Warga Pulau Rimau Balak Lamsel Dambakan PLTD

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Puluhan kepala keluarga di pulau Rimau Balak saat ini memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk pasokan listrik. Sebelumnya, selama puluhan tahun tinggal di Pulau Rimau Balak memanfaatkan lampu dengan bahan bakar minyak.

Sumani (50), salah satu warga Dusun Peritaan menyebutkan, warga baru bisa menikmati listrik tenaga surya pada tahun 2008 dengan paket tenaga surya bantuan dari pemerintah.

Wilayah yang belum terjangkau listrik PLN tersebut hanya memanfaatkan listrik tenaga surya hanya untuk penerangan dengan solar panel 100 watt peak (Wp). Solar panel dengan ukuran 1 meter persegi tersebut dipasang pada bagian atap rumah dikenal dengan solar cell roof top.

“Saat siang hari dengan kondisi cuaca panas panel surya bisa menangkap energi surya dan disimpan dalam sebuah aki dan inverter bisa dipergunakan sepanjang malam tapi tidak bisa dipergunakan untuk menonton televisi,” beber Sumani saat ditemui Cendana News, Sabtu (17/2/2018)

Kepala Dusun Gusung Berak, Suhendra menyebutkan, empat kampung di pulau Rimau Balak rata-rata memanfaatkan listrik tenaga surya karena yang mampu membeli genset penghasil listrik tenaga diesel masih cukup terbatas.

Warga yang membutuhkan es batu sebagai pengawet saat melakukan penangkapan ikan bahkan harus membeli di daratan pulau Sumatera.
Sebanyak 90 kepala keluarga dengan jumlah 200 jiwa di Pulau Rimau Balak sudah mengusulkan ke pemerintah daerah untuk penyediaan fasilitas pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Pulau Rimau
Suhendra, Kepala Dusun Gusung Berak Desa Sumur Kecamatan Ketapang di Pulau Rimau Balak [Foto: Henk Widi]
Penyediaan PLTD tersebut diharapkan bisa memudahkan masyarakat dalam mengakses energi listrik. Beruntung warga memperoleh bantuan fasilitas masjid Nurul Bahri Mubin. Masjid bantuan dari PT.ASDP Indonesia Ferry Bakauheni tersebut sekaligus dilengkapi panel tenaga surya cukup memadai. Sumber penerangan listrik komunal di sekitar masjid bahkan ikut terbantu sehingga kerap dipergunakan anak usia sekolah untuk belajar saat malam hari.

“Warga bahkan kerap mengisi daya baterai telepon seluler di masjid yang memiliki aki penyimpanan cukup besar karena keterbatasan energi listrik di setiap rumah warga yang memiliki panel tenaga surya kecil ,” bebernya.

Panel tenaga surya yang dimiliki oleh warga dan mengalami kerusakan diakui Suhendra kerap terkendala mahalnya spare part dan tekhnisi. Saat panel surya penghasil energi listrik rusak sebagian warga harus membawa ke daratan Pulau Sumatera dengan menggunakan jasa ojek perahu. Keterbatasan energi listrik bahkan membuat warga sengaja menghidupkan lampu sejak pukul 18:00 dan akan dimatikan pada pukul 23:00.

Lihat juga...