Try Sutrisno : Pak Harto Tidak Berambisi Jadi Presiden

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Mantan Wakil Presiden ke 6 RI, Jenderal TNI (Purn), Try Sutrisno mengatakan, Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto terlahir dari sebagai anak petani di daerah Kemusuk, Yogyakarta.

Sejak kecil, Pak Harto tidak bercita-cita menjadi seorang presiden. Lebih menyukai dunia pertanian, dan ketika dewasa dengan semangatnya bertekad untuk mengabdikan hidupnya kepada bangsa. Hingga kemudian, menjadi seorang tentara yang handal dalam melawan penjajah memperjuangkan Indonesia merdeka.

“Kalau Pak Harto menjadi Presiden, ini sungguh suatu mujizat dari Allah SWT. Karena terlahir dari kalangan petani, rakyat biasa. Pak Harto, tidak berambisi jadi Presiden,” ujar Try, pada dialog 100 tahun HM Soeharto Presiden Kedua RI yang digelar secara virtual di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor, Jawa Barat, yang diikuti Cendana News, Selasa (22/6/2021).

Tidak ambisinya HM Soeharto menjadi seorang pemimpin negara ditegaskan lagi oleh Try. “Saya sebagai ajudannya, saya tahu ambisi Pak Harto, beliau tidak ambisi pada jabatan tapi pengabdiaan kepada bangsa Indonesia,” ungkap Try Sutrisno yang pernah menjadi ajudan Pak Harto.

Menurutnya, pengabdian Pak Harto sudah terlihat nyata sejak dirinya menjadi seorang tentara. Dalam tugasnya, Pak Harto selalu memegang amanah yang dipercayakan kepada dirinya.

Semua tugas dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan semangat pengabdian serta kerja keras yang luar biasa. Contohnya, kata Try, Pak Harto dikenal sebagai komandan yang memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

“Itu suatu serangan klimaks yang dilakukan TNI pada Belanda yang akhirnya Belanda angkat kaki dari Indonesia,” ujarnya.

Belanda terus diserang secara gerilya yang dipimpin Panglima Besar Jenderal Soedirman, TNI dan rakyat. Gerilya ini dipelopori pada serangan 1 Maret 1949 karena ulah Belanda yang menduduki Yogyakarta. Bahkan pada dunia international, Belanda mengumumkan bahwa negara Indonesia sudah tidak ada lagi.

Tentu hal itu sangat menyakitkan bangsa dan rakyat Indonesia yang telah merdeka pada saat itu dari penjajahan Jepang. TNI dan rakyat bersatu untuk terus menerus menyerang Belanda dengan semangat perjuangan gerilya.

“Pak Harto sebagai komandan menyerang Yogyakarta pada 1 Maret 1949 dan berhasil menduduki Yogya pada siang hari. Walaupun hanya 6 jam, tapi ini memberikan efek yang luar biasa secara politis menunjukkan bahwa Indonesia masih ada,” urai Try.

Akhirnya Belanda mau mengakui dan berunding di Konfrensi Meja Bundar (KMB) untuk menyerahkan kedaulatan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Walaupun hasil KMB itu masih sangat minor, karena Belanda tidak mau mengakui NKRI, tapi negara serikat ciptaan Belanda. Terima saja sementara, toh satu tahun kemudian kita kembali lagi jadi NKRI. Inilah langkah Pak Harto yang patut kita banggakan,” tukasnya.

Pengabdian Pak Harto lainnya, adalah kata Try, ketika Pak Harto menjabat Panglima Komando Mandala yang berhasil merebut Irian Barat dari tangan penjajah Belanda. Bahkan keberhasilan merebut Irian Barat itu diakui dunia dengan perundingan di New York, Amerika Serikat (AS). Karena menurut Try, AS mengetahui bahwa persiapan Indonesia tentang Trikora bukan main-main.

