Militer Sudan Selatan Tewaskan 92 Gerilyawan dalam Bentrokan Baru
JUBA — Seorang pejabat senior Sudan Selatan pada Jumat (1/12) mengkonfirmasi bahwa lebih dari 92 pemberontak telah tewas oleh militer (SPLA) dalam pertempuran baru di Kota kecil Leer, yang bergolak, di Negara Bagian Liech Selatan.
Menteri Penerangan Sudan Selatan Michael Makuei mengatakan kepada wartawan bahwa SPLA-yang beroposisi (pemberontak), yang berada di bawah Wakil I Presiden Riek Machar, menderita kerugian besar setelah mereka menyerang tentara pemerintah pada Kamis.
“Ada serangan terhadap Leer oleh pemberontak pada Kamis dan dalam serangan itu di pihak pemberontak banyak korban jiwa, sebab mereka adalah pihak yang melakukan serangan ketika pasukan kami berada di pihak yang bertahan. Menurut laporan yang kami terima, mereka menderita banyak korban jiwa yang bertambah jadi hampir 92,” kata Makuei di Ibu Kota Sudan Selatan, Juba.
Bentrokan paling akhir tersebut terjadi setelah satu pekan pertempuran pada akhir Oktober, yang menewaskan 22 pemberontak di Wilayah Rup-Kuai, demikian laporan Xinhua –yang dipantau di Jakarta, Sabtu pagi (2/12/2017).
Makuei mengungkapkan pemberontak menyerang tentara pemerintah di parit mereka, tapi pemberontak membantah pernyataan tersebut.
“Pasukan kami tidak memberi mereka memburu mereka sejalan dengan instruksi presiden mengenai penghentian permusuhan. Pasukan kami telah memutuskan untuk tetap berada di parit pertahanan mereka dan menunggu siapa pun yang menyerang mereka dan mereka akan mempertahankan diri mereka,” kata Makuei.
Namun, Wakil Juru Bicara pemberontak Kol. Lam Paul Gabriel mengatakan SPLA menyerang mereka lebih dulu di Daerah Gandour di Leer, sebelum mereka dipukul mundur.
“SPLA (IO) telah bisa mempertahankan posisi sebelumnya dan memukul mundur pasukan musuh, dan mereka meninggalkan 53 mayat rekan mereka dan 93 orang yang cedera. Kami kehilangan lima pahlawan dan empat lagi menderita luka ringan,” kata Gabriel.
Ia juga mengatakan pasukan pemerintah yang mengaku mematuhi gencatan senjata melancarkan agresi.
Sudan Selatan terperosok ke dalam kerusuhan pada Desember 2013, setelah pertikaian politik antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya yang berubah menjadi pemimpin pemberontak Riek Machar mengakibatkan SPLA terpecah, sehingga tentara terlibat pertempuran setelah terpecah berdasarkan garis etnik.
Kesepakatan perdamaian untuk mengakhiri konflik itu membuat lemah setelah meletusnya pertempuran baru pada Juli 2016, peristiwa yang membuat Machar melarikan diri dari ibu kota Sudan Selatan.[Ant]