175 Warga Terdampak Banjir Periksakan Diri ke Posko Kesehatan
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Sejak terimbas banjir selama sebelas hari, lebih dari 175 warga sudah memeriksakan diri ke posko kesehatan milik Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan.
Dokter dari Puskesmas rawat inap Sragi yang ditugaskan di posko kesehatan, dr. Rohana, menyebut petugas dokter, bidan, perawat disiagakan selama banjir berlangsung. Memasuki hari kelima posko kesehatan didirikan, banyak pengungsi mengeluhkan penyakit kulit. Selain itu, juga pusing, darah rendah, mual, darah tinggi, demam, gangguan pencernaan.
Posko kesehatan yang disiagakan di dekat Madrasah Ibtidaiyah Guppi 05 Bandar Agung, dijaga selama 24 jam dengan petugas kesehatan. Selain posko kesehatan sesuai instruksi UPT Puskesmas rawat inap Sragi, Sumari, Puskesmas Desa Bandar Agung, Puskesmas rawat inap Sragi menjadi fasilitas kesehatan pertama disiagakan.
“Hingga hari kelima posko disiagakan di lokasi banjir, belum ada warga yang harus dirawat ke Puskesmas, bahkan rumah sakit, rata-rata memeriksakan kesehatan di posko dan diberi obat sesuai keluhan yang diderita,” terang dokter Rohana, Jumat (16/3/2018).
Dokter Rohana menyebut, selama banjir berlangsung sebagian pengungsi mengeluhkan beragam penyakit akibat tinggal di lokasi yang tidak nyaman. Selama posko kesehatan dibuka dominan keluhan dialami oleh kaum perempuan dan anak-anak.
Genangan air yang masih mengepung perkampungan warga, membuat keluhan utama warga sebagian merupakan gangguan penyakit kulit.
Menurut Rohana, stok obat-obatan masih mencukupi untuk pengungsi korban banjir yang merupakan bantuan dari Dinas Kesehatan. Bantuan tambahan untuk membantu korban banjir, bahkan diserahkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung Selatan, di antaranya sabun antiseptik, makanan tambahan untuk balita, susu balita serta lainnya.
Selain dari IDI Lamsel, kepedulian juga diberikan dengan bantuan obat-obatan dan peralatan kesehatan dari Persatuan Perawat Nasional (PPNI) Lampung Selatan.
Dokter Rohana juga menyebut, bantuan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Lamsel juga masih mengalir pada Kamis (15/3). Bantuan untuk korban banjir tersebut dikumpulkan di posko kesehatan untuk membantu para korban banjir. Beberapa bantuan yang diberikan di antaranya peralatan sekolah, tikar, selimut, kelambu, ember dan peralatan lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, dr. Jimmy Bagas Hutapea, saat ditemui Cendana News ketika mengunjungi pengungsi korban banjir mengaku tim kesehatan disiagakan selama dan pascabanjir. Ia belum memastikan kapan posko kesehatan akan dihentikan, melihat kondisi banjir yang belum surut di Desa Bandar Agung tersebut.
“Petugas dari dinas kesehatan melalui UPT Puskesmas terdekat ditempatkan di posko kesehatan selama banjir, dan ini sangat membantu warga memeriksakan kesehatan,” terang dr. Jimmy Bagas Hutape.
Kepada pengungsi yang menempati sejumlah tenda, ia mengimbau agar menjaga kebersihan terutama bagi anak-anak. Genangan air di lokasi banjir disebutnya berpotensi menjadi sumber bibit penyakit, sehingga penggunaan air bersih harus diprioritaskan bagi korban banjir. Sebab ia menyebut potensi penyakit bisa timbul selama banjir berlangsung hingga pascabanjir surut.
Beberapa potensi penyakit yang muncul pasca banjir, disebutnya berupa diare akibat air tidak bersih, demam berdarah dengue, demam, leptospirosis, infeksi saluran pernafasan atas dan aneka penyakit kulit.
Ia menambagkan, pascabanjir ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan UPT Puskesmas rawat inap Sragi untuk membagikan abate dan melakukan pengasapan (fogging).
“Kondisi kesehatan lingkungan dan kesehatan pribadi masyarakat akan terus kita pantau selama dan pascabanjir, agar tidak ada penyakit mewabah,” terang dr. Jimmy Hutapea.
Ia juga mengatakan, selain perawatan tingkat pertama di posko kesehatan dan Puskesmas, dalam kondisi darurat ambulans juga disiagakan di dekat lokasi banjir. Bagi pasien yang perlu mendapatkan pelayanan kesehatan lanjutan Rumah Sakit Umum Daerah dr.Bob Bazaar Kalianda bahkan disiagakan.
Akibat banjir dengan akses jalan yang masih terhambat dan akses jalan melalui tanggul penangkis sulit dilalui, sejumlah kendaraan sulit melintas. Imbasnya bantuan peralatan kesehatan termasuk fasilitas mobil ambulans hanya bisa mencapai titik satu kilometer tanggul penangkis.
Peralatan kesehatan dan juga tenaga kesehatan bahkan harus berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk mencapai posko kesehatan dan sebagian menggunakan perahu karet.