Usaha Tembakau Rajang di Lombok Raup Keuntungan Hingga Jutaan Rupiah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LOMBOK — Selain menanam tembakau untuk kebutuhan omprongan, sebagian petani Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat juga banyak menanam untuk dirajang dan dijual sebagai kebutuhan rokok pilitan masyarakat yang senang merokok.

“Kalau bicara keuntungan, menjual rajang sebenarnya lebih menguntungkan dibandingkan diomprong,” M. Nur pengusaha tembakau rajang di Desa Lenting Lombok Timur, Rabu (15/8/2018).

Dari segi proses menghasilkan tembakau rajang juga tidak sulit. Tidak memakan biaya tinggi. Selain proses lama, biaya dikeluarkan untuk melakukan omprongan juga besar.

Untuk menghasilkannya, cukup hanya bermodalkan tenaga, sebilah pisau besar, jepitan dari bambu untuk melakukan proses pengirisan menjadi bagian kecil.

“Kalau yang memiliki mesin pengiris malah lebih praktis dan dapat menghasilkan lebih banyak hingga proses penjemuran lebih cepat dilakukan, sampai benar-benar telah kering dan siap dipasarkan. Baik dalam jumlah besar maupun dijual secara eceran di pasaran,” katanya.

Nur menambahkan, butuh ketekunan untuk menghasilkan tembakau rajang, tapi keuntungan didapatkan lebih menjanjikan.

Rajab, petani yang juga pengusaha mengatakan, tembakau rajang termasuk banyak permintaan di pasar untuk kebutuhan rokok pilitan bagi masyarakat, baik orang tua maupun anak muda.

Adapun mengenai harga jual kering bervariasi, tergantung kualitas dan besar kecilnya paketan menggunakan plastik.

Satu ball atau paket, harganya berkisar antara Rp3.000.000 hingga Rp. 4.000.000, dimana satu bungkus tembakau rajang berisi 18 hingga 20 tumpi atau rajang.

“Kalau kualitasnya bagus dan rasanya lebih enak harganya semakin mahal,” katanya.

Rajab menambahkan, dalam satu kali musim, kadang ia bisa mengais keuntungan Rp20 juta hingga Rp30 juta, tergantung berat dan kualitasnya.

Untuk proses panen, sama dengan tembakau virginia di panen sekali seminggu dengan lama penjemuran selama dua hari kalau cuaca panas, kalau cuaca tidak bagus bisa memakan waktu tiga hingga empat hari.

Lihat juga...