Furniture Berbahan Aluminium di Lamsel Kian Diminati

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Kebutuhan akan furniture rumah tangga berbahan dasar aluminium yang semakin meningkat, membuat Iswanto (44) membuka usaha furniture alumunium.

Warga Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan tersebut, mengatakan pada sepuluh tahun silam, workhsop (bengkel) pembuatan furniture aluminium masih sedikit, namun kini semakin merambah ke setiap desa.

Iswanto menyebut, awalnya ia hanya bekerja sebagai seorang karyawan dan mulai belajar membuat berbagai jenis furniture. Berbekal modal usaha dari tabungan dan juga pinjaman kredit usaha ringan (KUR) sebuah bank pemerintah, ia mulai mengembangkan usaha furniture aluminium.

Iswanto,pemilik usaha furniture berbahan alumunium dan kaca di desa Pasuruan kecamatan Penengahan Lampung Selatan  [Foto: Henk Widi]
Sebagai lokasi tempat pembuatan, lahan yang semula merupakan kolam renang anak-anak disulap menjadi bangunan workshop. “Saya awalnya hanya bekerja sebagai karyawan dalam usaha yang sama lalu ketika modal terkumpul untuk membeli alat, bahan baku dan bisa mengajak karyawan menerima pesanan berbagai furniture aluminium,” terang Iswanto, Selasa (1/5/2018).

Iswanto mengatakan, beragam furniture rumah tangga berbahan aluminium dengan berbagai desain semakin diminati masyarakat. Sebab, penggunaan furniture aluminium dengan desain yang elegan, mewah, bahan mudah didapat sekaligus memiliki kelebihan dibanding berbahan kayu dan besi.

Selain anti rayap dan anti karat, furniture aluminium diminati, karena tahan api. Namun, furniture berbahan alumunium  ini menuntut kreativitas agar memiliki desain yang unik dan elegan.

Iswanto menyebut, saat ini di workshop miliknya sudah menerima pesanan sekitar 31 jenis produk furniture keperluan rumah tangga. Beberapa furniture yang kerap dipesan, di antaranya lemari baju, lemari piring, pintu kamar mandi, etalase, kotak amal, gerobak nasi, kitchen set, kusen klinik, kusen pintu dan jendela serta berbagai jenis perabotan rumah tangga berbahan alumunium dan kaca.

Furniture berbahan aluminium tersebut, katanya, banyak diminati oleh ibu rumah tangga dengan beragam pilihan desain. Pembuatan furniture aluminium dan kaca bisa dikustomisasi (disesuaikan) dengan kebutuhan dan minat pelanggan.

Umumnya, kustomisasi furniture aluminium berupa corak warna, aksesoris, ukuran serta jenis kaca dan aluminium yang akan dipakai. Awalnya, dengan modal terbatas sekitar Rp100 juta, Iswanto hanya mampu menyediakan alumunium berwarna metalik dan beberapa alat.

“Saat modal bertambah, saya bisa memperluas lokasi usaha sekaligus menambah alat dan membeli beragam bahan aluminium batangan, pipa, sekaligus aksesoris yang lebih beragam,” papar Iswanto.

Sempat gagal mencalonkan diri sebagai kepala desa di tempat tinggalnya, Iswanto mengaku masih tetap berkeinginan mengabdikan diri bagi masyarakat. Caranya dengan merekrut para pemuda yang memiliki keahlian dalam bidang kerajinan pembuatan furniture tersebut. Bermula memiliki dua karyawan produksi dan satu pengemudi untuk mengantar pesanan, kini ia sudah memiliki enam karyawan.

Menciptakan lapangan usaha dengan skala kecil dan terus berkembang, diakuinya berdasar keinginannya mencegah anak-anak muda merantau. Kebiasaan atau tren anak muda di Lampung Selatan yang memilih merantau ke wilayah Serang, Banten, di pabrik garmen, konstruksi, diakuinya disebabkan karena kurangnya lapangan kerja.

Ia pun berharap, lapangan pekerjaan baru bisa diciptakan dengan pembuatan furniture aluminium tersebut.

Upaya menciptakan usaha baru tersebut cukup beralasan, sebab pemilik usaha kuliner dan toko saat ini banyak bergantung padanya. Beberapa pemilik warung makan, penjual es buah, bakso, toko dengan kebutuhan etalase aluminium dan kaca yang tinggi memesan kepada Iswanto untuk selanjutnya digunakan sebagai modal usaha.

Beberapa pemilik usaha lama yang ingin mengganti etalase lama sekaligus mulai bermunculan para pemilik usaha yang akan memulai usaha dengan sarana berjualan dari etalase kaca.

“Menjelang bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri pesanan untuk pembuatan etalase kaca serta furniture aluminium mulai meningkat,” cetus Iswanto.

Pesanan datang dari sejumlah warung dan warga yang akan memulai usaha berjualan kuliner musiman saat bulan Ramadan. Daftar pesanan sudah cukup banyak dan dikerjakan sesuai dengan urutan antrian.

Banyaknya pesanan tersebut tidak mengurangi ketelitian sekaligus kerapian dalam pembuatan furniture, karena baginya kepuasan pelanggan terlihat dari kualitas hasil produk yang dibuat.

Omset sekitar puluhan juta diakui Iswanto diperoleh setiap bulan karena banyaknya pesanan. Sedangkan, harga furniture aluminium dan kaca menyesuaikan bahan, ukuran dan desain. Meski demikian, ia menyebut harga dipatok mulai dari Rp65.000 untuk kotak amal hingga Rp8 juta untuk perangkat kitchen set lengkap. Beberapa furniture rumah tangga berupa meja, lemari, etalase, rata-rata seharga Rp1-2 juta.

Hendra (30), salah satu karyawan, menyebut, awalnya ia tidak memiliki pekerjaan. Berkat usaha furniture aluminium milik Iswanto bersama lima karyawan lain ia bisa membuat beragam produk furniture.

Sebelum bisa bekerja, ia harus berlatih terlebih dahulu sembari mengerjakan pesanan. Selain bisa bekerja tanpa harus merantau dengan semakin banyaknya pesanan, ia juga mendapatkan banyak penghasilan sesuai dengan presentase dari setiap penjualan produk.

Hendra mengaku dalam sebulan bisa mendapat hasil lebih dari Rp3 juta, terutama saat pesanan meningkat. Selain di workshop, Hendra juga mulai membuka usaha toko di dekat rumahnya memajang hasil produk furniture aluminium tempatnya bekerja.

Selain bisa memberi penghasilan bagi dirinya, ia bahkan sudah bisa membuka toko bagi sang istri untuk penjualan sejumlah perabotan rumah tangga, beberapa di antaranya berbahan aluminium.

Lihat juga...