Perteta Dorong Peningkatan Produktivitas Tanaman Sawit
YOGYAKARTA — Ketua Perhimpunan Teknik Pertanian (Perteta), Desrial mengatakan produktivitas tanaman sawit di Indonesia saat ini masih rendah, rata-rata hanya sekitar 13 ton tandan buah segar per hektare per tahun.
“Padahal potensinya bisa sampai 25 sampai 30 ton per hektare per tahun,” kata Desrial usai Seminar Nasional Perteta di Instiper Yogyakarta, Rabu (29/8/2018).
Karena produktivitas tanaman sawit yang masih rendah itu maka Perteta mengadakan Seminar Nasional Perteta 2018 dengan tema “Mekanisasi, Otomasi dan Aplikasi ICT (Information and communication technology) dalam Mendukung Bioindustri dan Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan”.
Menurut dia, salah satu permasalahan dalam meningkatkan produktivitas sawit adalah bagaimana pihak terkait bisa mengefisienkan setiap proses. Efisiensi serta peningkatan kualitas itu dapat dicapai apabila menerapkan mekanisasi pertanian.
“Oleh sebab itu dalam seminar kali ini kami mengajak kawan-kawan Perteta dari seluruh Indonesia mempresentasikan hasil-hasil riset khususnya untuk budidaya sawit baik dalam hal on farm maupun off farm,” katanya.
Peserta seminar nasional itu merupakan anggota Perteta selaku akademisi pertanian dari berbagai universitas. Selain itu sebegai wadah bagi dosen Instiper yang sesuai kompetensinya dapat berpartisipasi dalam penyajian makalah hasil penelitian.
“Mudah-mudahan hasil dari formulasi riset ini dapat kita jadikan rekomendasi kepada BPD PKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) atau pemerintah tentang teknologi apa dan bisa diaplikasikan untuk produksi sawit di negara kita,” katanya.
Desrial menjelaskan saat ini yang menjadi permasalahan dalam peningkatan produksi sawit adalah terkait transportasi untuk mengangkut buah sawit, atau dari lahan sawit ke tepi jalan yang belum didukung dengan infrastruktur yabg memadai.
“Sekarang ini masih pakai ‘pikulan’, kereta sorong, sehingga kalau sudah mulai musim hujan banyak yang terbuang, bahkan 10 sampai 20 persen (hasil panen sawit) tidak bisa diangkat karena kondisi itu tadi,” katanya.
Oleh sebab itu, pada kesempatan tersebut Perteta juga memperkenalkan salah satu produk berupa mesin untuk evakuasi buah sawit, dan yang sudah mengembangkan mesin pertanian dan sudah dikomersilkan adalah IPB (Institut Pertanian Bogor).
“Dan dari Instiper juga membuat model yang sama. Jadi dari yang tadinya manusia tidak bisa angkut sekarang sudah bisa, saat ini itu yang paling bisa dimekanisasi. Kemudian mesin pemanen sawit, dan ini masih dalam riset,” katanya. (Ant)