Triwulan ll Tahun 2018, Pertanian NTB Mengalami Surplus
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MATARAM — Triwulan ll 2018, pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami surplus, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 106,72 persen. Suplus ini masih menyaingi triwulan I 2018 yang bernilai 106.83.
“Terjadi surplus pada pertanian,” kata Kepala BPS NTB, Suntono, Rabu (15/8/2018)
Jika dibandingkan dengan Triwulan I, surplus yang diperoleh petani sedikit lebih rendah namun masih berada pada kisaran 106 persen.
Sampai dengan Triwulan II, inflasi umum NTB juga tampak terkendali dan masih berada pada kisaran kurang dari dua persen. Hal ini mengindikasikan bahwa distribusi dan ketersediaan barang konsumsi masyarakat terkendali sehingga perekonomian berjalan cukup baik.
Suntono mengatakan, pada triwulan ll, sebagian besar komoditas mengalami inflasi tipis dengan kisaran antara 0,07 hingga 1,9 persen. Yang tertinggi adalah transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.
“Komoditas perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi terendah dengan sebesar 0,07 persen” katanya
Dikatakan, apabila inflasi umum mencerminkan di daerah perkotaan, maka laju pertumbuhan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) yang merupakan salah satu komponen untuk menghitung NTP, menjadi indikator di daerah perdesaan.
Pada triwulan II inflasi di perdesaan hanya mencapai 0,36 persen bernilai lebih rendah dari perkotaan yang mencapai 0,85 persen.
Laju pertumbuhan IKRT cenderung memiliki pola mengikuti laju inflasi perkotaan, bahkan pada triwulan III-2016 dan 2017 hampir berhimpitan. Setelah sempat bernilai lebih tinggi dari perkotaan sejak triwulan IV-2017, laju pertumbuhan IKRT berangsur turun dan kembali bernilai di bawah perkotaan.
Lebih lanjut Suntono menambahkan, sementara nilai ekspor NTB pada Juli 2018 sebesar US$ 42.499.695, mengalami penurunan sebesar 45,67 persen jika dibandingkan Juni 2018 yang bernilai US$ 78.225.629.
Ekspor terbesar ditujukan ke negara Korea Selatan sebesar 54,50 persen, Jepang sebesar 36,54 persen dan Filipina sebesar 8,13 persen.
“Jenis barang yang terbesar adalah tambang atau galian non migas senilai 90,70 persen, gandum-ganduman 8,13 persen, garam, belerang dan kapur sebesar 0,39 persen dan perhiasan atau permata 0,31 persen,” sebutnya.
Sementara nilai impor pada Juli 2018 senilai US$ 31.737.589. Mengalami kenaikan sebesar 179,74 persen dibandingkan dengan Juni 2018 yang sebesar US$ 11.345.279. Jenis barang dengan nilai terbesar adalah Mesin-mesin pesawat mekanik 32,87 persen, Peralatan listrik 32,29 persen dan Gula 18,92 persen.