Pedagang di Rest Area Bakauheni Mengeluh Omzet Menurun

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Arus mudik angkutan lebaran Idul Fitri 2018/1439 Hijriyah memberi dampak positif bagi sejumlah pelaku usaha di Jalan Lintas Timur Sumatera.
Hendra (40), salah satu pemilik usaha di KM 01 Bakauheni atau dikenal dengan Rest Area Giant Letter Bakauheni, menyebut saat angkutan lebaran, dirinya menyediakan jasa tambal ban, tambah angin ban serta berjualan oleh-oleh.
Pada 2014, dirinya mengaku mampu mendapatkan omzet sekitar Rp50 juta selama angkutan lebaran arus mudik dan arus balik. Namun, selama beberapa tahun sesudahnya pendapatannya saat arus mudik mulai menurun.
Menurutnya, sejak 2018 mulai terjadi penurunan omzet akibat mulai beroperasinya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Rest area di sepanjang Jalinsum menjadi lokasi favorit untuk beristirahat, karena dekat dengan tempat pengisian bahan bakar minyak di SPBU. Lokasi tersebut bahkan dekat dengan ‘Giant Letter’ atau tulisan besar BAKAUHENI yang menjadi ciri khas kota pertama di Pulau Sumatera setelah menyeberang dari Pulau Jawa. Lokasi kota pertama juga dekat dengan objek wisata Menara Siger.
Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT. Hutama Karya, selaku pengelola Tol Sumatera ruas Bakauheni- Terbanggibesar [Foto: Henk Widi]
“Saya membuka tempat usaha di rest area yang setiap tahun ramai oleh pemudik saat akan pulang ke pulau Sumatera mempergunakan kendaraan roda dua dan roda empat, dengan berjualan oleh-oleh,” papar Hendra, saat ditemui Cendana News, Senin (11/6/2018).
Hendra menyebut, sejak beroperasinya JTTS, kendaraan roda empat atau lebih kini memilih menghindari Jalinsum. Padahal, segmen satu Bakauheni yang telah dioperasikan baru sepanjang 8,9 kilometer melalui gerbang tol Bakauheni Selatan, dan gerbang tol Bakauheni Utara.
Pada tahun sebelumnya, dalam sehari dirinya bisa mendapatkan omzet Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Namun, kini berkurang dalam sehari hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
Selain Hendra, pedagang p di Rest Area Bakauheni yang membuka usaha musiman bernama Indri (30), yang bersama puluhan warga Bakauheni menyediakan lokasi khusus berjualan.
Indri menyebut, lokasi strategis dekat dengan pelabuhan kerap menjadi tempat istirahat pertama setelah turun dari kapal. Namun, dengan beroperasinya jalan tol Sumatera, volume kendaraan yang melintas di Jalinsum berkurang.
“Penurunan omzet memang terasa sekali, karena saat ini kendaraan yang mampir dominan roda dua, imbas kendaraan roda empat masuk ke tol,”cetus Indri.
Indri mengaku sudah berjualan di rest area sepekan sebelum lebaran hingga sepekan setelah lebaran. Sejumlah oleh-oleh dijualnya dengan menggunakan tempat berjualan sementara terbuat dari tenda. Oleh-oleh khas berupa keripik pisang, kelanting, sale, kerupuk kemplang, kopi disediakan olehnya. Selain itu, sang suami juga menyediakan fasilitas tambah angin dan tambal ban.
Sehari, dirinya bisa memperoleh sekitar Rp300 ribu lebih tinggi dari hasil berjualan di warung miliknya. Rest area sementara yang kerap dibuat, diakuinya menjadi peluang berjualan, memanfaatkan waktu arus mudik dan arus balik.
Terkait berkurangnya kendaraan yang melintas di Jalinsum dampak beroperasinya JTTS, juga terlihat dari data kendaraan yang melintas di jalan tol paket 1 pelabuhan Bakauheni-Bakauheni Utara sepanjang 8,9 kilometer.
Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT. Hutama Karya Jalan Tol Trans Sumatera, ruas Bakter, menyebut JTTS dipastikan dioperasikan dengan menggunakan E-Toll Card dan belum berbayar. Hal tersebut diakuinya menepis informasi yang beredar di media sosial, bahwa pengendara kendaraan sudah membayar di JTTS ruas Bakter.
