Nelayan Lamsel Kerap Terkendala Cuaca

LAMPUNG – Harga ikan laut di sejumlah tempat pendaratan ikan di pesisir pantai Timur Lampung Selatan (Lamsel) di antaranya pusat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni, Ketapang, Pegantungan serta sejumlah tempat pendaratan ikan yang menghadap ke perairan Selat Sunda, cukup variatif.

Berdasarkan penuturan Abdul (50) salah satu nelayan di Dusun Pegantungan Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni, selain kondisi cuaca perairan yang kerap hujan, angin kencang dan gelombang tinggi, terang bulan yang terjadi sejak dua hari terakhir mempengaruhi hasil tangkapan.

Sejumlah nelayan memanfaatkan waktu memperbaiki peralatan tangkap [Foto: Henk Widi]
Pada saat kondisi cuaca angin kencang, Abdul menyebut, ia hanya berani melaut di sekitar Pulau Kandang Balak dan Pulau Prajurit, berjarak sekitar lima mil laut dari kampung nelayan tempat tinggalnya.

Pulau yang menjadi tempat berlindung tersebut, diakuinya, sekaligus menjadi lokasi mencari ikan bagi nelayan dengan sistem jaring dan pancing rawe dasar. Biasanya, ia melaut hingga ke kepulauan Krakatau dan di dekat Pulau Sangiang Banten. Namun kondisi cuaca angin kencang membuat ia melaut di lokasi yang dekat.

“Kalau kondisi cuaca normal saya biasanya bisa melaut hingga delapan mil dari kampung saya. Namun karena tidak mau ambil resiko kondisi angin kencang dan gelombang pasang akibat bulan purnama, maka saya memancing di dekat pulau,” terang Abdul, salah satu nelayan yang ditemui Cendana News, sesaat setelah mendarat di pusat pendaratan ikan Pegantungan Kecamatan Bakauheni, Kamis (4/1/2018).

Joni, membeli ikan dari nelayan untuk dijual keliling ke sejumlah wilayah yang jauh dari laut [Foto: Henk Widi]
Dampak dari kondisi cuaca sekaligus cuaca tak bersahabat, diakuinya, membuat hasil tangkapan ikan berbagai jenis yang kerap ditangkapnya menurun. Semula berkisar 50 kilogram hingga 100 kilogram membuat hasil tangkapan ikan menurun menjadi hanya sekitar 20 hingga 30 kilogram. Selanjutnya dijual ke sejumlah warung kuliner. Dampak berkurangnya hasil tangkapan memang mempengaruhi harga ikan tangkapan sejumlah nelayan.

Ia menyebut, kondisi tersebut umumnya sudah dipahami oleh para pedagang ikan. Saat kondisi bulan purnama atau masa terang bulan, berimbas pada kenaikan harga ikan laut. Sebab terang bulan mempengaruhi pola migrasi ikan dengan tidak muncul ke permukaan. Membuat nelayan sulit memperoleh ikan dalam jumlah banyak meski sebagian nelayan masih beruntung memperoleh tangkapan ikan jenis tertentu.

“Saya hanya memperoleh satu keranjang ikan berbagai jenis yang akan saya jual ke warung kuliner. Untuk dijual dalam bentuk olahan, biasanya bisa mendapat tiga keranjang lebih,” beber Abdul.

Kondisi cuaca hujan, angin kencang dan gelombang tinggi, dampak bulan purnama atau terang bulan, juga dibenarkan oleh Joni (36), salah satu pedagang ikan keliling asal Desa Berundung Kecamatan Ketapang.

Ia membeli ikan ke tempat pendaratan ikan Ketapang. Joni menyebut dalam sehari dirinya kerap bisa menjual ikan berbagai jenis dengan jumlah sebanyak 40 hingga 50 kilogram dengan box berpendingin, meski saat terang bulan jumlah yang dijual lebih sedikit.

Menurut Joni harga ikan yang dijual di tingkat nelayan sudah naik sehingga ia ikut menaikkan harga ikan laut yang dijual. Kondisi tersebut terjadi akibat sejumlah nelayan memilih tidak melaut dalam kondisi cuaca tak bersahabat. Meski ada sejumlah nelayan tetap nekat melaut.

“Kalau cuaca tidak bersahabat banyak nelayan yang tidak melaut, jadi jenis ikan yang dijual juga terbatas. Saya harus banyak mencari dari sejumlah nelayan,” beber Joni.

Joni mengaku, membeli ikan dari nelayan dengan harga berkisar Rp5.000 untuk jenis ikan kepala batu yang dijual dengan harga Rp10.000. Meski sebelumnya hanya dijual dengan harga Rp7.000, ikan layur per kilogram semula dibeli dengan harga Rp15.000 dan bisa dijual dengan harga Rp20.000. Kini bahkan sudah naik menjadi Rp17.000 per kilogram sehingga terpaksa dijual dengan harga Rp22.000 per kilogram.

Harga variatif atas ikan laut terjadi akibat pasokan ikan laut masih terbatas, di antaranya jenis ikan layang. Biasanya dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram menjadi Rp20.000 per kilogram di tingkat konsumen, ikan simba semula Rp30.000 per kilogram menjadi Rp45.000 per kilogram, cumi cumi semula Rp35.000 menjadi Rp45.000 per kilogram serta sejumlah ikan lain ikut mengalami kenaikan.

Sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan ikan, selain ikan laut Joni menjual ikan air tawar yang dibawa bersamaan, saat berkeliling berjualan ikan. Jenis ikan air tawar yang dibawa berupa ikan lele, ikan bawal dan ikan patin. Tingginya ikan laut disebut membuat sejumlah masyarakat juga memilih ikan air tawar dengan harga Rp17.000 per kilogram, ikan bawal Rp19.000 per kilogram, dan ikan patin Rp20.000 per kilogram.

“Biasanya konsumen ada yang suka ikan laut, sebagian ikan air tawar, maka saya bawa dua jenis tersebut sekali keliling dengan membeli dari pengepul di Sragi,” cetus Joni.

Kondisi cuaca tak bersahabat tersebut juga dimanfaatkan oleh sejumlah nelayan dengan tidak melaut. Bahkan dengan hanya melakukan pemeriksaan alat-alat kapal termasuk alat tangkap ikan.

Pantauan Cendana News, sejumlah nelayan di tempat pendaratan ikan Ketapang  memanfaatkan waktu dengan melakukan perawatan jaring yang mereka miliki dan berencana melaut saat kondisi cuaca normal.

Ikan hasil tangkapan nelayan diantaranya jenis layur, kepala batu, simba dan berbagai jenis ikan lain [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...