Pemkab Jayawijaya Imbau Warga Waspadai Daging Babi Scabies
WAMENA – Pemerintah Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua, mengajak warga untuk waspada jika hendak mengkonsumsi daging babi, terutama babi yang terkena scabies atau kudis.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Aprida Rapi,mengatakan, babi yang terkena scabies pasti mengidap penyakit lain yang berbahaya bagi manusia.
“Penyakit ini bisa saja berdampak terhadap manusia. Kalau kena scabies pasti ada penyakit lain, misalnya cacing dan kalau kita makan daging yang memang sudah kena cacingan bisa telurnya (telur cacing) berpindah ke manusia. Maka, kalau masak daging harus yang lama, agar benar-benar matang,” katanya di Wamena, Rabu (21/2/2018).
Kasus scabies di Jayawijaya disebutnya sangat banyak. Selain ada laporan dari masyarakat juga dari hasil pemantauan staf dinas pertanian di lapangan, yaitu banyak ternak babi menunjukkan gejala penyakit kudis tersebut.
“Scabies itu banyak laporan dan banyak yang kita lihat. Jumlah kasus, kalau satu hari kita layani lima orang (pemilik ternak babi), biasa dua orang di antaranya mengeluhkan kasus scabies,” katanya.
Beberapa hal yang menyebabkan banyaknya ternak babi di Jayawijaya terserang scabies, karena sistem peternakan yang kurang baik, misalnya kebersihan hewan ternak dan tidak dikandangkan.
“Ciri-ciri scabies adalah kadang bulunya rontok, dia juga biasa menggaruk tubuhnya. Kulitnya merah-merah, badan agak kurus. Ada yang badannya besar tetapi kalau gatal-gatal dan nampak di kulit bintik merah maka memang indikasi scabies,” katanya.
Ciri penyakit scabies yang bisa dengan mudah dilihat oleh masyarakat awam, terutama peternak misalya banyak ketombe pada ternak babi.
“Jika ada ternak babi yang banyak ketombe menggaruk badan di dinding, lalu temannya sandar atau menggaruk di dinding tadi maka bisa tertular juga,” katanya.
Pengawasah dan pemberian vaksinasi terhadap ternak memang belum optimal, sebab jumlah staf di dinas itu masih kurang. “Penjualan ternak babi misalnya di Pasar Jibama itu memang perlu diawasi, cuma karena tenaga hanya beberapa orang jadi belum terjangkau (pengawasan),” katanya. (Ant)