Perkawinan Satukan Keluarga Besar Pengantin Perempuan dan Laki-laki
Editor: Satmoko
JAKARTA – Pernikahan Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana (Sekar) dengan Ajie Sulistiyo Dwi Putra Maryulis (Ajie) dilakukan dengan tata cara adat perkawinan Jogjakarta yang penuh simbol dan arti yang mendalam untuk menyatukan keluarga besar antara pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
“Memang dari sejarah trah Ibu Tien Soeharto dari Keturunan Ningrat Mangkunegoro ke-3, sekarang yang menikah adalah cicitnya Ibu Tien Soeharto karena putrinya Mbak Tutut,“ kata RMT Agus Surendro, Kepala Rumah Tangga Ndalem Kalitan Solo, seusai acara siraman di kediaman Mbak Tutut, di Jalan Yusuf Adiwinata, Jakarta, Sabtu (5/5/2018).
Agus Surendro memaparkan prosesi pernikahan dari mulai pasang Tuwuhan, yaitu pasang pisang dan macam-macam tanaman untuk dipasang di kanan-kiri rumah orang yang menikah.
“Hal itu untuk menunjukkan kita punya kerja, punya gawe, dengan harapan bahwa mendapatkan pencerahan, mendapatkan segala kebahagiaan dengan segala macam pohon. Seperti pohon beringin untuk perlindungan, pohon tebu antepin kalbu, padi untuk makan, polo kependem singkong ketela rambat, dan lain-lain. Itu ditanam semua agar terjadi kemakmuran di dalam pernikahan tersebut,“ ungkapnya.

Kemudian, prosesi selanjutnya, yaitu pasang bleketepe, anyaman dari daun kelapa untuk menandakan orang dulu pasang tenda dari daun kelapa.
“Pasang bleketepe itu simbol dari hal tersebut,” bebernya.
Sesudah itu, kata Agus Surendro, dilanjutkan dengan acara siraman, bahwa pengantin pada dasarnya baru akan mulai kehidupan sehingga perlu dimandikan.
“Agar bersih dari segala pemikiran, bersih dari segala niat, bersih dari hati, bersih dalam arti juga suci seperti wudhu. Agar semua harapan dan cita-cita menjadi bersih semua maka diadakan acara siraman. Baik untuk pengantin perempuan maupun pengantin laki-laki,“ paparnya.
Ada juga acara yang secara simbolik berupa menanam potongan rambut pengantin perempuan dan pengantin laki-laki, disatukan. Lalu ditanam di rumah pengantin perempuan.
“Hal tersebut tujuannya agar perkawinan bisa menyatukan keluarga besar antara pengantin perempuan dan pengantin laki-laki,“ ujarnya.
Ada pula acara siraman yang harus dilakukan dengan tujuh macam sumber air. Maka dari itu disebut Tirto Purwitosari, karena simbol dari tujuh sari bumi. Tujuh macam mata air dari inti bumi.

“Simbol air tersebut yaitu dari Puro Mangkunegaran, dari rumahnya pengantin perempuan, pengantin laki-laki, dari rumah eyangnya, kemudian dari tempat-tempat yang sakral lainnya,“ urainya.
Maka dari itu juga, disebut Tirto Purwitoadi, supaya ada keindahan dari sisi kegunaan, keindahan dari sisi bentuk fisik dan keindahan dari sisi hati.
“Jadi keindahan spiritual diharapkan masuk, maka ada acara dimandikan dengan tujuh macam air tersebut,“ tandasnya.