PBB Meminta Israel Menghentikan Rencana Deportasi Migran Afrika

JENEWA – Israel diminta menghentikan rencana untuk mengirim pulang puluhan ribu migran kembali ke Afrika secara paksa. Ribuan migran dari Afrika tersebut sebagian besar berasal dari Eritrea dan Sudan.

Israel pekan lalu mengatakan, bahwa mereka akan membayar ribuan migran Afrika yang tinggal secara ilegal di negara tersebut untuk pergi. Israel juga mengancam para migran dengan penjara jika mereka tertangkap aparat keamanan setelah akhir Maret.

Para migran tersebut banyak yang mengatakan jika mereka melarikan diri dari perang dan penganiayaan serta kesulitan ekonomi. Sementara Israel memperlakukan mereka sebagian besar sebagai migran ekonomi.

Rencananya Israel menawarkan kepada para migran asal Afrika tersebut membayar sebesar 3.500 dolar dan sebuah tiket pesawat gratis untuk kembali ke rumah atau pergi ke negara-negara ketiga. Hasil identifikasi dari kelompok hak asasi manusia negara ketiga tersebut adalah Rwanda dan Uganda.

“Kami kembali meminta Israel untuk menghentikan kebijakannya memindahkan orang-orang Eritrea dan Sudan ke sub-Sahara Afrika, ” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) pada sebuah briefing di Jenewa William Spindler, Selasa (9/1/2018).

Spindler menyebut, sekira 27.000 orang Eritrea dan 7.700 warga Sudan tinggal di Israel. Sementara pihak berwenang setempat memberikan status kepada para migran sebagai pengungsi hingga untuk 11 orang sejak 2009 lalu.

Di Eropa, Eritrea memiliki tingkat pengakuan yang sangat tinggi sebagai para pengungsi yang melarikan diri dari perang atau penganiayaan. Dengan kondisi tersebut  Spindler menyebut warga Eritrea memenuhi syarat untuk berstatus sebagai pengungsi.

“Apa yang ingin kita lihat di Israel dan kami bersedia membantu dalam hal ini untuk menemukan alternatif legal bagi orang-orang ini, melalui pemukiman kembali di negara lain,” tandasnya.

Sementara itu Rwanda dan Uganda mengatakan, bahwa mereka belum mendapat kesepakatan untuk membawa migran Afrika dari Israel di bawah sebuah skema yang dikutuk oleh kelompok hak asasi manusia.

Selama dua tahun terakhir, UNHCR telah mewawancarai 80 orang pengungsi atau pencari suaka Eritrea di Roma yang tiba dari Italia. Para pengungsi tersebur baru saja melakukan perjalanan berbahaya melintasi Afrika setelah keberangkatan mereka dari Israel ke Rwanda.

“Selama perjalanan mereka mengalami penganiayaan, penyiksaan dan pemerasan sebelum kembali membahayakan nyawa mereka menyeberangi Laut Mediterania ke Italia,” sebut UNHCR. (Ant)

Lihat juga...