LAMPUNG – Kebutuhan sehari-hari dengan harga beras yang terus merangkak naik serta kebutuhan sehari-hari anak sekolah mendorong kaum wanita di Dusun Buring, Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, mencoba mencari penghasilan tambahan.
Suminah (30) pemilik dua anak yang duduk di bangku sekolah SD dan SMP menyebut, selain mengandalkan hasil kebun dari menanam kelapa, kakao serta komoditas perkebunan lain dengan pekerjaan suami sebagai buruh bangunan lepas, membuat ia perlu mencari pendapatan sebagai buruh panen cabai merah.
Suminah menyebut, keberadaan puluhan hektar lahan pertanian cabai merah di wilayah tersebut cukup membantu dengan adanya kesempatan menjadi buruh panen cabai. Suminah yang setiap hari harus mengeluarkan uang sebesar Rp30 ribu untuk anaknya yang duduk di bangku SD dan SMP menyebut, dari upah memanen cabai selama hampir satu bulan dirinya bisa ikut membantu meringankan beban sang suami sebagai kepala keluarga.
“Anak saya yang pertama duduk di bangku SMP dan sekolahnya harus naik kendaraan umum pulang pergi. Belum termasuk keperluan alat sekolah sehingga sebagai pekebun saya harus bisa memperoleh penghasilan tambahan,” terang Suminah, salah satu buruh pemanen cabai merah keriting di Dusun Buring Desa Sukabaru, saat ditemui Cendana News di lahan pertanian cabai, Kamis (18/1/2018).

“Saya membayar setengah bulan sekali kepada pengemudi abodemen yang mengantarkan beberapa siswa sekolah dari uang hasil buruh panen cabai,” beber Suminah.
Keberadaan lahan tanaman cabai dengan luas satu pemilik cabai umumnya satu hektar membuat ia bisa memanen cabai selama satu bulan penuh di beberapa lahan cabai. Sistem upahan sebagai buruh petik cabai yang semula dibayar Rp30.000 per hari dengan makan serta minum ditanggung pemilik pada tahun 2017, pada tahun ini para buruh mendapatkan upah sebesar Rp40.000 sebagai buruh harian.
Upah sebesar Rp40.000 tersebut diakui Suminah kerap diambil olehnya setiap sepuluh hari sekali sehingga total setiap sepuluh hari sekali dirinya bisa mengumpulkan uang sebesar Rp400.000. Dengan asumsi selama satu bulan dirinya bisa bekerja sebagai buruh panen selama dua puluh hari. Maka ia bisa memperoleh uang sebesar Rp800.000 yang bisa dipergunakan untuk membantu keperluan anak sekolah dan keperluan keluarga.
Kesempatan musim panen cabai merah keriting juga menjadi berkah bagi Sriati (29) yang memiliki satu anak sekolah dan duduk di bangku SD. Ia mengakui, keberadaan para petani pemilik modal besar yang menanam cabai dengan luas hektaran sekaligus jumlah tanaman cabai puluhan ribu batang, menjadi peluang kaum wanita di desa tersebut menambah penghasilan di sela-sela waktu luang sehari-hari sebagai pemilik lahan perkebunan.
“Lahan perkebunan yang kami miliki biasanya tidak membutuhkan perawatan yang intens sehingga kami bisa bekerja sebagai buruh pertanian cabai mulai dari buruh tanam bibit, pemupukan hingga pemanenan,” terang Sriati.
Sriati menyebut, saat ini dengan adanya puluhan petani cabai setidaknya dibutuhkan minimal 50 hingga 70 pekerja wanita seperti dirinya yang bersedia menjadi buruh panen cabai keriting.

Suwarno (37) pemilik lahan satu hektar sawah yang diubah menjadi lahan pertanian cabai merah keriting mengaku, menanam sebanyak 20.000 batang cabai merah keriting. Pada saat panen setiap harinya dari panenan pertama hingga panenan kesepuluh ia mencatat rata-rata per hari memanen sekitar 600 kilogram hingga 800 kilogram.
Berdasarkan pengalaman panen sebelumnya dalam satu kali musim penanaman dirinya berhasil mendapatkan maksimal 15 ton cabai merah keriting.
“Budidaya cabai memang mengalami pasang surut dalam segi hasil terutama kendala cuaca dan hama penyakit jenis trip dan bule membuat hasil panen kurang maksimal,” bebernya.
Selain itu Suwarno mengaku, harga cabai di level petani yang fluktuatif setiap pekan bahkan hari kerap mempengaruhi hasil penjualan. Saat musim panen di lahan miliknya Suwarno mengaku menjual cabai mulai harga Rp29.000 hingga Rp32.000 per kilogram dibeli oleh pengepul yang akan menjual ke wilayah Padang Sumatera Barat.
Harga cabai yang kerap turun naik kerap membuat penghasilan petani cabai tidak menentu meski diakuinya masih tetap bisa membantu ekonomi keluarga dan juga para wanita buruh panen cabai.
Setiap hari dengan buruh panen cabai sebanyak 50 orang dan upah Rp40.000 saja dirinya mengaku mengeluarkan uang Rp2 juta atau dalam sebulan pemanenan awal, pucuk hingga perantingan dirata-rata melakukan pemanenan sebanyak 20 kali, dirinya harus mengeluarkan uang upah buruh sebesar Rp40 juta.
Upah buruh yang dikeluarkan merupakan bagian hasil dari panen karena ia menyebut selain memberi upah berupa uang, para buruh juga kerap mendapatkan cabai untuk bumbu dapur seperlunya.
Harga cabai merah keriting di level petani dengan harga rata-rata Rp30.000 sekali musim rata-rata memperoleh 15 ton per hektar. Ia mengkalkulasikan hasil sebesar Rp450 juta yang selanjutnya dipotong dengan biaya operasional pengolahan lahan, penyediaan mulsa, bibit, pupuk, obat-obatan serta buruh pemanenan termasuk buruh angkut.
Lokasi yang berjarak sekitar satu kilometer dari jalan utama diakuinya membuat ia harus membutuhkan buruh angkut dengan sistem ojek sehingga biaya operasional semakin besar.
Penggunaan tenaga kerja sistem padat karya mulai dari masa pengolahan hingga pasca panen disebutnya ikut memberdayakan masyarakat sekitar terutama kaum wanita. Selain lokasi yang dekat dengan perkampungan membuat para pekerja yang merupakan kaum wanita masih bisa memperoleh penghasilan tambahan dan membantu ekonomi keluarga tanpa harus bekerja jauh ke tempat lain.
Selain sebagai buruh tanam hingga panen cabai merah keriting, sebagian wanita juga bekerja menjadi buruh tanam padi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.