Hasil Panen Jagung Petani di Lombok, Turun Drastis
Editor: Koko Triarko
LOMBOK – Intensitas hujan yang terlalu tinggi, mengakibatkan pertumbuhan jagung kurang baik. Banyak tanaman jagung mati sebelum berbuah, karena terlalu banyak air. Jika pun berbuah, tonggol jagung jauh lebih kecil, termasuk biji jagung saat dikelupas.
“Hasil panen jagung sekarang ini jauh dari harapan, selain tonggol jagung kecil, banyak tanaman jagung yang mati menguning sebelum berbuah, karena terlalu banyak air dan dingin”, kata Rohati, petani jagung di Kabupaten Lombok Tengah, Senin (19/2/2018).
Kondisi demikian mengakibatkan hasil panen jagung sebagian besar petani tahun ini mengalami penurunan dibandingkan musim tanam sebelumnya.
Rohati mengatakan, sejak Desember 2017 hingga sekarang, intensitas hujan terbilang tinggi, tanaman termasuk jagung kalau terlalu banyak air dan jarang terkena sinar matahari juga kurang bagus.
“Kalau pertumbuhan sudah terganggu, pasti akan berdampak terhadap tonggol dan biji jagung menjadi lebih kecil, bahkan membusuk dimakan ulat”, katanya.
Padmi, petani lain mengatakan, kalau tahun lalu hasil panen jagung setelah dikelupas, yang ditanam di ladang dan pematang sawah, berkisar antara tujuh kwintal hingga satu ton, tahun ini hasil didapatkan mungkin tidak sampai lima kwintal.
Ia pun berharap, harga jagung tahun ini tetap bagus dengan kisaran Rp3.000 per kilogram. “Sebab kalau harga sudah di bawah Rp3.000 tidak dapat apa-apa, modal saja belum tentu balik”, tutupnya.