LP Kerobokan Miliki Bengkel Kerja Warga Binaan
DENPASAR – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Kerobokan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, memiliki bengkel kerja untuk warga binaan. Bengkel tersebut dimanfaatkan untuk memberi bekal warga binaan, agar setelah bebas dari jeruji besi, memiliki keahlian kerja.
“Kami memiliki bengkel kerja untuk warga binaan, ada 18 jenis kegiatan di dalamnya, seperti melukis, desain grafis, mekanik, pertanian, peternakan ikan, kerajinan perak, bermusik dan menyablon,” kata Kepala Lapas Kelas II-A Denpasar Tonny Nainggolan, Sabtu (18/8/2018).
Hasil kerajinan warga binaan di bengkel kerja milik LP Kerobokan, banyak menerima pesanan hingga ke luar negeri, seperti lukisan dan pakaian sablon. Hasil kerajinan mereka juga dibeli untuk kebutuhan di Kanwil Kemenkumham Bali, dan penghuni LP Kerobokan.
Tonny menjelaskan, kegiatan menyablon di LP Kerobokan dikoordinatori narapidana asal Australia, Matthew Norman yang tersandung kasus narkoba Balinine. Barang hasil kerajinan menyablon, yang dihasilkan warga binaan LP Kerobokan ada yang dijual ke luar negeri, diantaranya Australia oleh manajemen lapas.
Dari kegiatan tersebut, komunitas warga Australia memberikan bantuan mesin rotari untuk melakukan kegiatan menyablon. Dan saat ini, di LP Kerobokan sudah ada enam meja maupun klise untuk kegiatan bengkel kerja menyablon. “Si Matthew, sebagai pekerja senior sablon, yang mengajari dan ikut mengerjakan sablon untuk warga binaan lainnya,” katanya.
Saat ini, warga binaan juga diajarkan cara membuat kerajinan perak, yang dimotori oleh Andrew Chan, sebagai pekerja senior di dalam Lapas Kerobokan. “Saat masih ada Andrew Chan, Dia menjadi motor menyablon dan desain grafis, mereka berdua-lah yang mengerjakan. Namun, sekarang Chan yang memotori kegiatan membuat kerajinan perak,” ujar Tonny yang menegaskan narapidana Balinine yakni Andrew Chan dan Matthew Norman dipidana seumur hidup.
Selain itu, warga binaan juga memiliki kelompok musik Antrabez atau Anak Terali Besi. Kelompok tersebut, hampir setiap minggu tampil di luar lapas. “Mereka sudah profesional, dan bayarannya bervariasi, kisaran Rp2 juta hingga Rp5 juta,” ujarnya.
Untuk 25 Agustus 2018 ini, kelompok musik Antrabez akan tampil di Nusa Lembongan, yang dalam pengamananya nanti masih berkoordinasi dengan Kanwil Kemenkumham terkait teknisnya, karena mereka akan menginap ditempat itu. Selain itu, dalam waktu dekat ini, warga binaan LP Kerobokan juga akan mengikuti lomba layang-layang di Pantai Mertasari, Denpasar, ada lima kategori perlombaan yang diikuti.
Untuk antisipasi keamanan, saat warga binaan mengikuti lomba layang-layang, pihaknya akan berkoordinasi dengan jajaran kepolisian. “Nantinya warga binaan ini mengikuti lomba layangan janggar, layangan kreasi, layangan bebean dua dan layangan pecukan,” pungkasnya. (Ant)