TMII Tampilkan Ludruk Meriahkan HUT ke-73 RI

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Alunan musik tradisional Jawa Timur, mengiringi tembang merdu berpadu gerak gemulai pelakon Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, Surabaya. Mereka sangat antusias berlatih ludruk di panggung Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (16/8/2018) sore. Muhibah Pesta Ludruk Surabaya ke Jakarta berjudul ‘Guruku Tersayang’(BUI), demikian yang akan ditampilkan di anjungan tersebut. 
Meimura, sutradara ludruk mengatakan, ludruk bertajuk “Guruku Tersayang (BUI)” adalah lakon yang diadopsi dari naskah teater karya Akhudiat. Berkisah tentang seorang guru yang harus terjerumus di dalam jeruji besi, lantaran mengorupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Namun,  di dalam penjara, guru tersebut dipertemukan dengan bandar narkoba yang mengendalikan bisnis di dalam lapas. Ini, jelas dia, berkisah tentang pusaran narkoba, di mana tokoh-tokohnya bisa mengatur bangsa dan negara, meski dari balik jeruji.
Kika: Anggota Komisi XI DPRI RI, Indah Kurnia, yang juga seniman ludruk, Kepala Anjungan Jawa Timur TMII, Samad Widodo, dan sutradara ludruk, Meimura pada acara gladi resik atau latihan ludruk di Anjungan Jatim TMII, Jakarta, Kamis (16/8/2018) sore. -Foto: Sri Sugiarti.
“Gelaran ludruk ini berkisah dua cerita  idealitas yang berbeda. Pertama, bandar narkoba diperlakukan sedemikian nyaman di dalam penjara. Sementara guru harus tetap disiplin mematuhi peraturan penjara,” ujarnya, kepada Cendana News, di Anjungan Jawa Timur TMII, Jakarta, Kamis (16/8/2018) sore.
Ada dua kontra yang ditampilkan dalam gelaran ludruk ini, yang menurutnya, merupakan fenomena nyata negara Indonesia yang harus dibenahi, karena jika tidak akan menjadi petaka.
Menurutnya pula, guru itu seorang tauladan yang menjadi panutan murid-muridnya. Jika sosok ini melakukan tindak kriminal, tak ada lagi yang bisa menjadi panutan bagi mereka sebagai generasi masa depan.
“Maka, penting pendidikan karakter di dalam sekolah”, tegasnya.
Namun, lanjut Meimura, terpenting lagi adalah peraturan kebijakan dalam penjara harus ditegakkan, tak pandang bulu. Memang, sangat sederhana dalam konteks literasi, tapi soal moral sangat diperhitungkan menjadi landasan dalam kehidupan.
“Muhibah pesta ludruk ini untuk menghidupkan seni tradisi khas Jawa Timur, kita akan tampil Jumat (17/8) malam di Anjungan Jatim ini. Pentas ini juga untuk merayakan HUT ke 73 Kemerdekaan Indonesia dan Asian Games 2018,” ungkapnya.
Dia menegaskan, ludruk membangkitkan sejarah perjuangan yang efektif untuk menyampaikan berbagai informasi kepada rakyat. Salah satu yang  paling melegenda pada seni ludruk adalah parikan berisi sindiran kepada penjajah Jepang, adalah Pegupon Omahe Doro, Melok Nipon Tambah Soro atau dalam bahasa Indonesia: Pegupon rumah burung dara, ikut Jepang tambah sengsara.
Sindirin itu sarat dengan makna, bagaimana seniman kala itu menumbuhkan kesadaran rakyat Indonesia untuk tidak terbuai dengan bujuk rayu penjajah.
“Maka, HUT ke 73 RI adalah momen untuk mengenang perjuangan pahlawan memerdekakan bangsa ini,” tukasnya.
Dia juga menyebutkan, kesenian ludruk di Jatim tidak punya ruang ekspresi yang representatif, dan juga tidak ada kebijakan spesial dari pemerintah atau negara untuk menjaga dan pengembangan.
