Kelapa jadi komoditas ekspor unggulan kedua setelah Sawit

Admin

JAKARTA, Cendana News – Kelapa menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia setelah sawit, dengan nilai ekonomi mencapai Rp30 triliun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi kelapa nasional mencapai 2,85 juta ton pada tahun 2021.

Jumlah produksi kelapa nasional itu meningkat 1,47 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,81 juta ton.

Riau menjadi provinsi sentra kelapa terbesar di tanah air, dengan produksi hingga 395 ribu ton pada 2021.

Kemudian, Sulawesi Utara menyusul dengan produksi sebesar 271,1 ribu ton.

Sementara itu daerah penghasil kelapa terbesar di Riau terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir yang berbatasan dengan Provinsi Jambi.

Kabupaten ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang menerapkan usaha tani kelapa hibrida pola perkebunan inti rakyat.

Adapun negara-negara yang menjadi tujuan ekspor kelapa Indonesia, antara lain, Amerika Serikat, Belanda, dan Korea Selatan. Kemudian, Tiongkok, Jepang, Singapura, Filipina, dan Malaysia.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia juga menempati urutan pertama sebagai negara produsen kelapa terbesar di dunia, dengan rata-rata produksi 18,04 juta ton kelapa.

Pada tahun 2020, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian mencatat setidaknya ada 13 ragam komoditas turunan kelapa yang laris di pasar global.

Negara tujuan ekspornya pun telah menembus enam benua, mulai dari Asia, Eropa, Australia, Afrika, Amerika Utara, hingga Amerika Selatan.

Hampir seluruh bagian kelapa telah diekspor, mulai dari daging kelapa, air kelapa, tempurung kelapa, sabut kelapa, sampai batang kelapa.

Dari sistem IQFAST, tercatat fasilitasi sertifikasi ekspor produk olahan kelapa periode Januari – Mei 2020 mencapai 463,5 ribu ton ke puluhan negara yang tersebar di 6 benua.

Selain Indonesia, ada empat negara lain penghasil olahan kelapa di dunia, yaitu, Filipina, India, Brazil, dan Srilanka.

Kendati begitu, dari catatan Badan Karantina Pertanian (Barantan) sepanjang tahunn  2020  India telah mengimpor olahan kelapa dari Indonesia sebanyak 59,3 ribu ton, dan Brazil mencapai 1,2 ribu ton.

Kemudian Srilanka impor 169,6 ribu ton dan Filipina sebanyak 65,5 ribu ton.

Besarnya minat pasar luar negeri terhadap kelapa mendorong pemerintah melakukan upaya pengembangan agribisnis kelapa. Pemerintah berupaya menyediakan bibit berkualitas dan pengembangan industri pengolahan kelapa melalui diversifikasi produk turunan kelapa.

Hingga kini, rata-rata produktivitas tanaman kelapa dalam negeri masih kurang dari 1 ton per hekatare, sehingga upaya pengembangan perlu menjadi fokus bagi pemerintah.

Lihat juga...