Cegah Tanaman Mati, Petani Terpaksa Keluarkan Biaya Ekstra

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Musim kemarau yang melanda sebagian wilayah Lampung bertepatan dengan masa tanam ketiga (MT 3) mengakibatkan sejumlah lahan pertanian kekeringan.

Wargito (35) salah satu petani di desa Pasuruan Kecamatan Penengahan menyebut masa panen ketiga disebutnya sudah diprediksi petani sebagai musim kering. Meski demikia sejumlah petani masih tetap memanfaatkan waktu dengan pola tanam menggunakan pengairan sistem pompa meski harus mengeluarkan biaya ekstra.

Wargito menyebut antisipasi kekurangan pasokan air pada masa tanam ketiga ia bahkan membeli mesin sedot air seharga Rp2,8 juta. Mesin dipergunakan selama tiga kali saat memulai masa pengolahan lahan, pemupukan dan saat padi mulai berisi (meratak).

Jarak lahan sawah untuk tanaman padi dan lahan tanaman jagung sekitar 500 meter sehingga air terpaksa dialirkan dengan selang plastik.

“Butuh waktu delapan jam untuk mengairi lahan,” terang Wargito salah satu petani yang ditemui Cendana News tengah melakukan pengairan sawahnya memanfaatkan mesin sedot air, Sabtu (21/7/2018)

Disebutkan, modal peralatan untuk mengalirkan air terpaksa dikeluarkan daripada lahan terbengkelai tanpa ditanami.

“Setidaknya hasil panen bisa untuk menutupi biaya operasional,” sebutnya.

Bikan, salah satu petani yang juga menanam jagung mengalirkan air dengan mesin pompa [Foto: Henk Widi]
Sekali melakukan proses pemompaan ia menyebut mengeluarkan biaya untuk bahan bakar minyak sepuluh liter premium dengan harga Rp10.000 dari pengecer. Ditambah dengan keperluan makan, minum selama menunggu mesin, sehingga total Rp200.000 perhari selama melakukan proses pemompaan air.

Imbas berkurangnya pasokan air pada masa tanam bulan Juni sebagian tanaman jagung varietas bisi mengalami hambatan pertumbuhan. Selain tanaman kerdil sebagian besar tidak menghasilkan tongkol buah yang sempurna.

“Beberapa tanaman jagung bahkan tidak berbuah akibat kemarau yang melanda,” sebut Bikan (50), salah seorang petani jagung.

Bikan menyebut memanfaatkan mesin pompa air bersama dengan pemilik lahan sawah agar proses penyaluran air bisa dilakukan bersamaan.

“Kami gunakan sistem bergantian untuk proses pengairan sawah agar lebih efesien pada lahan jagung serta padi sawah,” beber Bikan.

Bikan menyebut dibanding tidak dialiri air dari mesin sedot, ia memastikan tanaman jagung yang ditanam akan kekeringan. Ia bahkan memilih mengeluarkan biaya ratusan ribu untuk membeli bahan bakar premium sekaligus biaya operasional dibandingkan semua tanaman jagung miliknya kekeringan.

Lihat juga...