Kinerja Fundamental Ekonomi Pengaruhi Pelemahan Rupiah
Editor: Mahadeva WS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah menembus level Rp 14.000 rupiah per dollar Amerika Serikat (AS), mulai awal Mei 2018 ini. Pelemahan nilai rupiah tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi global.
Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, pelemahan nilai rupiah banyak dipengaruhi faktor global. Termasuk proyeksi kenaikan suku bunga The Feed di AS yang angka psikologisnya sudah tembus tiga persen.
Kemudian faktor, harga minyak dunia yang tembus di angka 70 dollar AS per barrel. Dan saat ini diproyeksi menuju ke 80 dollar AS per barrel. “Titik 80 dollar AS per barrel itu titik krusial. Dipastikan larinya ke domestik lebih besar. Yakni subsidi bengkak atau harga naik,” kata Yusuf kepada Cendana News di Jakarta, Selasa (8/5/2018).
Menurutnya, dampak dari pelemahan nilai rupiah adalah risiko fiskal yang makin tinggi. Kekhawatiran lain adalah terpicunya investasi asing ditarik ke luar. “Ini penyakit kronis. Jadi pelemahan rupiah dipengaruhi juga kondisi fundamental ekonomi. Pemerintah harus memperkuat kinerja ekonomi domestik,” ujar Yusuf.
Di sisi lain menurutnya, situasi yang terjadi saat ini sudah sering terjadi. Rupiah sering tidak dalam kondisi pasarnya dan cenderung lemah dari pengaruh sentimen negatif. Hal itu disebutnya, dipengaruhi kinerja fundamental ekonomi Indonesia yang cenderung lemah.
Selama ini, kinerja rupiah lebih banyak ditopang oleh investasi di sektor portofolio atau keuangan terutama bond market. Sehingga begitu ada guncangan langsung terasa, dan ini akan terus terulang kalau pemerintah tidak punya misi besar untuk kemandirian ekonomi nasional. “Nggak usah jadi negara eksportir yang hebat dulu kaya China, tapi minimal mandiri. Impornya nggak kelewat tinggi,” tukas Yusuf.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan bahan-bahan baku untuk industri, sudah sangat masif. Dari impor minyak atau beras saja, sudah ratusan miliar dolar yang dihabiskan negara dalam hitungan hari. “Impor yang masif pasti akan menguras devisa. Jadi kalau kinerja eskpor kita tidak bisa mandiri akan selalu rentan digoyang sentimen asing,” ungkap staf pengajar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) tersebut.
Padahal Indonesia termasuk negara besar dengan penduduk hampir 300 juta jiwa. Sehingga seharusnya memiliki strategi kemandirian nasional untuk stabilitas nilai tukar. Kalau Indonesia tidak mandiri dan banyak ketergantungan, nilai rupiah otomatis akan mudah terpengaruh kondisi ekonomi global.
Untuk mewujudkan kemandiran Indonesia harus mengejar ekspor. Salah satunya dengan menggunakan keunggulan komparatif untuk melakukan ekspor sebanyak-banyaknya, sehingga nanti kebutuhan impor itu bisa tertutup. Hal tersebut seperti yang dilakukan Korea dan Jepang dengan strategi komparatif. Impor mereka besar tapi ekspor yang dilakukan juga lebih besar lagi. “Nah, kita ini nggak jelas impor besar, ekspor nggak ada arahnya. Puluhan tahun ekspor kita hanya seputar komoditas. Ini kan menyedihkan,” tukasnya.
Strategi industrilisasi Indonesia tidak kelihatan mau dibawa kemana arahnya. Kemandiran ekonomi membutuhkan proses jangka panjang dan tidak mungkin cepat terwujud. Namun langkah-langkah strategis harus diterapkan dari sekarang. Salah satunya, trasformasi industri harus dilakukan dengan arus teknologi secara sistematis.
“Kalau tidak, kita akan begini terus. Rentan perekonomian kita, rupiah tergerus terus,” pungkasnya.