Mbah Munari Jualan ‘Gulali’ Sejak 1960
SOLO — Tak mudah bagi Mbah Amat Munari untuk bisa menjual dagangannya berupa gulali. Tak hanya masa kejayaannya yang sudah mulai memudar, pelanggan setianya pun juga sudah mulai meninggalkan jenis jajanan yang berjaya di era 90-an itu.
Inilah sosok Mbah Amat Munari. Nenek 83 tahun ini dengan telaten berjualan gulali sutra, atau sejenis kembang gula tradisional yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad. Hampir setiap hari, nenek berkerudung ini menempuh perjalanan hampir 15 kilometer dari kediamannya. Usianya yang sudah senja, membuat nenek dengan enam anak ini pun harus diantar jemput oleh cucunya.
“Sudah tidak kuat jalan jauh. Kalau pagi diantar, dan kalau sudah sore dijemput putu (cucu) saya,” ucap nenek yang mengenakan stelan batik dan jarik kepada Cendana News, baru-baru ini.
Nenek yang memiliki nama kecil Munari itu membuka lapak jualannya di sudut kecil di sebuah rumah makan pemancingan di Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupate Klaten, Solo, Jawa Tengah. Ia pun setiap hari mengandalkan berjualan gulali sutra dari mereka yang tengah berwisata dengan keluarga maupun rekan sejawat.
Diakui warga Sidorejan, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali, untuk berjualan gulali saat ini tidak mudah. Sebab, mereka yang akrab dengan jajanan yang ada sejak 1960-an itu sudah banyak yang meninggal dunia. Meskipun masih ada pelanggan setia, mereka adalah generasi kedua maupun ketiga dari usianya.
“Yang jajan (beli) banyak yang sudah tua, katanya inget jajanan waktu kecil dulu. Tapi, ada pula anak muda yang beli, tapi tidak banyak jumlahnya,” ungkap Munari.
Berjualan gulali sutra di zaman yang sudah berganti, banyak tantangannya. Di samping banyak saingan jajanan dan makanan modern, berjualan gulali sutra membutuhkan ketelatenan dan kesabaran tersendiri. Terlebih jika musim penghujan tiba, mereka yang akan liburan maupun makan di rumah makan yang setiap hari dijadikan tempat berjualan pun kian sepi.
Dalam sehari, nenek satu ini rata-rata mampu membawa pulang uang tunai sampai Rp200 ribu. Pendapatan yang didapatkan itu pun tidak sepenuhnya keuntungan, karena masih harus dikurangi modal yang digunakan untuk berbagai kebutuhan membuat gulali sutra.
Namun, jika tengah bernasib baik saat jualannya ludes, Munari mampu meraup untung bersih hingga Rp150 ribu. “Banyak sedikit disyukuri, yang penting bisa buat ngopeni Mbah Kakung (merawat kakek). Sekarang jualan gulali itu rasanya manis, labanya pahit. Beda kalau dulu,” paparnya.
Untuk membuat gulali sutra, nenek yang satu ini meracik sendiri berbagai bahan bakunya. Seperti gula pasir murni, tepung beras ketan, kelapa, serta dicampur pewarna. Untuk bisa mendapatkan gulali sutra yang enak, dirinya harus memastikan jika gula pasir yang digunakan benar-benar murni, demikian juga tepung ketan.
“Kalau ketannya tidak asli, hasilnya juga berbeda,” imbuh Nenek yang mengaku sudah berjualan sebelum 1960.
Ada perbedaan yang sangat kontras dalam perkembangan jualan gulali sutra, sebagai salah satu jajanan tradisional seperti dirinya. Salah satu kedala yang dialami adalah mahalnya bumbu (obat) sebagai resep tambahan membuat gulali. “Obatnya sekarang mahal, dulu hanya Rp6.000, sekarang sudah Rp32 ribu,” jelas Munari.
Di usianya yang sudah memasuki kepala delapan, dirinya mulai menyiapkan putranya untuk melanjutkan berjualan gulali. Namun, dari enam putra yang dimiliki, satu pun tidak ada yang mau menggeluti berjualan seperti dirinya. Tidak hanya karena enggan berjualan, keterampilan membuat gulali juga tidak dikuasai putranya.
“Besok yang mau mewarisi jualan gulali malahan menantu saya. Kalau anak-anak saya tidak mau semua. Satu tusuk gulali ini saya jual Rp2.000,” pungkasnya.