Serangan Keong Mas dan Kurangnya Air Hantui Petani di Lamsel
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Padi berusia sekitar satu bulan di sejumlah kecamatan Lampung Selatan, mulai mendapat serangan hama keong mas, yang kerap memangsa daun muda padi. Demikian dikatakan Subandi (40), petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, yang mengaku mengalami kerusakan pada beberapa petak lahan sawah miliknya akibat serangan hama keong mas.
Serangan yang mengakibatkan daun padi habis bahkan membuat petani terpaksa menyediakan benih baru untuk penyulaman.
Subandi menyebut, untuk mengantisipasi serangan hama keong mas tersebut ia mempergunakan obat pembasmi hama, meski cara tersebut kurang efektif, karena tidak secara keseluruhan memusnahkan hama, terutama perkembangan keong mas melalui telur yang sangat cepat. Subandi bahkan kerap mengumpulkan keong mas secara manual untuk dipergunakan sebagai pakan ternak bebek.

Keong mas yang kerap bersembunyi di rumpun tanaman padi untuk bertelur, kata Subandi, semakin ganas setelah telur-telur tersebut menetas. Sehingga tanaman padi yang ditanam kerap rusak, dan terpaksa diganti dengan padi yang baru, meski ia kesulitan mencari benih karena masa tanam yang tidak serentak.
Selain menggunakan obat kimia untuk mengurangi dampak kerusakan tanaman padi oleh serangan hama keong mas, Subandi juga mempergunakan daun pepaya dan daun talas untuk memancing keong mas.
Daun pepaya dan talas yang kerap disukai oleh keong mas tersebut selain dimangsa sekaligus menjadi tempat berkumpul dan berteduh keong mas, sehingga Subandi dengan mudah bisa memusnahkan hama tersebut. Dengan ketelatenan memeriksa tanaman padi setiap pagi dan sore, ia mengaku masih bisa menyelamatkan tanaman padi usia dua bulan ari serangan hama keong mas.
Selain hama keong mas yang merepotkan petani di Kecamatan Penengahan, petani di Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan juga dihantui ketersediaan pasokan air yang mulai cukup sulit diperoleh.
Suripto, petani padi varietas Muncul di Desa Way Gelam, menyebut hujan yang sempat turun dimanfaatkan untuk pencetakan sawah atau pengolahan lahan. “Saat memasuki masa pemupukan pertama atau usia dua bulan lebih, lahan mulai mengalami kekeringan, bahkan sawah retak-retak akibat kekurangan air,” beber Suripto.
Ia dan petani lain terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk memompa air dari sumur bor dan air ari Sungai Way Gelam, yang dibendung untuk mendapatkan pasokan air. Mesin sedot dengan bahan bakar premium diakuinya per jam menghabiskan biaya sekitar Rp10.000, sementara proses mengairi lahan sawah membutuhkan waktu sekitar 8 jam, sehingga total biaya bahan bakar mencapai Rp80.000. Dirinya menghabiskan Rp200.000 sekali proses penyiraman karena harus menyewa pompa air.
Belum meratanya hujan di wilayah tersebut, diakuinya membuat sejumlah lahan pertanian padi sawah di Desa Sinar Pasemah, Desa Way Gelam, Trimomukti dan beberapa desa lain yang sedang membutuhkan air harus diairi dengan membeli air.
Ia berharap, hujan segera turun lebih merata, terutama pada masa tanaman padi milik petani di wilayah tersebut membutuhkan air hingga masa mengisi bulir padi, agar produksi padi tidak menurun.