Mantan Presiden Georgia Dihukum Karena Selewengkan Kekuasaan
TBILISI – Pengadilan Georgia, Jumat (5/1/2018), menjatuhkan hukuman in absensia terhadap mantan presiden Mikheil Saakashvili penjara selama tiga tahun. Sang mantan presiden dianggap bersalah karena berupaya menutup-nutupi bukti pembunuhan seorang bankir ketika ia masih menjabat sebagai pemimpin negara tersebut.
Saakashvili disebut-sebut mengecam keputusan hakim tersebut dan menganggapnya sebagai keputusan ilegal. “Putusan pengadilan Georgia terhadap saya adalah ilegal dan bertentangan dengan semua norma internasional dan nasional serta akal sehat,” tulis Saakashvili di laman akun Facebook-nya, Jumat (5/1/2018).
Sementara pihak berwenang Georgia mengatakan, akan berupaya segera mengekstradisi Saakashvili dari Ukraina. Saakashvili menjabat sebagai presiden Georgia pada 2004 hingga 2013. Saakashvili, 50 tahun, pindah ke Ukraina pada 2014 dan saat ini, ia merupakan tokoh oposisi aktif di Ukraina dan sempat terlibat kekerasan dengan pihak berwenang Ukraina.
Pengadilan di ibu kota negara Georgia, Tbilisi, menganggap Saakashvili bersalah menyelewengkan jabatan presidennya dengan berupaya menutup-nutupi bukti soal pembunuhan bankir Sandro Girgvliani. Pembunuhan tersebut terjadi pada 2006 serta memberikan grasi bagi empat terpidana kasus pembunuhan.
Ukraina mengatakan akan mempertimbangkan permintaan Georgia untuk mengekstradisi Saakashvili meski prosedur hukum harus ditempuh. “Kejaksaan sedang memproses pengaturan waktu untuk memeriksa Saakashvili terkait permintaan Georgia agar ia (Saakashvili) diekstradisi,” kata Juru Bicara Jaksa Umum Ukraina Andriy Lysenko.
Dukungannya bagi gerakan Ukraina pro-Eropa, Maidan, mendapat simpati dari Presiden Petro Poroshenko, yang kemudian menunjuknya sebagai gubernur wilayah Odessa Laut Hitam. Gerakan Maidan sendiri telah membuat presiden sebelumnya, yang didukung Rusia, pergi meninggalkan Ukraina.
Namun, Saakashvili telah mengalami kejatuhan bersama mantan pelindungnya di Ukraina setelah ia menuduh sang mantan pelindungnya melakukan korupsi dan dicuriga membantu organisasi kejahatan. Saakashvili mendapat dukungan banyak pengikut dalam aksi-aksi unjuk rasa di Ukraina. Bentrokan disertai kekerasan beberapa kali terjadi antara para pendukungnya dan polisi di Kiev. (Ant)