Permintaan Buah Kelapa Muda di Lamsel Mulai Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Sepekan jelang Ramadan, pedagang kelapa muda untuk minuman segar mulai mengalami kenaikan permintaan hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

Deni (34), salah satu pedagang kelapa muda di Lampung Selatan, menyebut menjelang Ramadan permintaan kelapa muda selalu meningkat untuk kebutuhan para pedagang pengecer buah kelapa muda dan pemilik usaha kuliner minuman es kelapa muda.

Menurut Deni, pada hari biasa, dalam sepekan ia hanya mengirim dua truk ekpedisi, dan menjelang Ramadan ini permintaan sudah naik menjadi 4 truk dalam sepekan.

Sekali pengiriman pada hari biasa, Deni mengirimkan 1.500 butir kelapa muda ke pengepul di wilayah Tangerang dan Jakarta, seribu butir di antaranya kelapa merah dan 500 butir kelapa hijau.

Permintaan kelapa disebutnya banyak berasal dari sejumlah restoran, warung makan, pedagang es buah, yang dipasoknya melalui pengepul yang ada di Tangerang dan Jakarta.

Kini, permintaan kelapa muda sekali pengiriman berjumlah sekitar 3.000 butir, bahkan bisa mencapai 5,000 butir sekali kirim.

“Kelapa muda saya peroleh dari membeli di kebun milik warga dari berbagai kecamatan, di antaranya Penengahan, Ketapang dan Bakauheni, selanjutnya dikumpulkan di pinggir Jalinsum menunggu truk ekspedisi,” terang Deni, di Jalinsum KM 3 Bakauheni, Rabu (9/5/2018).

Menurut Deni, harga kelapa muda hijau dan merah di tingkat petani saat ini berkisar Rp2.500 per gandeng berisi dua butir kelapa. Untuk memperoleh kelapa muda yang berkualitas, ia mempekerjakan empat karyawan yang bertugas mencari ke sejumlah kebun warga.

Pemanenan buah kelapa muda juga membutuhkan karyawan yang ahli dalam memilih kelapa muda yang sudah menghasilkan daging buah serta air yang manis.

Kelapa yang sudah dipilih dipanen menggunakan alat khusus berupa karung dan tali tambang, agar saat dijatuhkan tidak pecah. Pemetikan buah kelapa yang dikumpulkan di lokasi pengepulan setelah kelapa diangkut dengan kendaraan roda dua.

Pemetikan kelapa muda dibeli seharga Rp1.250 per butir, dilakukan dengan sistem deposit kepada pemilik kebun kelapa. Deposit senilai Rp1 juta hingga Rp2 juta dengan prediksi panen sekitar 3.000 butir dengan total harga Rp3,7 juta.

“Pemanenan kami lakukan beberapa tahap, dari batang pohon yang sudah kami beli sistem tebas, sehingga sebagai tanda jadi kami berikan deposit,” beber Deni.

Beberapa petani yang memiliki 400 batang kelapa, dengan hasil 1.000 butir bisa mendapatkan hasil Rp1,2 juta. Sementara beberapa petani lain yang memiliki kebun luas, bisa memperoleh hasil dua kali lipat dari penjualan kelapa muda yang semakin meningkat selama Ramadan.

Menurut Deni, pemilik enggan menjual langsung ke pengecer, karena selama ini sistem distribusi kelapa muda sudah dilakukan oleh pelaku usaha yang memiliki lapak di wilayah Jakarta dan Tangerang.

Sepekan jelang Ramadan, Deni menyebut kelapa muda yang dibelinya dengan sistem gandengan seharga Rp2.500 per gandeng, dijual ke pengecer seharga Rp4.000 per gandeng.

Memperhitungkan biaya ekspedisi untuk mengirimkan kelapa muda dalam satu pengiriman membutuhkan biaya Rp1,2 juta harga kelapa muda di tingkat pengecer menjadi Rp6.000 per butir.

Saat bulan puasa dengan permintaan meningkat, kelapa muda merah dijual seharga Rp8.000 dan kelapa muda hijau seharga Rp10.000 per butir.

“Tren permintaan kelapa muda yang tinggi saat Ramadan memang membuat pelaku bisnis usaha jual beli kelapa muda menjanjikan,” terang Deni.

Dalam sebulan, Deni mengaku bisa mengirim sekitar 48.000 butir kelapa. Padahal, dengan pengiriman per pekan satu truk berisi 3.000 butir, ia hanya bisa mengirim 6.000 butir kelapa muda.

Permintaan kelapa muda disebutnya tidak pernah mengalami peningkatan signifikan selain saat Ramadan, sehingga selain bagi Deni, sejumlah pemilik modal bahkan sebagian beralih menjadi pelaku usaha jual beli kelapa muda.

Harno (40), salah satu pengemudi truk ekspedisi mengaku biasa mengirim barang elektronik dari Jakarta ke Lampung. Saat pulang kendaraan yang kosong kerap dimanfaatkan untuk pengiriman komoditas pertanian.

Jasa pengiriman dengan biaya menyesuaikan jumlah muatan berkisar Rp1,1 juta hingga Rp2 juta, digunakan untuk menutupi biaya operasional. Jelang Ramadan seperti tahun sebelumnya, ia bisa mengangkut komoditas pertanian jenis kelapa, jengkol dan sayuran selama delapan kali dalam sebulan, dari Pulau Sumatera ke Jawa.

Lihat juga...