Mesir Tahan Tersangka Penyerang Mantan Pengawas Antikorupsi

KAIRO – Jaksa pemerintah Mesir memerintahkan penahanan tiga orang terduga pelaku penyerangan terhadap mantan kepala pengawas anti-korupsi. Ketiganya dalam posisi menunggu proses penanganan perkara dugaan melakukan premanisme, perampokan dan penghancuran harta benda pribadi.

Mantan Kepala Pengawas Anti-Korupsi, Hisyam Genena baru saja meninggalkan rumahnya di pinggiran di luar Kairo ketika dua mobil menghentikannya dan sekelompok pria menyerang dengan pisau dan tongkat. Pengacaranya, Ali Taha, dan keluarga menggambarkan serangan tersebut sebagai percobaan penculikan, yang gagal.

Genena dirawat di rumah sakit karena mengalami pendarahan di mata dan beberapa tulang mengalami patah. Genena telah bekerja untuk memilih mantan kepala staf militer Letnan Jenderal Sami Anan, penantang terakhir yang dipandang sebagai ancaman potensial bagi terpilihnya kembali Presiden Abdel Fattah al-Sisi dalam pemilihan umum yang dijadwalkan digelar Maret.

Kampanye Anan dihentikan tiba-tiba setelah dia ditangkap pekan lalu dan dituduh menjalankan kantor tanpa izin militer. Keluarga Anan dan pengacara mengatakan pada Sabtu (27/1/2018) bahwa Dia ditahan di sebuah penjara militer.

Pada awal tahun, Mesir memperpanjang masa darurat militer di seantero negeri selama tiga bulan terhitung mulai 13 Januari. Hal tersebut diklaim untuk membantu upaya menangani bahaya dan pendanaan terorisme.

Mesir pertama kali menerapkan status masa darurat pada April tahun lalu setelah terjadinya dua pengebomban di gereja yang menewaskan setidaknya 45 orang. Status darurat militer saat itu diperpanjang pada Juli dan kemudian pada Oktober.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi, yang diperkirakan banyak pihak akan berupaya terpilih kembali untuk masa jabatan kedua pada pemilihan awal tahun ini, mengeluarkan keputusan perpanjangan status darurat militer.

Dengan perpanjangan itu, pasukan keamanan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani bahaya dan pendanaan terorisme serta menjaga keamanan di semua wilayah negeri.

Mesir menghadapi pemberontakan ISIS di wilayah terpencil Sinai Utara. Pemberontakan telah menewaskan ratusan tentara dan polisi dalam beberapa tahun terakhir. Aksi tersebut juga telah meluas dalam bentuk serangan terhadap kalangan warga sipil.

Kelompok garis keras Islamis lainnya yang bergerak di wilayah gurun barat daerah perbatasan dengan Libya, juga telah melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan. Serangan di bagian selatan Kairo pada akhir tahun lalu, salah satunya dinyatakan dilakukan IS, dengan sasaran warga Kristen. (Ant)

Lihat juga...