Pelaku UKM Kuliner Tradisional di Kulon Progo Sulit Berkembang

YOGYAKARTA – Berbagai kendala mulai dari kurangnya ketersediaan bahan baku, minimnya ketersediaan alat produksi hingga sulitnya pemasaran menjadi masalah utama penyebab Kelompok Industri Kecil Mikro (UKM) di Dusun Girigondo, Kaligintung, Temon, Kulon Progo mengalami kemunduran sejak beberapa tahun terakhir.

Jumlah pelaku usaha di daerah yang terkenal dengan potensi kuliner tradisional seperti slondok, growol, geblek, lanting renteng hingga rujak serut itu, kini semakin berkurang.

Menurut data Koperasi Barokah Kaligintung Temon, yang menjadi wadah sejumlah UKM tersebut, sejumlah pelaku usaha kuliner tradisional di Dusun Girigondo tinggal beberapa orang saja.

“Padahal dulu daerah Girigondo terkenal sebagai daerah penghasil makanan tradisional seperti slondok, growol, geblek, lanting renteng, hinga rujak serut. Ada lebih dari 30-an orang yang menggeluti usaha kuliner ini,” ujar Ketua Koperasi Barokah, Seri Suryadi, Selasa (9/1/2018).

Kini jumlah pelaku usaha makanan tradisional lokal khas Kulonprogo di Dusun Girigondo, menurut Seri, tinggal sekitar 15 orang saja. Hal itu terjadi karena banyak pelaku usaha kuliner banting stir ke pekerjaan lain mengingat semakin sulit memasarkan produk olahan tradisional itu.

“Kendala pertama ketersediaan bahan baku. Dulu para pelaku usaha kuliner di sini bisa mendapatkan bahan baku seperti ketela dengan mudah di sekitar desa. Namun saat ini semakin sulit, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah seperti Wonosobo dengan biaya yang jauh lebih tinggi,” katanya.

Selain ketersediaan bahan baku, kendala lain yang juga dihadapi para pelaku UKM di Dusun Girigondo adalah minimnya alat produksi. Sebagian besar alat produksi masih tradisional dan dioperasikan secara manual.

Menurut Seri, kelompok sebenarnya sudah berupaya membantu dengan menciptakan inovasi alat mekanis sendiri, termasuk juga mengajukan bantuan ke pemerintah.

“Kita sebenarnya pernah mendapatkan bantuan alat mesin. Namun bantuan itu tidak sesuai seperti yang diharapkan pelaku usaha, sehingga proses produksi kurang maksimal,” katanya.

Para pelaku usaha sendiri saat ini, dikatakan Seri, membutuhkan alat produksi yang lebih modern, khususnya untuk penggilingan dan pencetakan.

Sementara terkait pemasaran, Seri menyebut, semakin banyak persaingan dengan munculnya aneka produk olahan baru yang mengakibatkan jumlah peminat makanan tradisional semakin berkurang. Sehingga diperlukan sebuah terobosoan serta dukungan dari pemerintah agar produk lokal dapat terangkat kembali.

“Pemerintah Daerah sebenarnya sudah berupaya mendorong kuliner tradisional seperti lanting renteng sebagai produk unggulan daerah. Namun memang bentuk dukungan nyata masih belum begitu terlihat. Karena itu kita harus berupaya sendiri. Salah satu yang akan kita lakukan adalah dengan mensinergikan dengan potensi pariwisata yang ada,” katanya.

Lihat juga...