Ia memastikan, saat ini hanya sepanjang 14,2 kilometer JTTS ruas Bakter yang bisa digunakan untuk melayani arus mudik dan balik angkutan lebaran 2018.
Mengacu pada data prediksi jumlah lalu lintas (lalin) lebaran 2018 pada ruas Bakter, Hanung Hanindito menyebut terjadi peningkatan dibanding hari biasa dengan puncak arus balik volume lalin mencapai 8000 hingga 1.000 unit kendaraan.
Pada dua seksi JTTS ruas Bakter yang dioperasikan, katanya, sejak H-7 lebaran, Jumat (8/6) prediksi volume lalin di segmen Pelabuhan-Bakauheni mencapai 8.055 unit kendaraan per hari. Sementara di segmen Lematang-Kotabaru di hari yang sama mencapai 2.850 unit kendaraan.
Pada H-6 lebaran, Sabtu (9/6), di segmen Pelabuhan-Bakauheni prediksi volume lalin yang melintas 8.857 unit, sementara di segmen Lematang-Kotabaru di hari yang sama berjumlah 3.638 unit.
Pada hari H-5 lebaran, prediksi volume lalin di tol segmen Bakauheni sebesar 10.470 unit dan di tol segmen Lematang-Kotabaru berjumlah 3.705 unit.
Jumlah tersebut diakuinya akan meningkat sesuai dengan prediksi puncak arus mudik pada Senin (11/6). Di segmen Bakauheni, diprediksi 10.590 unit kendaraan melintas dan di segmen Lematang Kotabaru 3.761 unit.
Arus balik liburan yang lebih panjang disebutnya diprediksi akan terpecah dan mengalir dengan adanya libur sekolah, libur hari raya Idul Fitri dan cuti bersama.
Selain saat arus mudik, lanjutnya, PT. Hutama Karya juga memprediksi volume lalin saat arus balik. Pada puncak arus balik dalam kurun waktu tiga hari, ia memprediksi volume lalin kendaraan mencapai 9.000-1.000 kendaraan per hari. Pada H+7 lebaran, Jumat (22/6), di segmen satu tol Bakauheni lalin mencapai 9.930 unit, dan di segmen Lematang Kotabaru mencapai 3.243 unit.
Pada H+8 Sabtu (23/6), di segmen satu tol Bakauheni lalin mencapai 10.530 unit dan di segmen Lematang Kotabaru berjumlah 3.259 unit. Sementara pada puncak liburan arus balik pada H+9, Minggu (24/6), lalin di JTTS segmen Bakauheni mencapai 10.355 unit dan segmen Lematang Kotabaru mencapai 3.281 unit.
JTTS ruas Bakter yang dikelola oleh PT. Hutama Karya selama angkutan lebaran, menyediakan beberapa fasilitas pelayanan di sekitar gerbang tol Bakauheni Selatan. Di antaranya sejumlah toilet mobile, tempat parkir dan klinik kesehatan di sisi kiri gerbang tol Bakauheni Selatan.
Fasilitas pendukung lain di antaranya kendaraan derek sebanyak 2 unit, ambulan 1 unit, mobil patroli 3 unit dan mobil rescue sebanyak 1 unit.
Pengurangan volume kendaraan di Jalinsum dampak adanya jalan tol Sumatera juga diakui oleh Soleh (38) anggota Satuan Polisi Pamong Praha Menara Siger. Tahun sebelumnya, volume kendaraan yang masuk ke Menara Siger berjumlah sebanyak 500 kendaraan per hari. Namun, saat beroperasinya jalan tol Sumatera, volume kendaraan masuk ke Menara Siger turun hingga di bawah 200 unit.
“Pada tahun ini terlihat penurunan volume di rest area Menara Siger, karena saat turun dari kapal kendaraan roda empat langsung masuk ke tol, kecuali motor,” terang Soleh.
Keberadaan rest area di jalan tol Sumatera disebutnya menjadi salah satu faktor berkurangnya volume kendaraan di rest area Jalinsum dan Jalintim. Penurunan tersebut berimbas pada penghasilan sejumlah penjual oleh-oleh yang biasanya berjualan di sekitar Menara Siger.
Sejumlah pedagang di Menara Siger saat ini sementara memilih berpindah ke sejumlah SPBU yang juga berfungsi sebagai rest area. Sejumlah SPBU juga menyediakan rest area sementara menggunakan tenda untuk pemudik.
Lihat juga...