kita tetap mulai menamam karena kita butuh padi dan nasi. Bagaimanapun kita upayakan agar sawah tetap terairi, sambil menunggu kiriman hujan,” ujar salah seorang petani, Mardiman warga Nglarang, Gedongsari, Wijirejo, Pandak, Bantul, Rabu (24/10/2018).
Mardiman menyebut, mundurnya musim penghujan hingga 2 bulan lebih jelas sangat menyulitkan petani. Terlebih bagi petani yang lokasinya jauh dari sumber air irigasi, sehingga selalu tak kebagian jatah air untuk pengairan lahan pertanian.
“Bulak Gedongsari ini berada di bagian ujung saluran irigasi Sungai Bedog. Sehingga sebelum sampai ke sawah-sawah petani, air irigasi sudah dulu habis. Jadi petani di sini tidak kebagian jatah air,” keluhnya.
Menanam padi sejak 1 bulan lalu, sejumlah petani di kawasan bulak Gedongsari ini pun terpaksa mengairi lahan pertanian mereka dengan memanfaatkan sumber air dari sumur bor. Meski jelas menambah biaya pengeluaran, mereka mengaku tetap melakukannya sambil berharap hujan kiriman segera tiba.
“Kalau kita tidak tanam ya mau makan apa. Maka kita tetap tanam. Walaupun banyak yang mati karena tidak dapat air. Satu-satunya cara merawat padi agar tidak mati, sebelum hujan kiriman tiba, ya harus dialiri pakai disel. Itu bagi petani yang mampu,” ujarnya.
Mardiman sendiri mengaku, mengeluhkan biaya minimal Rp40 ribu setiap kali memompa air memakai mesin disel. Padahal di usia kurang dari 40 hari, tanaman padi membutuhkan banyak pengairan. Sehingga ia pun harus mengairi lahan pertanian seminggu hingga 3 kali.
“Saya tanam bibit Situbagendit yang lebih tahan walau tidak dapat banyak air. Tapi tetap pakai disel seminggu mimim 3 kali. Karena untuk ngaru (membersihkan gulma) harus ada air. Kalau tidak susah. Nanti seletah umur 40 hari, baru pengairan dilakukan seminggu sekali,” katanya.
Meski telah mengeluarkan banyak biaya untuk mengairi lahan pertaniannya, belum tentu petani seperti Mardiman akan mendapatkan hasil panen seperti yang diinginkan. Pasalnya, jika nanti hujan turun, lahan persawahan miliknya biasanya akan selalu terendam air cukup tinggi sehingga dapat menurunkan hasil panen.
“Lahan di sini serba susah. Kalau kemarau tidak kebagian air. Tapi kalau musim hujan selalu kebanjiran. Yang rugi adalah para buruh tani, karena sudah keluarkan banyak biaya, tapi hasilnya masih harus dibagi dengan pemilik tanah. Tapi kalau gagal panen kerugian ditanggung sendiri,” ujarnya.
Meski begitu, para petani di kawasan ini mengaku tak bisa berbuat banyak dan hanya pasrah pada sang pengatur alam semesta. Secara turun-temurun para petani di sini menyadari munculnya kemarau panjang seperti ini pasti terjadi pada waktu tertentu.
“Biasanya, setiap 8 atau 12 tahun selali memang selalu ada kemarau panjang. Musim tanam jadi berubah dan mundur. Ini hal biasa karena merupakan kehendak alam. Jadi tetap harus disyukuri,” pungkasnya.