Belum Semua Pasar di Kota Yogyakarta Mampu Olah Sampah
Editor: Koko Triarko
YOGYAKARTA — Belum semua pasar tradisional di Kota Yogyakarta mampu mengolah sampah yang dihasilkan. Mayoritas sampah diketahui langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan menggunakan truk-truk sampah setiap harinya.
Seperti terlihat di pasar tradisional Sentul, Kota Yogyakarta. Di pasar ini, sebanyak satu hingga dua truk sampah sisa aktivitas perdagangan dihasilkan setiap harinya. Berbagai jenis sampah baik anorganik seperti plastik maupun sampah organik seperti sisa sayuran, dicampur menjadi satu untuk langsung dibuang ke TPA.
“Setiap hari, ada satu dua truk sampah yang dihasilkan. Begitu terkumpul langsung dibuang ke TPA Piyungan Bantul. Tidak ada pengolahan karena tidak ada tempat, alat, maupun tenaganya,” ujar salah seorang petugas, Anwar, Rabu (9/5/2018).
Di samping sampah rumah tangga, sampah yang dihasilkan pasar-pasar tradisional memang menjadi salah satu penyumbang volume sampah terbesar yang dibuang ke TPA. Dengan kapasitas TPA Piyungan, Bantul yang semakin penuh, pengolahan sampah menjadi sangat penting dilakukan agar dapat mengurangi volume sampah yang dihasilkan.
Sampah anorganik seperti plastik semestinya dapat didaur ulang atau pun dijual, sehingga mengasilkan nilai ekonomi. Begitu juga sampah organik yang dapat diolah menjadi pupuk dan dimanfaatkan untuk sektor pertanian.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta, Suharno, mengakui belum semua sampah yang dihasilkan pasar tradisional mampu diolah sebelum dibuang ke TPA Piyungan Bantul. Hal itu disebabkan persoalan klasik, yakni keterbatasan tenaga maupun sarana prasarana.
“Namun, sudah ada beberapa yang kita olah dahulu sebelum dibuang ke TPA. Ini yang terus kita upayakan untuk ditingkatkan,” katanya.