Meniti Jejak Presiden, “Soeharto Kulino Meneng” di Kota Seribu Gua

Oleh Mahpudi, MT

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri 25 ini, edaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Berbagai kegiatan Pak Harto selama melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan proyek Waduk Nawangan, Giriwoyo, Wonogiri, dalam perjalanan Incognito yang dilakukannya pada 23 Juli 1970.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Wuryantoro, Wonogiri, larut malam, tim Ekspedisi Incognito Pak Harto 2012 tiba di tanah kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Pacitan. Beruntung, tim masih bisa memperoleh hotel untuk menginap, meski sederhana, namun cukup layak untuk menjadi tempat istirahat pada malam itu.

Bagi Pak Harto, daerah Pacitan bukan hal asing. Pada masa-masa perjuangan kemerdekaan, daerah Pacitan kerap dilaluinya ketika mengikuti perjalanan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman atau akrab dipanggil Pak Dirman. Memang, Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Pak Dirman membangun basis pasukannya di sebuah kampung terpencil di atas perbukitan di daerah Pakis Baru, Nawangan, Pacitan. Jalanan yang menanjak berliku-liku melintasi perbukitan, berhutan lebat, merupakan panorama utama daerah ini.

Berbagai kegiatan Pak Harto selama melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan proyek Waduk Nawangan, Giriwoyo, Wonogiri, dalam perjalanan Incognito yang dilakukannya pada 23 Juli 1970.

Sebelum melakukan kunjungan Incognito ke daerah Pacitan, dalam perjalanan dari Wuryantoro, Pracimantoro menuju Pacitan, Pak Harto menyempatkan singgah ke proyek pembangunan waduk Nawangan. Lokasinya kini di Dusun Nawangan, Desa Platarejo, Giriqoyo, Wonogiri.

Sayang sekali, ketika tim ekspedisi kami tiba di kawasan ini, hari sudah malam. Sehingga, kami tak bisa melakukan eksplorasi, dan kami putuskan, tim melintas saja. Namun, keterangan yang kami peroleh dari sejumlah sumber, Waduk Nawangan diresmikan Pak Harto pada 1 Juli 1976. Hingga kini, waduk tersebut masih berfungsi mengairi sawah-sawah, serta mengendalikan debit air sungai di wilayah ini. Bahkan, waduk tersebut juga menjadi satu destinasi wisata yang tak kalah memikatnya.

Tim Ekspedisi berbincang dengan Bupati Pacitan Indartato saat singgah di Pendopo dalam rangkaian melacak kembali perjalanan Incognito Pak Harto di daerah ini (7 Juni 2012).

Keesokan harinya, pada 7 Juni 2012, tim Ekspedisi Incognito segera berangkat menuju pantai Tamperan di tepi Samudera Indonesia, tak jauh dari tempat menginap. Pantai ini bersama kawasan lainnya telah berubah menjadi kawasan wisata yang ditata dengan rapi. Konon, ketika Pak Harto singgah di pantai ini dalam rangka Incognito pada 23 Juli 1970, suasananya masih sederhana. Saat itu, Pak Harto menyempatkan makan siang di tepi pantai dengan menikmati nasi rantangan dan lauk pauk sederhana.

Dari penduduk setempat, kami mendapat informasi, Pak Harto memang beberapa kali berkunjung ke daerah ini. Salah satunya, Pak Harto mengunjungi gua yang tak jauh dari pantai tersebut. Memang, Pacitan merupakan daerah yang memiliki cukup banyak gua, sehingga berjuluk Kota Seribu Gua. Tak banyak informasi, apa aktivitas yang dilakukan Pak Harto ketika mengunjungi gua tersebut. Sedangkan sebagian penduduk meyakini, gua dekat pantai itu adalah gua keramat. Meski demikian, dapat dipastikan, kunjungan tersebut bukan bagian dari kunjungan Incognito yang dilakukan Pak Harto pada tahun 1970.

