Begasingan, Permainan Tradisional Lombok yang Mulai Ditinggalkan

LOMBOK — Begasingan, salah satu permainan tradisional masyarakat suku Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang cukup tua dan diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi.

Tapi seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, permainan tradisional begasingan mulai banyak ditinggalkan masyarakat, terutama anak – anak.

“Sekarang ini tidak banyak masyarakat, anak – anak suku Sasak Lombok yang mengenal permainan tradisional begasingan, kalaupun ada yang masih memainkan, hanya satu dua orang dan jarang ditemukan,” kata Salim, pemain dan pembuat gasing di Lombok, Minggu (21/1/2018).

Menurutnya, kebanyakan anak sekarang sudah lebih gandrung dengan permainan moderen seperti game, playstation dan sejumlah permainan tradisional lain.

Begasingan sendiri termasuk permainan tradisional yang bisa dimainkan masyarakat dari semua kalangan, mulai dari anak sampai orang dewasa, dengan bentuk dan ukuran bervariasi, dari berbentuk lonjong hingga pendek lebar, terbuat dari kayu.

“Mau anak maupun orang dewasa, semua bisa memainkan, karena termasuk permainan tradisional yang asik dan mudah dimainkan,” katanya.

Begasingan merupakan salah satu dari permainan yang mempunyai unsur seni dan olah raga, dan merupakan permainan yang tergolong cukup tua di masyarakat Sasak dan seringkali dimainkan dengan cara berkelompok.

Reman, pemain gasing Lombok lain mengenang bagaimana ketika dirinya masih usia anak sampai remaja bersama temannya, hampir setiap hari main gasing, mau di rumah maupun di halaman sekolah.

“Dulu main gasing paling seru dan ramai dimainkan bersama anak seusia saya, mau di rumah maupun di sekolah tetap kita main pantok, tapi kalau anak sekarang karena mainan sudah modern mungkin, makanya tidak banyak main gasing,” katanya.

Permainan ini biasanya dilaksanakan pada tempat atau lokasi yang kosong dimana saja bisa dilaksanakan atau diadakan tidak seperti permainan lain.

Ditambahkan, dalam melakukan permainan gasing sendiri ada aturan main, selain dilakukan berkelompok yang terdiri dari dari lima sampai sepuluh orang, dalam memainkan kelompok yang jadi pengoseq (pemutar) gasing yang gasing dipukul tidak boleh curang sampai memenangkan pertandingan pemutaran gasing.

“Gasing merupakan seni tradisional yang mencerminkan nuansa kemasyarakatan yang tetap berpegang pada petunjuk dan aturan yang berlaku di tempat permainan. Selalu mengedepankan kejujuran rasa saling menghormati dan rasa kebersamaan yang cukup kuat,” tandasnya.

Lihat juga...