Kearifan Lokal Desa, Cara Pertahankan Sumber Daya Air

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Peneliti Hidrologi dari Fakultas Geografi UGM, Prof. Dr. Sudarmadji menyebut, kasus kelangkaan air yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia disebabkan karena sejumlah faktor seperti pertambahan jumlah penduduk,  konversi lahan yang menyebabkan jumlah air tanah mengalami penurunan, hingga aktivitas manusia dalam bidang pertanian, industri dan pariwisata.

Namun demikian, persoalan manajemen sumber daya air juga disebabkan faktor alam seperti perubahan iklim global yang menyebabkan durasi musim hujan dan kekeringan yang tidak menentu. Kondisi perubahan iklim menyebabkan perubahan pada sumber daya air.

Hal itu diungkapkan dalam konferensi internasional yang bertajuk manajemen sumber daya lingkungan di tingkat global yang berlangsung di University Club, UGM, belum lama ini. Dalam konferensi yang diikuti ratusan tim peneliti dari dalam dan luar negeri ini, ia membagi tiga persoalan sumber daya air.

“Persoalan kelangkaan air terbagi menjadi tiga. Yakni kelangkaan air apabila jumlahnya terlalu sedikit, terlalu banyak air yang menyebabkan bencana banjir, atau kondisi air yang sangat kotor akibat pembuangan sampah atau limbah secara sembarangan,” katanya.

Meski penduduk dunia dihadapkan pada persoalan kelangkaan air bersih, kekeringan dan bencana banjir, namun strategi dalam mengelola sumber daya air menurutnya sangat penting. Salah satunya kearifan lokal masyarakat di daerah pedesaan yang masih menjaga sumber mata air.

“Di pedesaan masih banyak yang menjaga mata air bahkan ada yang menjadikan mata air sebagai tempat yang dikeramatkan, hal itu merupakan kearifan lokal daerah,” katanya.

Menjaga sumber mata air, dikatakan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan agar air selalu ada dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat untuk aktivitas serta konsumsi.

Sementara itu, peneliti dari National Taiwan Normal University, Taiwan, Prof. Tsung Yu Lee, memaparkan soal perubahan iklim yang menyebabkan perubahan jumlah kadar air hujan yang meningkat sehingga berdampak terjadinya bencana longsor atau angin topan seperti yang terjadi di Taiwan.

Ia mengatakan, dalam dua tahun terakhir telah terjadi peningkatan intensitas kadar curah air hujan hingga mencapai 20 persen dengan jumlah curah hujan rata-rata 3000 mm per tahun.

“Dengan curah hujan 600 mm saja bisa longsor apalagi sampai 3000 mm sering menyebabkan bencana angin topan,” katanya.

Karena itu, ia berpendapat, sudah saatnya negara-negara yang memiliki curah hujan cukup tinggi agar mengembangkan infrastruktur untuk mengelola air hujan sebagai sumber kebutuhan air yang bisa dialiri melalui keran air di setiap rumah-rumah penduduk.

Lihat juga...