Banjir di Lahan Persawahan Ketapang Mulai Surut
Editor: Irvan Syafari
LAMPUNG — Banjir yang melanda di wilayah Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan mengakibatkan lahan persawahan padi, kacang hijau dan bawang merah sempat terendam. Aliran air dari wilayah perbukitan Register II Pematang Taman dan irigasi yang sempit akibat hujan deras membuat lahan persawahan masih terendam air.
Supri (30), petani padi di Dusun Kali Lana, Desa Ruguk menungkapkan, padi miliknya sempat terendam banjir namun sudah berangsur surut.
Menurut Supri banjir yang melanda wilayah tersebut sudah berlangsung selama tiga hari. Beruntung hujan tak lagi turun, sehingga air bisa terbuang ke saluran pembuangan tepat berada di Jalan Lintas Timur Sumatera.
Gorong gorong yang kecil disebutnya mengakibatkan air tidak mengalir lancar dan merendam puluhan hektare lahan pertanian padi, kacang hijau dan bawang merah.
“Kami sempat was was air tidak surut terutama pada lahan pertanian kacang hijau yang bisa mengakibatkan tanaman mati jika terendam sepekan lebih,” kata Supri kepada Cendana News, Rabu (6/3/2018)
Tanaman kacang hijau yang mulai akan berbunga tersebut diakui Supri sempat diterjang genangan air selama dua kali, kemudian surut setelah hujan tak lagi melanda wilayah tersebut.
Pasca surut, Supri terpaksa membuat saluran saluran air agar lokasi lahannya cepat mengering dan tanaman kacang hijau miliknya tumbuh dengan normal dan bisa berbuah.
Selain sempat merendam lahan tanaman kacang hijau rendaman, banjir juga merendam tanaman padi varietas Muncul miliknya yang berusia 35 hari. Genangan air masih terjadi di areal lahan tanaman padi tidak menjadi kendala bagi Varietas Muncul. Selain tahan genangan air, Varietas Muncul bisa bertahan tegak sehingga tidak roboh saat tergenang air dalam waktu lama.
“Genangan air segera surut setelah dilakukan pembersihan saluran gorong gorong akibat sumbatan sampah ditambah hujan sudah tidak turun lagi,” tutur Supri.
Selain Supri sejumlah petani penanam bawang merah,tomat dan cabai caplak di Desa Ruguk sempat was was pasca banjir melanda wilayah tersebut. Di antara meraka terdapat Hendra (36).
Dia terpaksa menggunakan mesin pompa untuk membuang air yang menggenang di lahan pertanian bawang merah dan cabai di wilayah tersebut. Guludan untuk penanaman bawang merah nyaris terendam selama beberapa hari.
Tanaman bawang merah berusia 30 hari akan dipanen pada usia 60 hingga 70 hari dengan kondisi cuaca yang kerap hujan. Lahan cabai merah, bawang merah pada musim hujan harus selalu dikuras pada bagian saluran air, agar tidak tergenang air. Selain berpotensi menyebabkan tanaman busuk genangan air yang terlalu banyak bisa membuat produktivitas bawang merah menurun.
Antisipasi banjir dan hujan yang masih kerap terjadi di wilayah Lampung Selatan diakui Hendra, dilakukan dengan membuat talud dari karung berisi pasir. Selain curah hujan yang tinggi normalisasi Kali Lana menuju ke saluran tambak intensif milik perusahaan belum dinormalisasi.
Imbasnya saat terjadi hujan deras lahan pertanian padi sawah, kacang hijau dan bawang merah, cabai merah kerap terendam banjir.
“Saat tidak turun hujan selama dua hari ini kami manfaatkan melakukan perbaikan saluran air dan proses pemompaan air,”tutup Hendra.
Selain aliran air saat hujan yang tidak tertampung di saluran irigasi, saat hujan sebagian wilayah lahan pertanian kerap terimbas luapan Sungai Way Kelala. Genangan air akibat hujan dan banjir membuat petani was was terutama pada lahan pertanian yang berada di dekat sungai dan saluran irigasi.