Warga Buring Sambut Baik Kepastian Pembangunan Jembatan Permanen
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Harapan warga dusun Buring desa Sukabaru kecamatan Penengahan khususnya pelajar untuk bisa pergi sekolah dengan aman mulai mendapatkan perhatian pasca adanya kepastian pembangunan jembatan sungai Way Pisang dilanjutkan.
Kondisi jembatan gantung yang menjadi akses utama warga dan murid SDN 3 Sukabaru saat ini terbuat dari konstruksi kawat, bambu, kayu.
Drs. Suroyo, Kepala sekolah SDN 3 Sukabaru menyebut dari sekitar 195 murid, 95 di antaranya tinggal di seberang sungai Way Pisang. Pelajar ada yang nekat melewati jembatan dan ada pula yang memilih jalan memutar meski jaraknya sekitar tiga kilometer.
“Dari pihak desa saya juga dengar sudah diusulkan secepatnya jembatan permanen segera dibangun,” terang Drs.Suroyo kepada Cendana News di Penengahan, Rabu (2/5/2018).

“Saya bersama kawan kawan juga tidak perlu was-was berangkat sekolah karena selama ini kami melewati jembatan gantung yang rusak,” papar Ade.
Perbaikan jembatan dalam waktu dekat juga ditanggapi positif oleh Jumad, warga dusun Buring. Ia menyebut dengan pembangunan jembatan permanen, akses masyarakat, baik pelajar maupun petani lebih mudah.
“Distribusi barang hasil pertanian dan perkebunan selama ini terpaksa diangkut memutar mempergunakan akses jalan lain,” sebutnya.
Sementara itu, Pejabat Pelaksana Tekhnis Kegiatan (PPTK) pada dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lampung Selatan, Suhenda menyebutkan, perbaikan jembatan permanen meneruskan pembangunan tahap pertama tahun 2017.
Ia menyebut proses perbaikan segera akan dilakukan. Selama ini jembatan sementara dibuat berupa jembatan gantung terbuat dari kawat dan bambu.

Sebelumnya proses pembangunan dasar jembatan dikerjakan oleh PT.Queen Natsya Mandiri dengan nilai kontrak Rp1.196.430.000 dengan waktu pengerjaan sekitar 110 hari kalender pada tahun anggaran 2017.
“Saat ini sedang proses lelang lantai jembatan sehingga dalam waktu dekat akan segera direalisasikan pembangunan agar masyarakat bisa melintas dan beraktivitas untuk sekolah atau ke lahan pertanian,” beber Suhenda.