JAKARTA – Dunia perfilman selalu melahirkan talenta baru. Seperti Tara Adia, seorang pendatang baru dalam dunia perfilman, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu dan pandai memainkan alat musik biola dan gitar.
Tara membintangi debut film ‘Sara & Fei: Stadhuis Schandaal’. Sebuah film produksi PT Xela Film dengan arahan sutradara Adisurya Abdy, dan skenario garapan Adisurya Abdy dan Irfan Wijaya, yang memberinya banyak pengalaman berharga dan membuatnya menjadi ketagihan main film lagi.
“Ini film pertama saya, jadi saya harus serius dan benar-benar riset untuk dapat memerankan Sara dengan sebaik mungkin,“ kata Tara Adia Prawidaninggar, seusai press screening film ‘Sara & Fei: Stadhuis Schandaal’ di Metropole XXI, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Dalam membintangi film ini, perempuan kelahiran Blora, Jawa Tengah 19 September 1994, itu mengaku melewati tahap casting, sebuah tahap yang banyak dilakukan orang pada umumnya dalam membintangi film.
“Saya melewati proses casting, terus saya disuruh baca skenarionya, dan seminggu kemudian saya dikabari untuk main film ini,“ terang putri penyanyi keroncong, Indra Utami Tamsir.
Untuk menjalin chemistry dengan para pemain lainnya, Tara merasa bersyukur karena dapat melakukannya dengan mudah.
“Alhamdulillah, mudah. Awal-awalnya di lokasi syuting kita anggap para pemain lainnya seperti teman sendiri, dan kita saling diskusi enaknya bagaimana dan ada proses reading, jadi saya banyak belajar,“ bebernya.
Tara menyebut, bahwa Sara benar-benar ada, riil dan Sara Specx itu memang pernah lahir.
“Saya diberi penglihatan saat syuting di Kota Tua, saya sampai trans setengah, saya bukan seorang indigo, bukan orang yang bisa melihat, tapi saya merasa bagaimana untuk mendalami karakter kalau karakter yang saya mainkan tidak tahu seperti apa,“ paparnya.
Dalam syuting film, Tara mengalami kejadian mistis sewaktu ia jalan-jalan dan pada waktu sekitar jam 10 siang, ia merasakan dirinya trans setengah.
“Jadi, saya tidak bisa mengontrol badanku dan cara bicaraku pun sudah berubah, itu kata orang-orang yang melihat saya saat trans setengah,“ simpulnya.
Dari pengalaman mistis itu, Tara menjadi tahu tentang Sara sebenarnya, kalau yang ia lihat Sara itu orangnya masih muda banget, umurnya sekitar 18 tahun dengan rambut sebahu.
“Sara melihat saya penuh harapan, dia minta tolong untuk memberitahukan pada orang-orang, bahwa kisahnya tidak begitu, dia tidak melakukan perzinahan, karena cintanya pada Peter itu memang benar-benar cinta murni,“ ungkapnya.
Tara mengatakan, jika Sara berterima kasih, karena kisahnya diangkat dalam film, dan meluruskan sejarah yang sebenarnya.
Selama ini, Tara memang dikenal sebagai pemusik, tapi ketika ditanya kalau diharuskan memilih antara musik dengan film, Tara menegaskan, bahwa musik dengan film itu masih menjadi satu dalam dunia kesenian.
“Jadi, saya ingin tetap menekuni musik dan film,“ tegasnya.
Tara mengaku membintangi film ini menjadi ketagihan ingin main film lagi, dan ia ingin lebih mendalami film. “Maka, saya kemudian sekolah film untuk lebih bisa mendalami film,“ pungkasnya.