Angin Kencang, Pasokan Ikan Teri Berkurang

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Angin kencang yang melanda perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian Selatan, berimbas pada aktivitas nelayan tangkap dengan bagan congkel. Aktivitas nelayan terganggu cuaca yang tidak bersahabat tersebut.

Zainudin, petugas pusat pendaratan ikan (PPI) dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan memperlihatkan sejumlah kapal bagan yang masih sandar akibat angin kencang [Foto: Henk Widi]
Zainudin, salah satu petugas Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan menyebut, angin kencang yang melanda wilayah perairan Kalianda, membuat nelayan memilih istirahat. Nelayan yang tetap melaut, adadalah pemilik kapal besar dengan bobot di atas 20 Gross Ton (GT).

Hanya saja, meski memaksa melaut, hasil tangkapan ikan juga berkurang. Jika di kondisi normal, nelayan bagan congkel bisa mendapatkan ikan 50 hingga 80 keranjang (cekeng). Saat ini, akibat angin kencang, nelayan hanya bisa mendapat 30 keranjang teri.

Imbasnya, pasokan ikan teri yang kerap mencapai satu ton perhari dari satu kapal bagan congkel, menjadi berkurang. “Nelayan biasanya berhubungan erat dengan produsen teri rebus, karena kapal bagan congkel, modal berasal dari produsen teri, sekaligus hasilnya dijual ke produsen teri, kalau hasil berlebih baru bisa dijual ke produsen teri lain,” terang Zainudin saat ditemui Cendana News, Rabu (19/9/2018).

Sesuai prakiraan cuaca dari laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Lampung, peringatan gelombang tinggi terjadi di wilayah tangkapan nelayan Lampung Selatan. Prakiraan cuaca yang berlaku sejak Rabu (19/9/2018) hingga Kamis (20/9/2018), masyarakat diminta waspada dengan gelombang yang berpotensi mencapai 3,5 meter. Potensi gelombang tinggi tersebut ada di wilayah Samudera Hindia Barat Lampung, perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian Selatan.

Nelayan mewaspadai kecepatan angin yang diperkirakan mencapai dua hingga 25 knots, dengan ketinggian gelombang satu hingga empat meter. Di Selat Sunda bagian Selatan, kecepatan angin bisa mencapai dua hingga 22 knots, dengan ketinggian gelombang antara 0,2 meter hingga 3.5 meter. “Sebagian nelayan masih ada yang tetap melaut namun tidak terlalu jauh dari pantai, sebagian mengandalkan bagan apung untuk menangkap ikan,” tambah Zainudin.

Pemilik usaha perebusan ikan teri di Kalianda, Misri Saifulah, membenarkan kurangnya pasokan teri karena cuaca yang kurang bersahabat. Sebagian nelayan memilih beristirahat, menunggu kondisi cuaca membaik. Pada kondisi normal, Misri mendapat pasokan ratusan keranjang ikan teri dari nelayan bagan congkel. Jumlahnya bisa mencapai dua ton.

Saat cuaca perairan didominasi angin kencang, ia hanya mendapat pasokan maksimal 800 kilogram teri basah. Pengurangan bahan baku tersebut, berpengaruh pada hasil produksi teri kering, jenis teri jengki, teri nasi, teri katak, dan teri jenggot. Sesuai prediksi, cuaca tidak bersahabat akan terjadi hingga Oktober mendatang. “Sebagai produsen teri kering, selalu ada pasang surut pasokan teri. Saat melimpah kadang kita jual ke produsen lain, saat kurang teri didatangkan dari wilayah lain,” pungkas Misri Saifulah.

Lihat juga...