Berawal Dari Salon Kecantikan,Yuliana Rambah Bisnis Catering

Editor: Mahadeva WS

MAUMERE – Peluang usaha di kabupaten Sikka, Flores dan Nusa tenggara Timur (NTT) masih terbuka lebar. Belum banyak masyarakat yang menggeluti sektor yang sangat menjanjikan karena memberikan pendapatan yang lumayan besar tersebut.

Beruntung sosok Yuliana Elisabet Daton yang tinggal di Maumere mendapatkan pelajaran mengenai wirausaha sejak kecil. “Saya terbiasa diajari ibu saya almahrumah Thedora Mila yang punya bisnis kue atau masakan. Akhirnya saya dan tiga kakak perempuan sudah terbiasa memasak, mengetahui bumbu dan cara memasak,” ujar Yuliana kepada Cendana News, Selasa (6/3/2018).

Yuliana Elisabet Daton, salah seorang perempuan pengusaha kecil dan manengah di kota Maumere kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

Perjalanan karir Yuliana sebagai wirausaha diawali menjadi pegawai honor di kantor Pajak Maumere selama 6 bulan selepas SMA. Merasa tidak pas dengan kegiatan tersebut, Yuliana akhirnya memilih hijrah ke Jakarta untuk kursus kecantikan dan bekerja selama 6 tahun di ibukota negara.

Usaha di Maumere dimulai pada saat mengambil keputusan untuk pulang pada 1997 silam. Diawali dengan  membuka salon kecantikan, akhirnya melihat peluang bisnis butik yang saat itu belum ada saingannya di Maumere.

Perempuan kelahiran Maumere 16 Juni 1973 tersebut sempat membuka berbagai usaha seperti kredit perabotan rumah tangga, bisnis emas dan perhiasan lalu membuka butik yang menjual pakaian dan tas.

“Saat ini saya juga membuka usaha kos-kosan dengan 8 kamar setelah melihat bisnis ini cukup menjanjikan.Saya juga sedang berencana membuka rumah makan dengan konsep pelanggan memetik sendiri sayuran dan mengambil ikan yang ada di kolam di sekitarnya,” ungkapnya.

Menurut Yuliana, di Sikka rata-rata orang selalu mempertimbangkan keberadaan modal saat mau membuka usaha. Sementara kalau mau memiliki usaha pada dasarnya modal bukanlah faktor terpenting. Kemauan dan niat menjadi hal terpenting yang harus dimiliki seseorang ketika mau membuka usaha.

“Kadang idenya tinggi tapi kalau sudah bicara modal mereka mundur teratur. Saya juga awalnya mulai dari nol dan saya yakin kalau kita mau berusaha Tuhan pasti membuka jalan bagi kita dan bisa meraih sukses,” tuturnya bijak.

Salon kecantikan yang didirikan istri dari Paulus Pio ini pada awalnya sangat ramai. Hal itu dikarenakan di kota Maumere paling banyak hanya ada tujuh salon kecantikan saja. Karena banyaknya pelanggan, salon tersebut sempat dikelola hingga mempekerjakan delapan orang.

Usaha kuliner berupa bisnis catering diawali Yuliana dari posting makanan di media sosial. Ternyata banyak teman dan kolega yang senang dengan postingan tersebut dan memesannya. Kini bisnis catering hanya dilakukan lima hari dalam seminggu, karena sisa hari di akhir pekan dimanfaatkan membuka bazar guna mencari dana bagi organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Kabupaten Sikka.

“Setiap hari Sabtu dan Minggu saya membuka bazar di depan gereja St.Thomas Morus untuk mencari dana bagi organisasi WKRI kabupaten Sikka. Sedikit keuntungan kami sumbangkan untuk keuangan organisasi, ” ungkapnya bangga.

Ternyata setelah Yuliana membuat bazar dan mencari dana, banyak ibu-ibu yang mulai mengikuti dengan menjual aneka produk, bahkan ada yang mulai menjual makanan juga. Di bazar Yuliana membuat makanan yang berbeda seperti Spagheti, Panada, Piza agar tidak menyaingi makanan yang dijual ibu-ibu lainnya.

Anak dari Wilem Pati Daton asal Flores Timur ini menyebut, soal modal lebih suka nekat tapi dengan alasan dan perhitungan yang matang. Bila mau maju maka harus berani membuat keputusan dan mengambil resiko. “Dalam berusaha kita tidak boleh mengambil untung besar dahulu atau menghitung untungnya berapa. Tapi bagaimana caranya kita membuat orang lain suka dengan makanan saya dan tertarik dengan barang yang saya jual dan bisa menjadi pelanggan,” pesannya.

Kini dari aktivitas usaha yang dimiliki, Yuliana menyebut ada saja pemasukan dan keuntungan yang diperoleh. Usaha salon dalam sehari ada saja pelanggan yang mampir. Sedangkan catering Yuliana bisa menjual makanan sampai 600 bungkus sehari dan meraih untung paling sedikit Rp200 ribu sehari.

“Saya tidak pernah mengajukan bantuan ke pemerintah sebab saya tidak terbiasa meminta bantuan dana. Lebih baik saya mencari dana dengan menjual produk atau makanan dan keuntungannya bisa disisihkan untuk organisasi atau modal usaha,” pungkasnya.

Lihat juga...