Petani Muda Magelang, Hadirkan Benih Kentang G0 Bersertifikat

Editor: Mahadeva WS

MALANG – Kebutuhan kentang berkualitas di Indonesia masih sangat tinggi. Hanya saja, untuk mendapatkan benih kentang berkualitas, masih sulit. Petani saat ini menanam kentang dengan menggunakan benih non kualitas, yang berdampak pada produktivitas rendah.

Hal itu yang mendasari petani muda Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Magelang, Agus Wibowo, menghadirkan benih kentang Generasi Nol (G0) bersertifikat, melalui usahanya Agro Lestari Merbabu.

Jika melihat di luar negeri, seperti Amerika maupun Australia, rata-rata produksi kentang perhektar luas tanam, bisa mencapai 30-40 ton. Sedangkan di Indonesia saat ini masih di angka 20 ton. Dengan jumlah tersebut, belum bisa memenuhi permintaan kentang berkualitas secara nasional. “Dari permasalahan tersebut kami ingin memenuhi petani-petani kentang Indonesia terkait dengan pengadaan bibit kentang berkualitas,” ujar Agus yang menjadi finalis Wirausaha Muda Mandiri di Kota Malang, Senin (17/9/2018).

Sertifikat Kentang G0 dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, Dinas Pertanian dan Perkebunan Magelang – foto Agus Nuchaliq

Agus kini sudah mengantongi lisensi sertifikat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, Dinas Pertanian dan Perkebunan Magelang. Artinya, ketika memproduksi benih dan mengedarkannya, produk yang dimiliki sudah memiliki legalitas. Mulai dari sebelum tanam, waktu tanam, hingga pasca tanam, pasti akan ada pemeriksaan dari dinas pertanian.

Benih yang tidak bagus langsung di keluarkan, sehingga benih yang dijual sudah merupakan benih-benih dengan kualitas yang bagus. Nantinya, ketika petani membeli benih dari Agro Lestari Merbabu, akan ada semacam sertifikat benih, yang di dalamnya akan tertulis nama petani yang menanam siapa dan benih generasi ke berapa.

“Jadi benih yang kita jual itu benih G0 yang belum pernah ditanam di lahan secara umum. Nantinya benih ini bisa di turunkan sampai empat generasi. Sehingga ketika petani, menanam dengan benih dari kami, maka untuk penanaman selanjutnya yang ke dua hingga ke empat sudah bisa menggunakan bibit sendiri, mereka sudah bisa irit bibit, karena mereka sudah bisa produksi bibit sendiri,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakannya, dalam budidaya kentang, bibit yang berkualitas adalah salah satu kunci awal kesuksesan. Jadi ketika petani menanam kentang dengan cara budidaya yang sama, jika benihnya tidak berkualitas baik, maka hasil produktivitasnya juga tidak bisa tinggi. “Kalau petani pakai benih dari kami, satu tanaman bisa menghasilkan produksi satu kilogram. Sedangkan jika memakai benih biasa tanpa sertifikat, hasil produksinya tidak sampai satu kilogram pertanaman,” tandasnya.

Harga per biji kentang jenis granola berkualitas, yang sudah bersertifikat adalah Rp2.000. Harga tersebut, memang lebih mahal daripada harga benih kentang pada umumnya. “Kalau petani yang belum paham dengan benih ini, mereka pasti akan bilang harga benihnya terlalu mahal, padahal dengan benih G0 bersertifikat, petani bisa tanam hingga empat kali tanam. Kita memang berat di awal dulu, tapi kemudian kita bisa mengirit untuk penyediaan benih di musim tanam berikutnya,” ujarnya.

Pemuda yang masih menuntut ilmu di Universitas Sebelas Maret, Surakarta tersebut, juga memberikan bantuan pendanaan, dan edukasi kepada petani-petani kentang. Di tempat tinggal Agus di lereng Merbabu, Magelang, potensi lahan untuk menanam kentang masih luas. Dari sekira 2.000 hektare lahan yang tersedia, hanya sepuluh persen yang digunakan menanam budidaya kentang.

“Ketika saya survey di petani kenapa mereka tidak memilih budidaya kentang, kebanyakan mereka mengatakan terkendala  permodalan. Karena untuk bisa budidaya kentang modalnya tidak sedikit. Dari situ kemudian kami jembatani antara petani dan investor untuk mengatasi masalah permodalan,” pungkasnya.

Lihat juga...