Belajar Tradisi Budaya NTB di TMII
JAKARTA — Kepala Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Makbul Hijab mengaku keberadaan anjungan ini sangat membantu program pemerintah provinsi. Menurutnya, tanpa anjungan ini, daerah-daerah lain pun akan kesulitan mempromosikan seni budaya dan adat istiadat daerahnya kepada masyarakat Indonesia.
Hadirnya miniatur seluruh provinsi Indonesia ini menurutnya, sangat memudahkan masyarakat yang belum sempat keliling Indonesia. Dengan berkunjung ke TMII dapat melihat Indonesia dalam lingkup kecil yang terwakili oleh 34 anjungan provinsi.
Contohnya, kata Hijab, anjungan NTB ini sudah ada replika rumah adat, diorama tata cara dan prosesi upacara, serta souvenir produk UKM khas daerah. “Masyarakat Indonesia yang ingin tahu bagaimana tradisi seni budaya NTB bisa datang ke anjungan ini, tidak perlu ke daerah,” kata Hijab.
Lebih lanjut dia menjelaskan, provinsi NTB dengan ibukota Mataram, yang berkedudukan di pulau Lombok adalah provinsi yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Lombok dan Sumbawa.

Penduduk asli NTB terdiri dari tiga suku asli, yaitu suku Sasak yang berdiam di pulau Lombok, dan Mbojo di daerah Dompu hingga Bima, dan Sumbawa di pulau Sumbawa.
Istana Tua Sumbawa atau yang disebut Dalam Loka Sumawa, adalah bangunan utama anjungan NTB TMII. Bangunannya berupa rumah panggung terbuat dari kayu jati, ditopang oleh seratus tiang kokoh di bawahnya dan beratap kembar.
Memasuki ruang depan atau luyuk agung, ditampilkan ragam replika pakaian adat, kain tenun khas NTB, senjata tradisional, peralatan makan, peralatan berburu dan menangkap ikan serta lainnya.
Di ruang luyuk agung ini menurut Hijab, yang menjadi pusat perhatian pengunjung adalah ragam kain tenun dan songket khas NTB. Seperti motif Sumbawa, remawa, wayang, payung agung, sabuk umbak, sabuk antek, dan selendang yang memiliki ciri khas keindahan tersendiri.
Selain itu, replika senjata tradisional berupa keris khas NTB, di antaranya keris gayaman Lombok, pisau mone Bima, berok pendok togoan Sumbawa, pedang rajahan Lombok, keris lurus Lombok, berang Sumbawa, keris patung permata Lombok. “Keris legendaris dari Mbojo Bima bernama Sampari yaitu warisan kesultanan Bima jadi pusat perhatian,” jelasnya.
Masuk ke ruang tengah luyuk agung, yakni ruang peraduan Sultan bercengkarama keluarga kerajaan. Di ruangan ini tersaji diorama peragaan upacara adat mulai kelahiran hingga kematian.

Antara lain sebut Hijab, tata cara prosesi melahirkan suku samawa daerah Sumbawa, mulai saat sang ibu melahirkan dengan dibantu sandro (dukun beranak). Kemudian bayi dimandikan oleh sandro, diazankan oleh ayahnya, hingga berlanjut sang bayi diperkenalkan kepada ibundanya. Kemudian sang bayi ditidurkan dalam ayunan yang terbuat dari bambu.
Prosesi ngurisan atau aqiqah suku Sasak Lombok Tengah. Sang bayi digendong ayahnya, sampai kemudian diakhiri pemotongan rambut bayi oleh tokoh masyarakat yang disebut labai atau tuan guru.
Prosesi khitan dari Suku Sasak Lombok Timur, dimana bocah pria didudukkan di atas dipan didampingi ayahnya. Kemudian dilakukan proses oleh juru khitan.
Tata cara dan prosesi pernikahan atau nyorong dari suku Sasak Lombok Barat dilengkapi dengan tandu penganten dan dua orang dayang cantik di hadapan pelaminan.
Selain itu, lanjut dia, tersaji juga prosesi panati atau meminang dari suku Mbojo daerah Dompu. Dimulai dari rombongan keluarga calon mempelai pria datang disambut oleh keluarga calon mempelai wanita. Keduanya membicarakan lamaran.
Selanjutnya, prosesi pernikahan atau jambuta dari suku Mbojo daerah Bima. Ini diambil dari prosesi pernikahan penganti ASI atau pengantin bangsawan suku Mbojo.
“Keduanya bersanding di pelaminan, yang pria memakai baju pasangi dengan hiasan kasiger dan siki, dan wanitanya mengenakan baju poro berhias wange,” kata Hijab.
Di ruang ini, terdapat juga diorama sakramen menjelang penguburan dari suku Bayan Lombok Utara sebelum masuk ke agama Islam ke daerah tersebut.
Di ruang tengah, jelas Hijab, replika maupun benda asli mulai dari peralatan bertani masyarakat NTB, peralatan dapur dan rumah tangga. Kemudian di lantai atas kembar bangunan ini, beragam peralatan tradisional yaitu kerajinan tangan, topeng senanti Lombok Timur, alat tabuhan tradisional dan replika kuda Sumbawa hitam yang melambangkan pulau Sumbawa sebagai pemasok susu kuda liar.

Disampaikan Hijab, pintu masuk sebelah kanan ada replika tiga buah lumbung padi atau samba pantek. Ini pantek khas masyarakat Sasak Lombok lengkap dengan diorama kandang. Yakni tempat peristirahatan kuda beserta keretanya. Memelihara kuda itu ciri khas masyarakat NBT.
“Nah, kalau pantek itu untuk menyimpan hasil panen seperti gabah atau padi. Gabahnya disimpan di atas supaya tidak diganggu hama tikus. Di bawah pantek, itu bisa untuk tempat tinggal orang,” kata Hijab.
Kesan yang didapat saat berkunjung ke anjungan ini pastinya sangat luar biasa karena mengedepankan pengenalan masyarakat akan adat istiadat dan budaya lokal NTB. Bahkan gelaran tarian juga disuguhkan di panggung paduan rumah suku Sumbawa, Sasak dan Bima. Panggung ini berada di tengah-tengah area anjungan NTB.
Saban Sabtu-Minggu pukul 15.00-17.00 WIB, peserta sanggar Bumi Gora berlenggok menari khas NTB di atas panggung itu. Menurut Hijab, Gora artinya Gogo Rancan, dimana dahulu masyarakat Lombok menanam padi di lahan tandus, berbukit-bukit. Tanahnya dilubangi pakai kayu, lalu bibit padinya di masukkan ke lubang tersebut.
“Meskipun tanahnya tandus, tapi panen padinya bagus, dan Lombok jadi penghasil padi terbesar. Makanya di namakan Bumi Gora. Sanggar ini diharapkan bisa lestarikan tarian khas NTB membumi tak cuma di Indonesia tapi juga dunia,” tegas Hijab.
Disampaikan dia, pengunjung yang ingin menunaikan shalat bisa mengakses mushola dengan menara Masjid Bima yang tepatnya berada di sisi pintu masuk anjungan NTB.
Hijab menambahkan, bahwa anjungan ini kerap dikunjungi pelajar dan mahasiswa yang hendak belajar tentang seni budaya NTB. Mereka berkunjung untuk tugas sekolah. Bahkan wisatawan mancanegara ( wisman) juga banyak yang berkunjung untuk mengenal budaya dan adat istiadat serta tempat wisata di NTB.
“Sebulan 500 pengunjung lebih ya, mereka sangat antusias belajar seni budaya NTB, dan tanya-tanya tempat wisata,” pungkas Hijab.