“Ini sangat berbeda dengan kesenian lainnya. Saya berharap, ada wacana baru tentang penanganan yang adil pada kesenian tradisi, seperti kesenian klasiker ludruk ini”, kata Meimura.
Apalagi, tambahnya, pemerintah telah mengesahkan UU Pemajuan Kebudayaan. Maka, dia pun berharap, Presiden Joko Widodo turut berpikir tentang kesenian ludruk ini, sehingga bisa tampil di istana negara. Hal ini mengingat di zaman Presiden Soekarno, ludruk tampil selama 16 hari di Istana Kepresidenan, dan Bung Karno ikut pentas.
“Tampil di TMII, ini pertama kalinya dan suatu kebanggaan. Diharapkan negara bisa memberikan ruang yang respresentatif bagi seni tradisi ludruk,” tegasnya.
Karena ketika bicara devisa, tambah dia, bukan hanya impor dan ekspor, tetapi ludruk juga mendatangkan devisa, jika pemerintah peduli dalam pengembangan budaya tradisional ini.
Adalah negara Korea, menurutnya, contoh nyata bagaimana pemerintahnya mem-branding atau mendesain invansi kebudayaan 20 tahun sebelumnya, agar membumi. Anak-anak Indonesia sekarang ini menyukai musik Korea, dan ini memprihatinkan.
“Ini kecolongan. Sementara Pancasila dihujat tidak ada yang bela. Ini kecelakaan besar menurut kami di bidang kebudayaan. Terus fakta reformasi dan moral apa, dong? Tiba-tiba kesenian tradisi kami berjarak dengan generasi milenia sangat jauh. Sementara orang asing suka dengan ludruk,” tukasnya.
Menurutnya, ludruk ini harus didengungkan kembali di Jakarta. Tujuannya adalah untuk membangkitkan peradaban, perilaku asah, asih, asuh dan gotong royong yang belakangan ini mulai pudar.
Anggota Komisi XI DPD RI, Indah Kurnia, menambahkan, gelaran ludruk biasanya hanya ditonton segelintir orang yang memang penyuka seni tradisi ini. Maka itu, terpenting adalah bagaimana eksitensi ludruk bisa dijalankan bersama-sama, dengan meningkatkan kualitas memberi hiburan yang nyaman bagi masyarakat.
“NKRI harga mati, ludruk itu harga diri kita. Tidak akan kita ngemis-ngemis menawarkan hiburan berkualitas. Kita akan berikan hiburan berkualitas menjadi merasa nyaman,” ujar Indah.
Indah yang juga seniman ludruk ini menegaskan, ludruk harus regenerasi ke depannya. Regenerasi dengan membuka kelas latihan gratis untuk anak dan remaja.
Sedangkan untuk menarik simpati orang asing yang tinggal dan bekerja di Surabaya, sekaligus promosi ke dunia luar,  Indah  mengajak para diplomat main ludruk. Dia juga menggerakkan para pejabat pemerintahan untuk mencintai seni ludruk ini.
Dia berharap, ludruk bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, Jawa Timur. “Syukur-syukur jadi tuan rumah di negeri sendiri, itu yang kita harapkan bersama. Maka, kita harus tampil maksimal,” tegasnya.
Kepala Anjungan Jawa Timur TMII, Samad Widodo, mengatakan, sebagai wadah pelestarian dan pengembangan budaya daerah, diharapkan ludruk bisa tumbuh di Jakarta.
Dalam kemeriahan perayaan HUT ke 73 RI, ludruk ini juga akan tampil di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, selama dua hari berturut-turut pada Sabtu-Minggu (18-19/8/2018) dengan lakon “Cak Durrasim”, yang
berkisah seorang  pejuang di Surabaya yang rela berkorban jiwa dan raga, demi kemerdekaan Tanah Air dan bangsa.
Lihat juga...