Siapa Sangka, Loper Koran ini Miliki 415 Cabang Laundry di Indonesia

YOGYAKARTA — Sosok pemuda bernama Andy Rakhmat Santoso (34) sepintas nampak biasa saja. Mengenakan kaus dan celana pendek, pemuda berperawakan kurus, berambut gondrong dan berkacamata itu sama sekali tak nampak seperti seorang pengusaha muda sukses pada umumnya.

Padahal pemuda kampung asal Condongcatur, Depok, Sleman, itu merupakan seorang pengusaha muda di bidang laundry yang memiliki omset miliaran Rupiah setiap bulannya. Selain memegang 8 merk dagang dengan 61 jenis pewangi laundry dan deterjen cair, ia juga telah memiliki 415 cabang usaha frainchase di bidang laundry yang tersebar di 34 wilayah propinsi di seluruh Indonesia.

Bahkan kini Andy tengah mulai memasarkan produk pewangi laundry dan detergen cair berlabel Beach Laundry miliknya ke luar negri, seperti Korea Utara, Pakistan, Afganistan, dan enam negara Eropa lainnya.

Mungkin tak akan ada yang mengira jika Andy memulai semua usaha dengan omset milyaran rupiah itu, berawal dari seorang tukang loper koran.

“Ya saya memulai semua usaha ini dari seorang tukang loper koran. Sejak masih duduk di bangku kelas 2 SD saya sudah ikut jadi tukang loper koran. Itu saya lakukan sampai SMP, SMA, hingga kuliah,” katanya Sabtu (06/01/2018).

Andy Rakhmat Santoso (34)/Foto: Jatmika H Kusmargana

Terlahir sebagai anak pensiunan guru yang memiliki agensi surat kabar, Andy sejak kecil memang sudah terbiasa hidup prihatin. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, ia sudah harus bangun pagi-pagi buta untuk membantu ayahnya mengantarkan koran ke seluruh pelanggannya dengan bersepeda.

Sekitar tahun 2006, uang dari hasil bekerja sebagai loper koran itu, ia kumpulan untuk memulai usahanya di bidang laundy. Ia membeli produk kebutuhan laundry berupa detergen dari produsen di Jakarta untuk ia jual kembali secara keliling. Hanya dalam waktu satu tahun, tepatnya tahun 2007 ia sudah mampu membuka usaha laundry.

“Awal 2007 itu saya kesulitan mencari pewangi laundry yang awet dan tidak apek. Akhirnya saya mencoba bereksperimen membuat pewangi sendiri. Padahal saya tidak punya dasar ilmu kimia. Ya hanya coba-coba. Produk tersebut kemudian saya pasarkan sendiri baik secara offline maupun online dengan internet,” kata lelaki lulusan jurusan Ekonomi Pembangunan di UPN Veteran Yogyakarta itu.

Salah satu kunci keberhasilan Andy mengembangkan usaha pembuatan detergen dan pewangi laundry miliknya adalah ketelatenan. Meski hampir selama kurang lebih 2 tahun, produk pewangi laundry dan deterjen produksinya belum banyak digunakan pelanggan, ia tetap secara rutin memasarkannya lewat internet yang saat itu belum populer seperti sekarang.

Ia bahkan tak jarang harus pergi ke luar kota bahkan luar pulau selama beberapa hari seorang diri, untuk menawarkan produk buatannya.

“Tahun 2010 baru mulai ada yang tertarik untuk menggunakan produk buatan saya. Dari situlah usaha waralaba pewangi laundry saya mulai berkembang,” katanya.

Jika semula Andy hanya memproduksi pewangi laundry sebanyak 4 kilo per hari, kini produksinya telah mencapai 10 ton per hari. 95 persen produk itu terjual lewat pemasaran di internet.

Ia juga sudah memiliki sejumlah pabrik atau tempat produksi sendiri dengan alat mesin yang tersebar di Bantul maupun Sleman. Ia juga merekrut dan memberdayakan sejumlah pemuda maupun warga sekitar untuk menjadi pegawai di perusahaannya.

“Saya terus mengembangkan usaha ini dengan membuat inovasi jenis pewangi baru. Termasuk mencari sertifikat halal dari MUI. Alhamdulillah saat ini ada 61 jenis pewangi laundry produksi saya sudah berlabel halal. Ini menjadi yang pertama di Indonesia,” katanya.

Salah satu prinsip yang dipegang Andy dalam menjalankan usahanya adalah menghindari utang. Ia mengaku sampai saat ini tak pernah sekalipun meminjam uang di bank untuk modal mengembangkan usahanya. Ia lebih memilih mengumpulkan modal sendiri dari hasil menabung sedikit demi sedikit dibandingkan harus mengajukan pinjaman modal di tempat lain.

“Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah mengalami kendala berarti. Termasuk modal. Semua modal saya kumpulkan dari menyisihkan hasil usaha sedikit demi sedikit. Jadi saya tidak pernah pinjam di bank,” katanya.

Sejumlah pekerja tengah melakukan proses produksi produk pewangi laundry/Foto: Jatmika H Kusmargana

Meski telah menjadi pengusaha sukses, bapak dua anak itu hingga kini nampak tetap sederhana. Sesekali ia masih membantu ayahnya mengantar koran ke pelanggan. Baginya, pengalamannya menjadi seorang tukang loper koran selama hampir 15 tahun, telah mendidiknya dan menempanya hingga memiliki mental pengusaha yang tangguh, disiplin, dan pantang menyerah dalam berjuang.

“Untuk jadi pengusaha itu memang kita tidak boleh menunggu. Harus berani mencoba dan melawan semua keterbatasan yang kita miliki. Karena dengan mau mencoba kita akan bisa mencapai kesuksesan,” katanya.

Lihat juga...