Sanggar Bumi Gora Lestarikan Budaya NTB di TMII
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Gerakan lembut dengan sentuhan musik nuansa Islami, disajikan para bocah usia belia dalam balutan tari Siyer Male. Tarian khas Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memiliki fungsi sebagai upacara adat dan religi. Terlihat wajah-wajah polos itu menari dengan ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT.
Pemandangan itu tersaji di panggung Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB) Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (17/2/2019).
“Siyer Male adalah tari tradisi masyarakat Sumbawa dalam menyambut upacara Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Pelatih Sanggar Bumi Gora Diklat Seni Anjungan Nusa Tenggara Barat TMII, Triyono.
Dalam pelatihan, sanggar ini mengacu pada tarian tradisi dari tiga suku yang ada di NTB. Yaitu, suku Sasak di Lombok, suku Sumawa di pulau Sumbawa, dan suku Mbojo di Bima.
“Jadi, untuk pelatihan menari di sanggar ini, kita ambil tiga etnis itu,” ujar Tri, panggilannya.

Tari tradisi dari suku Sasak, Lombok, yaitu tari Oncer yang menggambarkan kisah keprajuritan. Walaupun yang menari perempuan saat latihan di sanggar ini, tapi menurutnya, tetap membawakan peran laki-laki.
Memang, jelas dia, di Lombok tarian Oncer ini bisa diperankan oleh perempuan dan laki-laki.
Selain tari Oncer, peserta sanggar juga belajar tari Gandrung, dan tari lainnya yang sudah dikreasikan. Ada pun tarian khas Sumbawa yang dipelajari adalah tari Nguri. Tarian ini berawal dari tradisi nguri yang dilakukan oleh masyarakat Sumbawa pada zaman dahulu.
Masyarakat memberikan semangat kepada raja yang sedang mengalami masalah atau bencana, melalui berbagai persembahan yang diberikannya.
Tradisi ini merupakan sebuah dukungan, penghormatan dan pengabdian masyarakat terhadap raja.”Tari Nguri ini berkisah persembahan pengabdian dan penghormatan masyarakat untuk kesultanan istana,” ujar Tri.
Menurut Tri, selain terdapat nilai historis di dalamnya, tarian ini memiliki berbagai nilai-nilai tentang kehidupan. Seperti kesopanan, keramahan, kelembutan dan bagaimana peran masyarakat terhadap pemimpin untuk menciptakan kesejahteraan bersama.
Selain tari Nguri, mereka juga diajarkan tari Siyer Male dan Dadara Boto. Ada pun tarian khas Bima adalah tari Lenggo.
Latihan tari khas NTB terdiri dari berbagai tingkatan. Untuk tingkat dasar ada dua tarian yang dipelari, yaitu tari Oncer dan Siyer Male.
Tingkat menengah belajar tarian khas Sumbawa dan Bima. Berlanjut latihan tari Lenggo dan Nguri, yang tingkat kesulitannya bertambah.
Kemudian tingkat madya, tarian yang diajarkan, yaitu Dadara Boto. Ada pun tingkat mahir adalah tari Gandrung.
Setiap enam bulan sekali, hasil latihan akan diujikan. Untuk ini sebagai penilaian layak tidaknya mereka naik kelas ke tingkat latihan berikutnya.

“Evaluasi atau ujian setiap enam bulan sekali menginduk ke TMII. Sanggar ini khusus pelatihan tari NTB di Jakarta, dan belum evaluasi mandiri, kami masih ikut ke TMII,” ujarnya.
Tri sangat bangga melihat antusias anak-anak berlatih menari khas NTB di Sanggar Bumi Gora. Anak didiknya, sangat menjiwai setiap gerakan tari yang diajarkan. Bahkan, mereka sangat mencintai tarian ini meskipun bukan berasal dari NTB.
“Anak-anak yang asli dari NTB paling dua orang, selebihnya dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka sangat antusias belajar nari khas NTB, dan diharapkan makin mencintai ragam budaya daerah,” tandasnya.
Mereka berlatih menari di Anjungan Nusa Tenggara Barat TMII, setiap Sabtu dan Jumat pukul 13.00-16.00 WIB. Mereka juga sering tampil di berbagai acara yang digelar TMII.
Sanggar Bumi Gora juga pernah tampil di Istana negara, kantor kementerian pariwisata, mal dan ke luar kota. Seperti di Surabaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumaera Utara, Lampung, Riau, Jambi, dan kota lainnya.
Sanggar Bumi Gora berdiri sejak 1991. Pesertanya tercatat sudah mencapai ratusan orang, berasal dari berbagai daerah dan sekolah di sekitar Jakarta.
Nama Bumi Gora, jelas dia, mengambil istilah Gora atau Gogo Rancah, yang melejit di masa pemerintahan Presiden Soeharto, dengan sebutan NTB sebagai Bumi Gora, tepatnya pada 1988.
Dahulu, masyarakat Lombok menanam padi di lahan tandus, berbukit-bukit. Tanahnya dilubangi pakai kayu, lalu bibit padinya dimasukkan ke lubang tersebut.
Meskipun tanahnya tandus, tapi panen padinya bagus. Lombok pun menjadi penghasil padi terbesar. Kemudian Lombok dinamakan Bumi Gora.
“Sanggar Bumi Gora ini diharapkan bisa melestarikan budaya khas NTB lebih membumi di seluruh Indonesia dan dunia,” ujar pria kelahiran 46 tahun, tersebut.
Tri berharap, ke depan TMII lebih banyak iven yang melibatkan diklat seni setiap anjungan. Seperti halnya di zaman pemakarsa TMII, Ibu Tien Soeharto dan Pak Harto. Yang banyak melibatkan diklat-diklat seni anjungan tampil bareng dalam sebuah acara.
“Zaman Ibu Tien dan Pak Harto, kegiatan seni banyak ada kolaborasi tampil bareng antarsanggar. Kalau sekarang, jarang. Ya, memang sih masih ada, tapi jarang,” tukasnya.
Tri mengaku sangat kagum dengan sosok Ibu Tien Soeharto yang memiliki ide cemerlang membangun TMII. Yakni, sebuah wahana rekreasi pemersatu Indonesia dengan keragaman budaya daerah.
“Semua budaya daerah ada di TMII. Karena di TMII, kalau kita lihat setiap hari ada saja kegiatan di anjungan lagi latihan nari. Jadi, kelihatan sekali ragam budayanya. Ini tercipta berkat ide cemerlang Ibu Tien Soeharto untuk lestarikan budaya bangsa,” pungkasnya.