Belajar Kebhinekaan dan Toleransi di TMII

Editor: Irvan Syafari

JAKARTA — Karin dan Vira adalah siswi SMAN 98 Jakarta Timur. Keduanya terlihat asyik mengambil gambar video suasana Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta.

Mereka mengaku berkunjung ke TMII untuk tugas sekolah membuat video bertema “Kebhinekaan”.

Mereka juga telah mengunjungi beberapa anjungan, di antaranya Anjungan Riau, Anjungan Bengkulu, Anjungan Sumatera Utara, dan Anjungan Kalimantan Timur, dan Anjungan Jambi.

“Keanekaragaman seni budaya ditampilkan di setiap anjungan, bisa kami pelajari dan renungkan bahwa TMII ini kaya adat istiadat,” kata Karin kepada Cendana News di Anjungan Sumatera Barat TMII, Jakarta, Minggu (25/2/2018).

Tugas membuat video kebhinekaan ini dirasakan Fira telah menambah wawasan budaya. Seperti setelah  singgah di beberapa anjungan, mereka jadi lebih tahu budaya adat setiap daerah.

“Kami jadi tahu busana adat Sumbar, peralatan bertani zaman dulu masyarakat Sumbar, kerajinan tangan, alat musik tradisional, tarian tradisional, upacara adat, dan lainnya,” jelas Fira.

Belum lagi adat budaya di anjungan lain yang sudah direkam dalam telepon seluler mereka. “Kami kupas satu persatu tentang kebhinekaan ini. Kami bangga dengan TMII,” ucap siswa kelas 1 SMA ini.

Vira juga mengaku kerap berkunjung ke TMII, tapi tidak detail mempelajari budaya daerah, hanya sekedar melewati anjungan saja. Namun berkat tugas membuat video kebhinekaan ini, dia mengaku sangat bangga dengan TMII, yang telah melestarikan seni budaya bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Bahkan, sebut dia, dirinya jadi mengenal bahasa daerah. Karena di setiap anjungan ada pemandu yang memperkenalkan bahasa daerah.

“Ya, seperti di anjungan Sumatera Barat ini, seorang pemandunya memperkenalkan diri dengan bahasa Minang. Saya menirukan logat bahasa daerah tersebut, sulit tapi saya bangga,” tutur Vira.

Keduanya mengaku sebelum ke anjungan-anjungan terlebih dulu mengunjungi zona rumah ibadah yang lokasinya berdekatan antara masjid, gereja, pura, wihara, dan klenteng.

“Saya bangga melihatnya kebhinekaan dan toleransi terpancar mendalam di TMII. Karena perbedaan adalah keikhlasan hati saling menghormati,” kata Vira.

Karin dan Vira mengaku kunjungan ke TMII dalam tugas sekolah ini memberi kesan mendalam. Karena jadi banyak belajar tentang perbedaan yang ada di Indonesia, dan bagaimana cara mempersatukannya semua bisa dipelajari memberikan makna saling melestarikan.

“Kami akan tampilkan yang terbaik biar dapat nilai bagus. Terpenting adalah pembelajaran bagi teman-teman,” ungkap Vina.

Manajer Informasi Budaya dan Wisata TMII, Ertis Yulia Manikam memberi apresiasi kepada sekolah yang menugaskan siswa-siswinya membuat tugas kebhinekaan dengan mengunjungi TMII.

“Kami mendukung kegiatan para pelajar membuat video kebhinekaan. Karena titik berat kebhinekaan adalah bagian kekayaan seni budaya kita yang berbeda,” ujar Ertis kepada Cendana News.

Dia menegaskan bahwa kebhinekaan itu memiliki toleransi yang tinggi.Toleransi itu bukan untuk kepentingan orang lain, tapi untuk kepentingan para siswa. Karena bisa dibayangkan kalau mereka tidak miliki toleransi, yang ada kebencian kepada sesama kemungkinan malah menjadi amarah.

Menurut dia tugas video kebhinekaan mendorong anak-anak zaman “now” bangga ikut dalam pelestarian budaya, adat istiadat.

TMII sebagai wahana pelestarian budaya menurutnya, tidak bisa bekerja sendiri harus ada kerjasama dengan pihak lain termasuk sekolah. Dia memuji inisiatif guru-guru memberikan tugas seperti ini kepada siswanya.

“Ada jejalah budaya lewat membuat video dengan aplikasi di ponsel mereka. Itu bagian cara kita menanamkan dan memperkenalkan budaya Indonesia,” ungkapnya.

Apalagi kata dia, anak zaman sekarang tidak bisa terus dijejali hafalan. Dalam mendidik anak itu, kita harus pintar-pintar, begitu pula dalam pengenalan seni budaya bangsa harus dengan cara yang menyenangkan.

“Cara menyenangkan seperti tugas membuat video kebhinekaan itu. Mereka juga bisa selfi di anjungan lalu dishare ke FB,” pungkas Ertis.

Lihat juga...