Belajar Sejarah Budaya Papua di TMII

JAKARTA — Penanggung Jawab Anjungan Papua Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sergius Wabiser mengatakan, pelestarian budaya nusantara sangat bermanfaat bagi keutuhan bangsa dan negara.

“TMII ini wahana untuk pelestarian budaya dan edukasi seni budaya bangsa. Maka miniatur setiap anjungan daerah memiliki fungsi mempromosikan dan melestarikan budaya daerahnya. Ya seperti anjungan Papua ini,” kata Sergius kepada Cendana News saat ditemui di anjungan Papua TMII, Jakarta, Minggu (7/1/2018).

Penanggungjawab Anjungan Papua TMII, Sergius Wabiser. Foto: Sri Sugiarti.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Anjungan Papua TMII ini menampilkan bangunan utama bernama Kariwari dari suku Tobati Enggros. Rumah ini berbentuk kerucut tinggi ke atas di keliling danau buatan dengan diorama perahu Asmat, yang ditungangi delapan orang pria suku Asmat.

“Kariwari ini bukan rumah tinggal. Ini tempat menyimpan benda-benda yang sifatnya sakral warusan nenek moyang. Rumah ini adanya di daerah Danau Sentani di Jayapura,” kata Sergius.

Rumah Kariwari ini, sebut dia, berlantai dua dengan menampilkan berbagai replika dan benda-benda asli suku-suku di Papua. Dilantai satu tersaji salah satu benda asli yaitu ‘Mbis’. “Mbis ini patung arwah milik suku Asmat. Patung ini karya asli suku Asmat,” kata Sergius.

Disampaikan dia, terkait seni ukir di Papua, hanya ada lima suku yang menghasilkan ukiran-ukiran bernilai seni tinggi. Yaitu, suku Asmat, Sentani, Kamoro, dan Serui.

Adapun jelas Sergius, kekhasan ukiran Asmat yaitu tersusun besar, bisa disentuh dalam berbagai sisi. Untuk permainan warnapun hanya putih, hitam, dan merah.

Sedangkan suku Serui, cenderung ukirannya kecil-kecil, dengan detail permainan warna ragam gabungan. Suku Sentani memiliki ciri khas ukiran bermotif hewan.

Sergius pun mencontohkan, alat musik tifa milik suku Sentani bentuknya lebar, pendek, dan memiliki pegangan tangan berbentuk ukiran hewan kadal. Sedangkan untuk suku Kamoro cenderung sama dengan ukiran suku Asmat. Di lantai satu ini juga tersaji hiasan burung kasuari yang diawetkan.

Berlanjut ke lantai dua. Tersaji diorama upacara inisiasi pendewasaan yakni sebut Sergius, dimana setiap anak laki-laki di usia akil balik yaitu 13-14 tahun. Dipisahkan dari orangtuanya, kemudian digembleng fisik maupun mental hingga menjadi pemuda dewasa yang gagah berani dan tangguh.

Adapun, jelas dia, gelaran upacara ini adalah dua orang dukun dengan topeng menyeramkan, menelungkupkan seorang anak remaja laki-laki Papua. Lalu melukai punggungnya dengan kayu tajam kemudian disembuhkan lagi dengan obat tradisional.

“Makna upacara ini adalah darah yang keluar dari anak laki-laki tersebut. Ibarat mengeluarkan nyawa masa kanak-kanaknya, untuk kehidupan masa depan lebih baik,” jelasnya.

Sedangkan, kata dia, obat-obatan atau mantera dari dukun untuk menyembuhkan luka punggung anak laki-laki tersebut, adalah dengan tanda memasukkan jiwa baru kedalam diri anak tersebut. Topeng yang dikenakan para dukun sebagai penguji mental keberanian seorang laki-laki.

Diorama upacara inisiasi pendewasaan anak-anak laki Papua di lantai dua Anjungan Papua TMII. Foto: Sri Sugiarti

Di lantai ini, pengungung dapat melihat diorama mummi atau mayat yang diawetkan. Yang mengenalkan Mummi ini, kata Sergius, adalah suku Dani Lembah Baliem, daerah pegunungan Jayawijaya. “Diorama mummi ini daya tarik pengunjung, kalau datang ke sini mereka pasti tanyakan mummi,” ujarnya.

Dijelaskan dia, prosesi adat mummi ini dikhususkan bagi jasad pemuka atau kepala adat suku yang telah meninggal dengan tujuan agar rohnya tetap dekat dan selalu melindungi keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

Adapun prosesi pembuatannya, lanjut Sergius, yaitu mayat setelah diatur posisinya, diletakkan di atas panggung kemudian diasapi terus menerus.

Di sebelah diorama mummi juga terdapat korwar khas suku Biak. Yakni, patung kayu tempat menyimpan tengkorak leluhur sebagai benda pemujaan perwujudan roh nenek moyang.

Selain Kariwari, pengunjung juga bisa berfoto di replika pemukiman suku Dani Lembah Baliem, yang bernama Sili. Replika pemukiman ini berada di sebelah kiri pintu masuk anjungan Papua TMII.

Area pemukiman ini menurut Sergius, ditampilkan seperti aslinya, dilengkapi dengan tumpukan batu ditengah sebagai tanda upaya bakar batu milik suku Dani yang sudah terkenal hingga ke luar negeri.

Sedangkan di samping kiri Kariwari terdapat bangunan panjang dari suku Biak, bernama Rumseram. “Ini rumah tinggal untuk keluarga besar. Desain rumahnya panjang ini buat kamar-kamar,” ujarnya.

Sergius mengatakan, pihaknya akan terus mengadakan promosi Papua dengan mengelar berbagai acara tidak hanya dari hasil kreasi seni budaya saja. Tapi juga promosi lainnya, seperti tari-tarian papua, promosi wisata, ukiran-ukiran asmat dan juga informasi keberhasilan pembangunan di Provinsi Papua.

Terkait promosi pariwisata, jelas dia, pengunjung bisa bertanya di anjungan ini tentang tempat-tempat wisata di Papua. Misalkan kata dia, pengunjung mau ke Jayapura, ada suku-suku apa saja disana akan dijelaskan detail. Begitu juga jalur transportasinya, dari mulai berapa lama naik pesawat dan berapa biayanya.

“Banyak orang yang mau ke Jayapura, tanya-tanya ke sini. Mereka studi banding. Anjungan Papua ini juga kerap dijadikan bahan riset mahasiswa dan turis asing,” ungkap Sergius.

Promosi lainnya, kata dia, pihaknya selalu mengelar paket khusus setahun sekali juga gelaran seni pertiga bulan sekali.

Pengunjung mengenakan busana Papua dan alat perang Papua di pemukiman suku Dani di area Anjungan Papua TMII, Jakarta, Minggu (7/1/2018) sore. Foto : Sri Sugiarti.

Adapun harapan Sergius, adalah agar anjungan Papua ini segera direnovasi mengingat sudah banyak yang rusak. Termasuk menambah beberapa destinasi budaya atau objek pariwisata unggulan daerah, seperti di Papua itu ada sarang semut.

“Sarang semut belum dibawa ke anjungan Papua, diharapkan nanti ada ya. Ada juga pengunjung yang menyarankan untuk memelihara hewan khas daerah Papua. Tapi tidak boleh karena di area TMII ini sudah ada taman burung,” pungkas pria lulusan fakultas Hukum universitas swasta di Jakarta.

Lihat juga...