“Trikora diucapkan oleh Bung Karno di Yogyakarta bukan barang kosong atau macam ompong. Tetapi diwujudkan dan dibuktikan dengan penyusunan kekuatan tentara yang didukung oleh rakyatnya,” jelasnya.

Kemudian negara AS terus mengingatkan Belanda kalau perang ini diteruskan justru akan memalukan bangsa Eropa. Hingga kemudian ada kesepakatan perundingan, Belanda memberikan kedaulatan kepada NKRI.

“AS menasehati Belanda, agar negara itu mau berunding. Pak Harto sebagai pemimpin panglima, saya tahu sendiri waktu itu karena saya juga terlibat, diterjunkan di sana,” ujar Try.

Try juga berkisah pengalaman saat dirinya diajak Pak Harto berburu binatang di hutan pada malam hari. Tapi ketika sampai hutan, dari sekian banyaknya hewan berkeliaran, tidak satu hewan pun yang ditembak oleh Pak Harto. Namun yang menembak hewan itu adalah para asisten operasional yang mengawal Pak Harto.

Try mengaku merasa heran atas sikap Pak Harto tersebut yang mengajak berburu tetapi yang beraksi para pembantunya.

” Akhinya saya bertanya pada Pak Harto, kenapa tengah malam Bapak mau menembak hewan, tapi kok nggak nembak, malah pembantu yang membidik hewan,” ucap Try mengulangan pertanyaan saat itu.

Dengan kerendahan hati, Try, Pak Harto menjawab.” Try, saya sengaja mengadakan kegiatan malam ini, maksudnya tirakat jangan sampai saya tidur. Karena malam ini kita sedang menerjunkan pasukan ke Irian Barat,” ucap Try menirukan jawaban Pak Harto kala itu.

Sehingga meskipun Irian Barat tidak jadi perang, tapi menurut Try, Pak Harto sudah menerjunkan secara bertahap pasukan yang dipimpin oleh Benny Moerdani.

“Mayor Benny Moedani, dia sudah menyelusup ke Irian Barat untuk menyambut pendaratan pasukan,” ujarnya.

Selama pengiriman pasukan TNI ke Irian Barat, menurut Try, Pak Harto sebagai panglima sangat memikirkan dan peduli hingga Beliau harus berjaga keselamatan pasukannya dalam balutan doa.

“Sebagai seorang komandan, panglima, mengirimkan pasukan malam-malam ke Irian Barat. Sebetulnya, Beliau merasa prihatin, dan berusaha menjaga dengan berdoa pada Allah SWT supaya pasukannya diberikan keselamatan, keberhasilan, berkah dan ridho. Itulah Pak Harto, saya saksinya,” tandasnya.

Pengabdian lainya, yakni kata Try, Pak Harto ketika menjabat Panglima Konstrad berhasil menumpas penghianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI).

“Pak Harto menyelamatkan Indonesia dari ancaman menjadi negara komunis. Bertindak dengan tegas dan cepat tapi bijaksana untuk melawan gerakan itu, sehingga waktu singkat pun dapat dipatahkan. Itulah Pak Harto,” ujar pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur 86 tahun ini.

Dalam memimpin negara selama 30 tahun lebih menurutnya, Pak Harto dalam menata roda pemerintahannya sangat konstitusional yang berpegang pada Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila. Bahkan banyak juga prestasi yang ditorehkan dalam memajukan Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Seperti di bidang kesehatan, Keluarga Berencana (KB), merununkan kemiskihan hingga sukses swasembada beras dengan meraih penghargaan dari Organisasi Pangan Dunia (FAO).

“Kita tidak menonjolkan jasa ini, tetapi kita ingin mengajak untuk mencontoh teladan yang telah diberikan pada bangsa ini. Pak Harto sebagai pemimpin yang tegas, bijaksana, dan cepat mengambil keputusan, dan beliau juga seorang pribadi yang rendah hati, sopan dan sangat menghargai sesama,” pungkasnya.

Lihat juga...