Pak Harto bersama rombongan menikmati makan siang berupa “nasi rantangan” saat beristirahat di Pantai Tamperan, Pacitan dalam perjalanan Incognito ke wilayah ini pada 23 Juli 1970.

Dari pantai Tamperan, tim ekspedisi menuju pusat kota Pacitan. Tujuannya adalah pendopo Kabupaten Pacitan. Diketahui dari album foto Incognito yang kami bawa, Pak Harto terlihat sedang mengadakan ramah tamah dengan segenap warga dan pejabat di sana. Tim ekspedisi ingin mengetahui Pendopo yang bersejarah itu.

Ketika kami tiba di Pendopo Kabupaten, kebetulan sedang ada aktivitas yang cukup meriah. Ada sosialisasi program pemerintah. Bupati Pacitan Indartanto bersiap untuk meresmikan acara tersebut. Beruntung, meski hanya singkat, tim ekspedisi diperbolehkan bertemu dan berbincang dengan Pak Bupati, termasuk memperlihatkan foto-foto dokumentasi ketika Pak Harto berada di pendopo.

Pak Harto berada di Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan menggelar pertemuan dengan sejumlah aparat pemerintahan dalam rangkaian Incognito ke wilayah ini pada 23 Juli 1970.

Kami sangat bersyukur, Pak Bupati Indartanto bersedia menandatangi Sampul Peringatan yang dengan rajin disodorkan sang Filatelis Lutfi kepada setiap narasumber yang kami temui. Tentang pendoponya sendiri, sudah banyak berubah. Hanya tampak muka saja yang masih menyisakan jejak, sebagaimana saat dikunjungi Pak Harto.

Tim ekspedisi melanjutkan perjalanan ke arah utara. Kami menapaki jalanan yang berkelok, dengan hutan belantara di kiri kanan jalan yang merupakan pemandangan utama daerah ini. Ketika kami melintas, ditemukan sejumlah papan petunjuk yang menggambarkan bahwa rute itulah yang dilintasi Pak Dirman ketika melakukan perjalanan gerilya.

Memang, tim ekspedisi sedang menuju Pakis Baru, markas gerilya Pak Dirman. Ketika kami tiba di sana, kawasan itu telah ditata begitu megah. Markas bersejarah itu telah berganti menjadi sebuah kawasan yang dikenal sebagai Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, Pakis Baru, Pacitan. Monumen yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Desember 2008 dengan patung Pak Dirman tegak berdiri di puncak bukit.

Di depan Monumen, terhampar sebuah lapangan terbuka yang setiap tahun dijadikan tempat apel para taruna Akmil. Biasanya, para taruna melakukan long march dalam prosesi pelantikan mereka. Ada sejumlah diorama di seputar lapangan yang menggambarkan sejarah kehidupan Pak Dirman, serta kisah heroiknya dalam memimpin tentara Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pak Harto berada di Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan menggelar pertemuan dengan sejumlah aparat pemerintahan dalam rangkaian Incognito ke wilayah ini pada 23 Juli 1970.

Pada masa-masa bergerilya, Pak Harto merupakan salah satu perwira TNI yang dipercaya Pak Dirman melakukan berbagai tugas lapangan. Pak Harto pun kerap melakukan kontak dengan Pak Dirman di markas gerilya di Pakis Baru Pacitan. Bahkan, Pak Harto juga mengantar wartawan Rosihan Anwar yang hendak mewawancarai Pak Dirman, sebagaimana ditulis dalam artikelnya yang terkenal berjudul “Soeharto Kulino Meneng (Soeharto terbiasa diam).”

Maka, tak heran bila Pak Harto pun hafal benar dengan rute-rute yang ditempuhnya ketika tiba di Pacitan dalam perjalanan incognito pada 23-24 Juli 1970. Tentunya, perjalanan Incognito ke wilayah ini, bagi Pak Harto, tak ubahnya seperti napak tilas rute gerilya yang pernah ditempuhnya pada masa-masa mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya.***

Lihat juga...