JUBA – Situasi keamanan pangan di Sudan Selatan akan bertambah buruk tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya jika makanan tidak diperoleh dan dibagikan sebelum musim hujan tiba. Jutaan orang sangat memerlukan di wilayah yang sulit dijangkau di Sudan Selatan.
Wakil Direktur Program Pangan Dunia atau WFP di Sudan Selatan, Simon Cammelbeek mengatakan, badan pangan PBB harus secepatnya mendapatkan dan membagikan makanan melalui udara buat enam juta orang di daerah yang sulit dicapai dan dikategorikan sebagai rawan pangan pada 2018, sebelum kedatangan musim penghujan.
“Situasi keamanan pangan tidak bagus dan petunjuk yang kami perolah ialah panen tahun lalu (2017) kurang dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ia mengungkapkan di Ibu Kota Sudan Selatan, Juba.
Sudan Selatan pada Desember tahun lalu mengeluarkan seruan kemanusiaan dengan nilai 1,72 miliar dolar AS.
Investigasi yang dikeluarkan oleh Klasifikasi Keamanan Pangan Terpadu (IPC) tahun lalu mengatakan, sebanyak 5,1 juta orang (48 persen dari seluruh penduduk) diklasifikasikan sebagai berada dalam kondisi rawan pangan parah pada Januari-Maret 2018.
“Sangat penting bahwa kita juga memanfaatkan kesempatan pada bulan ini untuk mendapatkan makanan dan membagikan makanan buat semua daerah yang takkan bisa dicapai selama musim hujan,” kata Cammelbeek.
Cammelbeek juga mengungkapkan bahwa keperluan kemanusiaan terus bertambah buruk di negeri tersebut. Ia menyatakan sumber daya tambahan sangat diperlukan guna membantu meningkatkan reaksi yang efektif dan tepat waktu guna menanggulangi kelaparan.
Ia menambahkan musim tanam dimulai pada Februari.
“Kita harus melakukan apa saja yang bisa kita lakukan dan bekerja secara bersama untuk menjamin bantuan pangan serta gizi buat semua,” ia menambahkan.
Sudan Selatan terjerumus ke dalam kerusuhan pada Desember 2013, setelah pertikaian politik antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya Riek Machar mengakibatkan perpecahan di dalam tubuh SPLA, sehingga tentara terlibat perang berdasarkan garis etnik.
Kesepakatan Perdamaian 2015 guna mengakhiri konflik itu melemah setelah wabah pertempuran baru pada Juli 2016 mengakibatkan pemimpin pemberontak SPLA yang beroposisi, Riek Machar, melarikan diri dari ibu kota Sudan selatan. (Ant)